Langsung ke konten utama

Indra Rahayu - Kongkalikong

 

Di bawah lampu redup, dalam sangkar yang tergantung di halaman rumah, burung berbulu indah itu tercenung. Menatap gelap langit, cahaya bulan bersembunyi di balik awan malam itu. Hanya terdengar suara kentungan, yang dibunyikan untuk menandai bahwa waktu sudah pukul dua dini hari.

 

“Esok, aku ingin orang yang memeliharaku hilang ingatan dan lupa bahwa ia memiliki burung yang cantik.” Bergumam, keinginannya untuk mati meluap. Ia tak pernah benar-benar ingin meninggalkan tubuh indahnya. Namun, ironi yang diderita akan lebih indah jika burung itu mati karena dilupakan.

 

-

 

Sial, aku terbangun lagi. Aku membenci ketika mataku terbuka di setiap pagi, dan apa yang kulihat dalam terjaga adalah dunia yang berisi orang-orang gila. Cahaya pagi menyuruk, mengampiri mataku. Memaksa untuk beranjak dari tempat tidur. Aku tak mau pergi dari tempat ini, biar debu-debu dari setiap sudut ruangan ini terus kuhirup, aku menunggu sampai benar-benar sesak. Kemudian, bisa ikut melayang bersama debu-debu itu,  entah ke mana, tetapi aku ingin melayang sampai ke tempat Tuhan.

 

Mengapa orang-orang itu tak mau berhenti untuk bertanya, dan mengeluarkan segala omong kosong tentangku dan bajingan itu. “bagaimana hubunganmu dengan Toni? Kau harus terbiasa memulai percakapan jika bertemu dengannya.”  Orang tua itu melantur sambil mengunyah potongan daging. Mereka berharap aku melakukan itu. Namun, akan kuingatkan kalian, bahwa itu semua mustahil. Tak akan pernah terjadi. Tak sepatah kata pun mencuat dari mulutku. Tatap mataku sudah cukup menjawab pertanyaan itu. Usai menyantap sarapan pagi, aku segera pergi ke bahu jalan. Seperti biasa, sebelum mematung di bahu jalan untuk menunggu angkutan, aku berjalan cukup jauh. Omong kosong yang kudengar di meja makan itu, orang tuaku sangat ingin segera beranjak dari rumah itu dan beralih ke tempat yang lebih nyaman. Nahas, ia tak berusaha sendiri, tetapi meminta petolongan orang lain.

 

Selalu saja di kepalaku terbesit hal-hal konyol, kuharap angkutan umum yang kutumpangi mengantarku ke surga.  Banyak orang bilang, surga itu tempat yang indah. Aku bisa mendapatkan segala yang diinginkan. Jika kau berpikir aku menginginkan perhiasan, buang jauh-jauh pikiran itu. Aku hanya meminta tak pernah bertemu dengan mereka lagi. Selepas larut dalam khayalan, aku menuruni kendaraan dengan pijakkan yang penuh ketakutan.

 

Bajingan itu bukan kawan sekelasku, ia berada di kelas lain. Terletak di samping tangga yang kunaiki untuk sampai ke kelas. Walaupun bukan di kelas yang sama. Aku tak bisa menghindari tatapan dari orang itu. Ia biasa memandangku penuh nafsu, bagai anjing liar kelaparan yang menjumpai mangsanya. Yang lebih memuakkan, suitan yang keluar dari mulut busuknya, sangatlah mengacaukan hariku. Telapak tangan lembutku pantang digunakan menutup mulut para anjing dan kawanannya. Kelak, tangan Tuhan yang akan menutup mulut mereka.

 

_

Menjadi pemangku nasib keluarga, ayahku bergelut di sebuah pabrik yang didirikan oleh seorang pengusaha kikir. Namun, tidak pada ayahku. Pengusaha itu mengincar sesuatu darinya. Sesekali ia mengantar ayahku pulang. Hanya untuk menemuiku, dan menanyakan kabar. Ialah pemilik anjing dengan suitan yang selalu kudengar di dekat tangga sekolah. Tangan legam itu terpaksa kucium, ayah bilang, aku harus menunjukkan sopan santun kepadanya.

 

Sempat pada suatu malam, aku menguping pembicaraan mereka di balik dinding. Apa yang mereka katakan menusuk daun telingaku. Dengan perangai yang tampak serius, sangat jauh dari sebuah gurauan. Aku terperanjat ketika mendengar pria tua berkulit legam itu menginginkanku untuk bersanding dengan putranya. Pikiran bodoh macam apa, ia mendorong putranya untuk segera meminang seorang wanita, tanpa pernah memikirkan situasi yang ada. Serasa kembali pada masa lalu, anak perempuan segera ditikahkan tatkala di usia  remaja. Rasanya di zaman ini tak mesti terjadi lagi.

 

Ini tak kalah konyol dari khyalanku ketika berada di angkutan umum. Ayahku serupa bunga putri malu, hatinya terketuk dengan janji yang diucap pria itu. Ia akan mewujudkan keinginan ayahku jika aku menerima putranya. Amarahku menjalar ke seluruh tubuh, genderang di kepalaku kian membising. Saat itu juga lekas pergi ke tempat ternyatamanku, kembali menghirup debu-debu di sana.

 

Pria kikir itu beranjak dari rumahku, ia melirik sangkar burung yang tergantung. Ia berseru dengan tawa “Burung ini sangat indah. Putrimu pun begitu.”

 

-

 

Perbincangan mereka bersarang di kepalaku, sempat dinding itu beradu dengan kepalku. Aku ingin memecahkannya sekarang, lalu datang menumi orang kikir itu dan anaknya tanpa kepala. Kendati sebesar apa pun keinginanku untuk menghindari kekacauan, ini tak bisa lagi dielakkan. Waktunya telah tiba, tiga bulan setelah perpisahan sekolah, orangtuaku dan pria kikir itu menentukan tanggal pernikahan putra-putrinya. Orang-orang gila yang ngebet mati-matian untuk ambisi mereka. Ayahku berkata “Dina, kau tak perlu lagi menyusuri gang itu dan ada seorang sopir yang sedia membawamu ke mana pun.”

 

Mata tak henti terbelalak, tengah malam, aku masih terjaga. Bencana ini menahanku pergi ke alam mimpi.

 

Selang beberapa menit, cahaya di balik lemari itu menyeruak. Seraya tangan berkulit cerah itu seperti ingin mencengkram. Namun, ternyata tangan itu mengusap rambutku dengan lembut, lalu menjentikkan jari. Mendengar suara jentikkan itu, kelopak mataku yang sedari tadi tak mau menutup, akhirnya luluh. Aku begitu yakin, tangan itu bukanlah milik ayahku atau milik pria kikir itu.

 

-

 

“berisik… mengetuk pintu tak perlu sekeras itu.”

 

Seseorang membuka pintu kamarku, itu ayah. Ia mencoba membangunkanku, tetapi aku tetap bergeming. Selimut yang menutupi tubuhku tersingkap. Ayahku tak mengatakan apa pun setelah melihat botol kecil berisi racun terpangku di telapak tanganku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Fantasi: Penyihir Licik - Siti Latifah

Pada suatu hari,  di hutan belantara hiduplah dua penyihir cantik bernama Veni dan Suri, Suri memiliki kekuatan yang begitu besar jauh di atas kemampuan Veni. Suatu hari, Veni menyadari bahwa kekuatannya sangatlah lemah, sehingga dia tidak terima dengan kenyataan itu, dia iri akan kekuatan Suri yang sangat besar dan berniat jahat kepadanya. Suatu hari, Veni mengajak Suri untuk pergi ke gunung untuk menguji kekuatan mereka karena setiap tahun naga mereka akan menguji kekuatan mereka untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penyihir terhebat di dunia, tak disangka Veni telah menyiapkan perangkap untuk Suri di atas gunung adalah sebuah kuali yang bolong dan buku yang salah, sehingga ketika Suri ingin meracik kekuatannya dia akan gagal karena terbuang keluar dari kuali dan gagal mengikuti ujian tersebut. Karena kekuatan Suri lebih hebat dari pada Veni, Suri telah menyadari hal tersebut terlebih dahulu dan diam-diam menambal kuali tersebut dengan kekuatan fantastis dan dia tidak m...

Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025 - Anindhia Ramadhani

Suryalaya, (KANSAS).-   Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan acara diseminasi yang bertempat di hotel Grand Metro, Kota Tasikmalaya pada hari Senin, (13/10/2025).  Acara tersebut dihadiri oleh anggota DPR RI Komisi X  Bapak Ferdiansyah, SE., MM., Sekretaris Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bapak  Dr. Ganjar Harimansyah, S.S. M.Hum. dan Ibu Dr. Herawati, S.S., M.A. sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat . Acara ini diselenggarakan dengan tujuan menguatkan literasi kebahasaan dan kesusastraan guru-guru, dosen, pelajar, dan para pegiat literasi di Kota Tasikmalaya. Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025” membuka pandangan baru tentang pentingnya peran bahasa dan literasi di tengah derasnya arus globalisasi. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas dan jati diri bangsa. Namun, di era digital yang serba cepat, kesadaran masyarakat—terutama generasi muda—terhadap pentingnya literasi...