Di bawah lampu redup, dalam sangkar yang tergantung di halaman rumah, burung berbulu indah itu tercenung. Menatap gelap langit, cahaya bulan bersembunyi di balik awan malam itu. Hanya terdengar suara kentungan, yang dibunyikan untuk menandai bahwa waktu sudah pukul dua dini hari.
“Esok, aku ingin orang yang memeliharaku hilang ingatan dan lupa bahwa ia
memiliki burung yang cantik.” Bergumam, keinginannya untuk mati meluap. Ia tak
pernah benar-benar ingin meninggalkan tubuh indahnya. Namun, ironi yang
diderita akan lebih indah jika burung itu mati karena dilupakan.
-
Sial, aku terbangun lagi. Aku membenci ketika mataku terbuka di setiap
pagi, dan apa yang kulihat dalam terjaga adalah dunia yang berisi orang-orang
gila. Cahaya pagi menyuruk, mengampiri mataku. Memaksa untuk beranjak dari
tempat tidur. Aku tak mau pergi dari tempat ini, biar debu-debu dari setiap
sudut ruangan ini terus kuhirup, aku menunggu sampai benar-benar sesak. Kemudian, bisa
ikut melayang bersama debu-debu itu,
entah ke mana, tetapi aku ingin melayang sampai ke tempat Tuhan.
Mengapa orang-orang itu tak mau berhenti untuk bertanya, dan mengeluarkan
segala omong kosong tentangku dan bajingan itu. “bagaimana hubunganmu dengan
Toni? Kau harus terbiasa memulai percakapan jika bertemu dengannya.” Orang tua itu melantur sambil mengunyah
potongan daging. Mereka berharap aku melakukan itu. Namun, akan kuingatkan
kalian, bahwa itu semua mustahil. Tak akan pernah terjadi. Tak sepatah kata pun
mencuat dari mulutku. Tatap mataku sudah cukup menjawab pertanyaan itu. Usai
menyantap sarapan pagi, aku segera pergi ke bahu jalan. Seperti biasa, sebelum
mematung di bahu jalan untuk menunggu angkutan, aku berjalan cukup jauh. Omong
kosong yang kudengar di meja makan itu, orang tuaku sangat ingin segera
beranjak dari rumah itu dan beralih ke tempat yang lebih nyaman. Nahas, ia tak
berusaha sendiri, tetapi meminta petolongan orang lain.
Selalu saja di kepalaku terbesit hal-hal konyol, kuharap angkutan umum yang
kutumpangi mengantarku ke surga. Banyak
orang bilang, surga itu tempat yang indah. Aku bisa mendapatkan segala yang
diinginkan. Jika kau berpikir aku menginginkan perhiasan, buang jauh-jauh
pikiran itu. Aku hanya meminta tak pernah bertemu dengan mereka lagi. Selepas
larut dalam khayalan, aku menuruni kendaraan dengan pijakkan yang penuh
ketakutan.
Bajingan itu bukan kawan sekelasku, ia berada di kelas lain. Terletak di
samping tangga yang kunaiki untuk sampai ke kelas. Walaupun bukan di kelas yang
sama. Aku tak bisa menghindari tatapan dari orang itu. Ia biasa memandangku
penuh nafsu, bagai anjing liar kelaparan yang menjumpai mangsanya. Yang lebih
memuakkan,
suitan yang keluar dari mulut busuknya, sangatlah mengacaukan hariku. Telapak
tangan lembutku pantang digunakan menutup mulut para anjing dan kawanannya.
Kelak, tangan Tuhan yang akan menutup mulut mereka.
_
Menjadi pemangku nasib keluarga, ayahku bergelut di sebuah pabrik yang
didirikan oleh seorang pengusaha kikir. Namun, tidak pada ayahku. Pengusaha itu
mengincar sesuatu darinya. Sesekali ia mengantar ayahku pulang. Hanya untuk
menemuiku, dan menanyakan kabar. Ialah pemilik anjing dengan suitan yang selalu
kudengar di dekat tangga sekolah. Tangan legam itu terpaksa kucium, ayah
bilang, aku harus menunjukkan sopan santun kepadanya.
Sempat pada suatu malam, aku menguping pembicaraan mereka di balik dinding. Apa
yang mereka katakan menusuk daun telingaku. Dengan perangai yang tampak serius,
sangat jauh dari sebuah gurauan. Aku terperanjat ketika mendengar pria tua
berkulit legam itu menginginkanku untuk bersanding dengan putranya. Pikiran
bodoh macam apa, ia mendorong putranya untuk segera meminang seorang wanita,
tanpa pernah memikirkan situasi yang ada. Serasa kembali pada masa lalu, anak
perempuan segera ditikahkan tatkala di usia
remaja. Rasanya di zaman ini tak mesti terjadi lagi.
Ini tak kalah konyol dari khyalanku ketika berada di angkutan umum. Ayahku
serupa bunga putri malu, hatinya terketuk dengan janji yang diucap pria itu. Ia
akan mewujudkan keinginan ayahku jika aku menerima putranya. Amarahku menjalar
ke seluruh tubuh, genderang di kepalaku kian membising. Saat itu juga lekas
pergi ke tempat ternyatamanku, kembali menghirup debu-debu di sana.
Pria kikir itu beranjak dari rumahku, ia melirik sangkar burung yang
tergantung. Ia berseru dengan tawa “Burung ini sangat indah. Putrimu pun
begitu.”
-
Perbincangan mereka bersarang di kepalaku, sempat dinding itu beradu dengan
kepalku. Aku ingin memecahkannya sekarang, lalu datang menumi orang kikir itu
dan anaknya tanpa kepala. Kendati sebesar apa pun keinginanku untuk menghindari
kekacauan, ini tak bisa lagi dielakkan. Waktunya telah tiba, tiga bulan setelah
perpisahan sekolah, orangtuaku dan pria kikir itu menentukan tanggal pernikahan
putra-putrinya. Orang-orang gila yang ngebet mati-matian untuk ambisi mereka. Ayahku
berkata “Dina, kau tak perlu lagi menyusuri gang itu dan ada seorang sopir yang
sedia membawamu ke mana pun.”
Mata tak henti terbelalak, tengah malam, aku masih terjaga. Bencana ini
menahanku pergi ke alam mimpi.
Selang beberapa menit, cahaya di balik lemari itu menyeruak. Seraya tangan
berkulit cerah itu seperti ingin mencengkram. Namun, ternyata tangan itu
mengusap rambutku dengan lembut, lalu menjentikkan jari. Mendengar suara
jentikkan itu, kelopak mataku yang sedari tadi tak mau menutup, akhirnya luluh.
Aku begitu yakin, tangan itu bukanlah milik ayahku atau milik pria kikir itu.
-
“berisik… mengetuk pintu tak perlu sekeras itu.”
Seseorang membuka pintu kamarku, itu ayah. Ia mencoba membangunkanku, tetapi aku tetap bergeming. Selimut yang menutupi tubuhku tersingkap. Ayahku tak mengatakan apa pun setelah melihat botol kecil berisi racun terpangku di telapak tanganku.
Komentar
Posting Komentar