Langsung ke konten utama

Cerita Fantasi: Penyihir Licik - Siti Latifah



Pada suatu hari,  di hutan belantara hiduplah dua penyihir cantik bernama Veni dan Suri, Suri memiliki kekuatan yang begitu besar jauh di atas kemampuan Veni. Suatu hari, Veni menyadari bahwa kekuatannya sangatlah lemah, sehingga dia tidak terima dengan kenyataan itu, dia iri akan kekuatan Suri yang sangat besar dan berniat jahat kepadanya.

Suatu hari, Veni mengajak Suri untuk pergi ke gunung untuk menguji kekuatan mereka karena setiap tahun naga mereka akan menguji kekuatan mereka untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penyihir terhebat di dunia, tak disangka Veni telah menyiapkan perangkap untuk Suri di atas gunung adalah sebuah kuali yang bolong dan buku yang salah, sehingga ketika Suri ingin meracik kekuatannya dia akan gagal karena terbuang keluar dari kuali dan gagal mengikuti ujian tersebut.

Karena kekuatan Suri lebih hebat dari pada Veni, Suri telah menyadari hal tersebut terlebih dahulu dan diam-diam menambal kuali tersebut dengan kekuatan fantastis dan dia tidak memerlukan buku itu karena semua mantra sudah di luar kepala. Di perjalanan Veni sangat optimis kalau dialah yang akan menang karena setelah Suri gagal, pastinya dia yang akan diangkat menjadi penyihir terhebat di dunia. Sesampainya di atas mereka pun memulai pengujian tersebut. Mereka pun memulainya dengan tenang. Singkat waktu, Suri telah selesai terlebih dahulu dengan cepat dan sempurna, sedangkan kuali Veni meledak karena kekuatan yang Veni keluarkan tidak sesuai dengan aliran tenaganya karena Veni salah membaca mantra di buku tersebut.

Veni pun bersedih karena dia selalu gagal dari Suri, “Kenapa aku selalu gagal darimu padahal aku telah belajar dengan giat?” ucap Veni sesenggukan.

“Veni... Jangan bersedih aku tahu kamu bisa, kamu hanya perlu menstabilkan aliran kekuatanmu saja, dan kalau kamu tidak paham kamu bisa kok bertanya kepadaku, kita kan di takdir kan menjadi penyihir hebat, iya kan?“ Ucap Suri menenangkan Veni, ”Tapi kenapa selalu aku yang gagal? Kenapa tidak kau saja? padahal aku yang lebih dulu bisa sihir kau itu hanya anak baru di mataku!” Ucap Veni sambil meluapkan emosinya.

”Ya aku tahu kalau kau yang lebih dulu bisa sihir tapi coba kau pikirkan sihir itu berasal dari hati dan pemikiran pemiliknya, kalau kau hanya berpikir aku lebih beruntung, kau salah Veni biarkan pikiranmu terus mengalir untuk lebih hebat bukan untuk menandingiku dan kalau kau tidak mengerti sesuatu kau bisa menanyakannya kapan pun kau mau Veni, apakah kau pernah bertanya padaku sebelumnya? Sekarang kau tahu kan kesalahanmu di mana?” Ucap Suri dengan tenang.

Veni pun menyadari kalau yang dilakukan itu ternyata salah dan yang dia pikirkan bagaimana menjatuhkan Suri. Semenjak itu, Veni terus belajar mengikuti arahan Suri, dan Veni menyadari bahwa kalau kita tidak bisa atau tidak mengerti maka jangan malu untuk bertanya karena kalau kita malu untuk bertanya maka kita akan sesat di jalan.

Hasrat untuk menjatuhkan orang lain atau senang apabila ada yang mengalami masalah adalah kesia-siaan bagi seorang manusia. Menelurusi kekurangan diri akan membawa manusia pada kemujuran.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indra Rahayu - Kongkalikong

  Di bawah lampu redup, dalam sangkar yang tergantung di halaman rumah, burung berbulu indah itu tercenung. Menatap gelap langit, cahaya bulan bersembunyi di balik awan malam itu. Hanya terdengar suara kentungan, yang dibunyikan untuk menandai bahwa waktu sudah pukul dua dini hari.   “Esok, aku ingin orang yang memeliharaku hilang ingatan dan lupa bahwa ia memiliki burung yang cantik.” Bergumam, keinginannya untuk mati meluap. Ia tak pernah benar-benar ingin meninggalkan tubuh indahnya. Namun, ironi yang diderita akan lebih indah jika burung itu mati karena dilupakan.   -   Sial, aku terbangun lagi. Aku membenci ketika mataku terbuka di setiap pagi, dan apa yang kulihat dalam terjaga adalah dunia yang berisi orang-orang gila. Cahaya pagi menyuruk, mengampiri mataku. Memaksa untuk beranjak dari tempat tidur. Aku tak mau pergi dari tempat ini, biar debu-debu dari setiap sudut ruangan ini terus kuhirup, aku menunggu sampai benar-benar sesak. Kem u dian,...

Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025 - Anindhia Ramadhani

Suryalaya, (KANSAS).-   Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan acara diseminasi yang bertempat di hotel Grand Metro, Kota Tasikmalaya pada hari Senin, (13/10/2025).  Acara tersebut dihadiri oleh anggota DPR RI Komisi X  Bapak Ferdiansyah, SE., MM., Sekretaris Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bapak  Dr. Ganjar Harimansyah, S.S. M.Hum. dan Ibu Dr. Herawati, S.S., M.A. sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat . Acara ini diselenggarakan dengan tujuan menguatkan literasi kebahasaan dan kesusastraan guru-guru, dosen, pelajar, dan para pegiat literasi di Kota Tasikmalaya. Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025” membuka pandangan baru tentang pentingnya peran bahasa dan literasi di tengah derasnya arus globalisasi. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas dan jati diri bangsa. Namun, di era digital yang serba cepat, kesadaran masyarakat—terutama generasi muda—terhadap pentingnya literasi...