Pada suatu hari, di hutan belantara hiduplah dua penyihir cantik bernama Veni dan Suri, Suri memiliki kekuatan yang begitu besar jauh di atas kemampuan Veni. Suatu hari, Veni menyadari bahwa kekuatannya sangatlah lemah, sehingga dia tidak terima dengan kenyataan itu, dia iri akan kekuatan Suri yang sangat besar dan berniat jahat kepadanya.
Suatu hari, Veni mengajak Suri untuk pergi ke gunung untuk menguji
kekuatan mereka karena setiap tahun naga mereka akan menguji kekuatan mereka
untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penyihir terhebat di dunia, tak
disangka Veni telah menyiapkan perangkap untuk Suri di atas gunung adalah
sebuah kuali yang bolong dan buku yang salah, sehingga ketika Suri ingin
meracik kekuatannya dia akan gagal karena terbuang keluar dari kuali dan gagal
mengikuti ujian tersebut.
Karena kekuatan Suri lebih hebat dari pada Veni, Suri telah menyadari
hal tersebut terlebih dahulu dan diam-diam menambal kuali tersebut dengan
kekuatan fantastis dan dia tidak memerlukan buku itu karena semua mantra sudah
di luar kepala. Di perjalanan Veni sangat optimis kalau dialah yang akan menang
karena setelah Suri gagal, pastinya dia yang akan diangkat menjadi penyihir
terhebat di dunia. Sesampainya di atas mereka pun memulai pengujian tersebut. Mereka
pun memulainya dengan tenang. Singkat waktu, Suri telah selesai terlebih dahulu
dengan cepat dan sempurna, sedangkan kuali Veni meledak karena kekuatan yang Veni
keluarkan tidak sesuai dengan aliran tenaganya karena Veni salah membaca mantra
di buku tersebut.
Veni pun bersedih karena dia selalu gagal dari Suri, “Kenapa aku selalu
gagal darimu padahal aku telah belajar dengan giat?” ucap Veni sesenggukan.
“Veni... Jangan bersedih aku tahu kamu bisa, kamu hanya perlu
menstabilkan aliran kekuatanmu saja, dan kalau kamu tidak paham kamu bisa kok
bertanya kepadaku, kita kan di takdir kan menjadi penyihir hebat, iya kan?“ Ucap
Suri menenangkan Veni, ”Tapi kenapa selalu aku yang gagal? Kenapa tidak kau
saja? padahal aku yang lebih dulu bisa sihir kau itu hanya anak baru di
mataku!” Ucap Veni sambil meluapkan emosinya.
”Ya aku tahu kalau kau yang lebih dulu bisa sihir tapi coba kau pikirkan
sihir itu berasal dari hati dan pemikiran pemiliknya, kalau kau hanya berpikir
aku lebih beruntung, kau salah Veni biarkan pikiranmu terus mengalir untuk
lebih hebat bukan untuk menandingiku dan kalau kau tidak mengerti sesuatu kau
bisa menanyakannya kapan pun kau mau Veni, apakah kau pernah bertanya padaku
sebelumnya? Sekarang kau tahu kan kesalahanmu di mana?” Ucap Suri dengan
tenang.
Veni pun menyadari kalau yang dilakukan itu ternyata salah dan yang dia
pikirkan bagaimana menjatuhkan Suri. Semenjak itu, Veni terus belajar mengikuti
arahan Suri, dan Veni menyadari bahwa kalau kita tidak bisa atau tidak mengerti
maka jangan malu untuk bertanya karena kalau kita malu untuk bertanya maka kita
akan sesat di jalan.
Hasrat untuk menjatuhkan orang lain atau senang apabila ada yang mengalami
masalah adalah kesia-siaan bagi seorang manusia. Menelurusi kekurangan diri akan
membawa manusia pada kemujuran.

Komentar
Posting Komentar