“Sera belum bangun, Bi?” Tanya kakakku saat aku masih tertidur pulas dengan posisi tidur yang berantakan dan mulut yang sedikit menganga tentunya.
“Di kamar tuh masih tidur kayanya.” Jawab bibi, asisten
rumah tangga di rumah ini.
Kemudian ia menghampiriku ke kamar, aku tidak tau
bagaimana reaksinya saat melihatku masih tertidur pulas pagi itu tapi aku yakin
dia pasti tersenyum.
Sambil pamit dan mencium keningku kakakku berbisik “Aa
berangkat dulu, ya. Nanti aa bawain coklat,” sambil menciumku.
Ciuman itu tidak akan pernah lepas setiap harinya dan
mungkin sudah menjadi tradisi untuk kita berdua dan aku nyaman haha, oh yaa
kami berasal dari suku sunda dimana panggilan kita tuh aa,teteh,atau kang jadi aku
memanggilnya dengan sebutan aa, bye the way dia
mahasiswa jurusan informatika di salah satu universitas di Bandung.
“Aa pulang.!” sambil membawa kantung kresek putih di tangannya
ternyata benar saja, isinya cokelat almond juga beberapa makanan ringan dan susu kaleng kesukaanku, tapi sebenarnya itu susu sapi, sih.
“Wah..., tahu saja lagi pengin ngemil .” Kataku
dengan posisi tangan meraih ke kantung kresek itu
“Eiittssss bilang makasih dulu dong” katanya.
“Hhehhheh makasih ade sayang aa” kataku manja. Aku
merasa ada yang kurang darinya dan yeahh aa tidak menciumku. Biasanya ia tidak
pernah lupa untuk menciumku di saat berangkat dan pulang.
Masih dengan posisinya menghadapku sambil duduk di
kursi di sudut kamar dia menatap mataku sendu. Sementara aku yang asyik makan
cemilan sambil mendengarkan lagu lagu band favoritku, yeah led zepplin dengan
lagunya yang berjudul black dog satu satunya musik favoritku saat itu haha.
“Pokoknya aa
harus tiap hari bawain aku coklat almond.” Kataku,memaksa.
“Coklat almond akan selalu datang untukmu tuan putrii”
Kami tertawa bersama tanpa malu, ragu, atau canggung sekalipun, aku aman
bersamanya.
Dimataku seorang kakak laki laki yang sedari tadi
memandang wajahku ini adalah kakak sekaligus orang tua ku, sejak bayi kasih
sayang seorang ibu tidak pernah aku rasakan, ibu meninggal di saat ia berjuang
melahirkanku dan aku selalu merasa bersalah, mungkin karena ku separuh bagian
dari bagian jiwa ayah telah hilang dalam dekapan dan begitupun telah memisahkan
aa dari sebuah intan permata dengan kilauannya. Kata ayah aa sama seperti ibu.
“Dulu ade sering banget jatoh dari sepeda haha, gemes
liatnya”
“Dan jahatnya aa malah ngetawain kan.”
“Sambil panik juga dee, nanti kalau kamu kenapa napa
pasti ayah omelin aa” Lanjutnya
“Rindu” suara lirihnya memecahkan lamunanku.
“A.., maaf ya mungkin kalau ade bisa minta ke tuhan,
ade bakal minta mama balik dan ade sebagai gantinya” jawabku tanpa sadar satu
tetes air mata jatuh ke pipiku.
Aa semakin menatapku dan aku bisa merasakan kesedihan
yang sangat pekat di dirinya,
“Aa beruntung punya kamu de, ini takdir tuhan dan aa
berharap bisa melihat kamu lebih lama lagi.” Ia melanjukan, “
“Ade anugerah buat Aa, sama seperti makna dari nama
kamu”
Anasera yang berarti anugerah tuhan, ini adalah nama yang diberikan oleh mendiang ibuku. Dan ternyata nama itu tidak seindah kenyataannya yang mungkin malah membuat ibu pergi.
“Eumm aa ga cium aku dari tadi,tumben?” tanyaku heran.
“Pengen banget ya dicium haha” jawabnya usil.
“Ishhh orang nanya doang apaan sih, yauda gausa cium
cium ade lagi”
Beberapa detik kami terdiam bertatap lalu tertawa yeah
itulah kebisaan kami saat ada salah satu dari kami mulai merajuk.
“Ade janji ya sama aa, ade bakal jagain ayah terus ga
bakal tinggalin ayah gimanapun kondisinya nanti” tubuhku terbujur kaku seaakan
ini adalah sebuah pesan untukku
“Iyaa dong a, kan kita bakal ngejagain ayah bareng
bareng” jawabku, polos.
“Aa bakal selalu ngejaga kamu bahkan sampai akhir
hayat Aa, Ade haru mandiri nantinya, ya. ” Dan saat itu saat ia selesai berbicara
ini kali pertamanya aku melihat ia meneteskan beberapa bulir air matanya sambil
tersenyum dan berusaha mencium keningku.
Akhirnya aku sadar apa yang terjadi, bibirnya tidak
bisa meraihku bahkan tembus seakan melewati kepalaku. Aku merasakan rasa dingin
yang asing di sekujur tubuhku lalu aku terbangun dari tidurku tadi, ternyata
tidak ada sosok aa bahkan coklat almond dan susu kaleng yg sempat aku minum
tidak ada di depanku melainkan Ayah dengan baju aa di tangannya saat aa
berangkat tadi pagi dan seolah sedang menghapus bulir air matanya saat
melihatku terbangun.
Aku bingung, aku sedih, aku bisa menebak apa yang
terjadi tapi dengan hati yang belum ikhlas selalu aku tepis. Ayah mendekatiku,
belum sempat ia berbicara aku sudah nangis sejadi jadinya.
Ayah mendekapku, hangatnya terasa di dalamku tapi rasa
dingin itu masih ada di kepalaku dan perlahan menghilang.
Ayah menjelaskan sesaat aa pulang dari makam almarhum
ibu dan sempat membeli coklat tanpa ia sadar ada sebuah truk menabrak bagian
samping mobilnya dan membenturkan keras di bagian kepala aa, aa sudah pergi.
Mungkin pertemuan itu sebuah pamitan dengan ciuman
terakhir di keningku sebelum aku sadar bahwa ia akan pergi untuk selamanya.
Sandyakala menyadarkanku bahwa sekarang aku adalah
seorang wanodya dengan banyak wiyata.
Aku merasakan hidup di pertengahan itu, tapi tidak
disaaat aa pergi seakan aku memiliki rumah tanpa adanya pintu dan tiang di
dalamnya, hidupku mulai runtuh, asaku hilang, bagaikan kidung yang berhenti
mengalunkan indahnya.
Seiring berjalnnya waktu aku berusaha melepas lukaku,
melihat awan dengan harapan ada wajah aa dan di ibu di atas, memandangi pagar
seakan menyambut aa pulang dengan membawakanku cokelat almond di tangannya,
berpegangan kepada penggalan cerita kita dulu, yang semakin hari semakin samar.

Komentar
Posting Komentar