Langsung ke konten utama

Pertemuan Waktu - Agustin WR




Sera belum bangun, Bi?” Tanya kakakku saat aku masih tertidur pulas dengan posisi tidur yang berantakan dan  mulut yang sedikit menganga tentunya.

 

“Di kamar tuh masih tidur kayanya.” Jawab bibi, asisten rumah tangga di rumah ini.

 

Kemudian ia menghampiriku ke kamar, aku tidak tau bagaimana reaksinya saat melihatku masih tertidur pulas pagi itu tapi aku yakin dia pasti tersenyum.

 

Sambil pamit dan mencium keningku kakakku berbisik “Aa berangkat dulu, ya. Nanti aa bawain coklat,” sambil menciumku.

 

Ciuman itu tidak akan pernah lepas setiap harinya dan mungkin sudah menjadi tradisi untuk kita berdua dan aku nyaman haha, oh yaa kami berasal dari suku sunda dimana panggilan kita tuh aa,teteh,atau kang jadi aku memanggilnya dengan sebutan aa, bye the way dia  mahasiswa jurusan informatika di salah satu universitas di Bandung.

 

“Aa pulang.!” sambil membawa kantung kresek putih di tangannya ternyata benar saja, isinya cokelat almond juga beberapa makanan ringan dan susu kaleng  kesukaanku, tapi sebenarnya itu susu sapi, sih.

“Wah..., tahu saja lagi pengin ngemil .” Kataku dengan posisi tangan meraih ke kantung kresek itu

“Eiittssss bilang makasih dulu dong” katanya.

“Hhehhheh makasih ade sayang aa” kataku manja. Aku merasa ada yang kurang darinya dan yeahh aa tidak menciumku. Biasanya ia tidak pernah lupa untuk menciumku di saat berangkat dan pulang.

 

Masih dengan posisinya menghadapku sambil duduk di kursi di sudut kamar dia menatap mataku sendu. Sementara aku yang asyik makan cemilan sambil mendengarkan lagu lagu band favoritku, yeah led zepplin dengan lagunya yang berjudul black dog satu satunya musik favoritku saat itu haha.

 

 “Pokoknya aa harus tiap hari bawain aku coklat almond.” Kataku,memaksa.

“Coklat almond akan selalu datang untukmu tuan putrii” Kami tertawa bersama tanpa malu, ragu, atau canggung sekalipun, aku aman bersamanya.

 

Dimataku seorang kakak laki laki yang sedari tadi memandang wajahku ini adalah kakak sekaligus orang tua ku, sejak bayi kasih sayang seorang ibu tidak pernah aku rasakan, ibu meninggal di saat ia berjuang melahirkanku dan aku selalu merasa bersalah, mungkin karena ku separuh bagian dari bagian jiwa ayah telah hilang dalam dekapan dan begitupun telah memisahkan aa dari sebuah intan permata dengan kilauannya. Kata ayah aa sama seperti ibu.

“Dulu ade sering banget jatoh dari sepeda haha, gemes liatnya”

“Dan jahatnya aa malah ngetawain kan.”

“Sambil panik juga dee, nanti kalau kamu kenapa napa pasti ayah omelin aa”  Lanjutnya

“Rindu” suara lirihnya memecahkan lamunanku. 

“A.., maaf ya mungkin kalau ade bisa minta ke tuhan, ade bakal minta mama balik dan ade sebagai gantinya” jawabku tanpa sadar satu tetes air mata jatuh ke pipiku.

Aa semakin menatapku dan aku bisa merasakan kesedihan yang sangat pekat di dirinya,

“Aa beruntung punya kamu de, ini takdir tuhan dan aa berharap bisa melihat kamu lebih lama lagi.” Ia melanjukan, “

“Ade anugerah buat Aa, sama seperti makna dari nama kamu”

Anasera yang berarti anugerah tuhan, ini adalah nama yang diberikan oleh mendiang ibuku. Dan ternyata nama itu tidak seindah kenyataannya yang mungkin malah membuat ibu pergi. 

“Eumm aa ga cium aku dari tadi,tumben?” tanyaku heran.

“Pengen banget ya dicium haha” jawabnya usil.

“Ishhh orang nanya doang apaan sih, yauda gausa cium cium ade lagi”

Beberapa detik kami terdiam bertatap lalu tertawa yeah itulah kebisaan kami saat ada salah satu dari kami mulai merajuk.

“Ade janji ya sama aa, ade bakal jagain ayah terus ga bakal tinggalin ayah gimanapun kondisinya nanti” tubuhku terbujur kaku seaakan ini adalah sebuah pesan untukku

“Iyaa dong a, kan kita bakal ngejagain ayah bareng bareng” jawabku, polos.

“Aa bakal selalu ngejaga kamu bahkan sampai akhir hayat Aa, Ade haru mandiri nantinya, ya. ” Dan saat itu saat ia selesai berbicara ini kali pertamanya aku melihat ia meneteskan beberapa bulir air matanya sambil tersenyum dan berusaha mencium keningku.

 

Akhirnya aku sadar apa yang terjadi, bibirnya tidak bisa meraihku bahkan tembus seakan melewati kepalaku. Aku merasakan rasa dingin yang asing di sekujur tubuhku lalu aku terbangun dari tidurku tadi, ternyata tidak ada sosok aa bahkan coklat almond dan susu kaleng yg sempat aku minum tidak ada di depanku melainkan Ayah dengan baju aa di tangannya saat aa berangkat tadi pagi dan seolah sedang menghapus bulir air matanya saat melihatku terbangun.

 

Aku bingung, aku sedih, aku bisa menebak apa yang terjadi tapi dengan hati yang belum ikhlas selalu aku tepis. Ayah mendekatiku, belum sempat ia berbicara aku sudah nangis sejadi jadinya.

 

Ayah mendekapku, hangatnya terasa di dalamku tapi rasa dingin itu masih ada di kepalaku dan perlahan menghilang.

 

Ayah menjelaskan sesaat aa pulang dari makam almarhum ibu dan sempat membeli coklat tanpa ia sadar ada sebuah truk menabrak bagian samping mobilnya dan membenturkan keras di bagian kepala aa, aa sudah pergi.

 

Mungkin pertemuan itu sebuah pamitan dengan ciuman terakhir di keningku sebelum aku sadar bahwa ia akan pergi untuk selamanya.

 

Sandyakala menyadarkanku bahwa sekarang aku adalah seorang wanodya dengan banyak wiyata.  

 

Aku merasakan hidup di pertengahan itu, tapi tidak disaaat aa pergi seakan aku memiliki rumah tanpa adanya pintu dan tiang di dalamnya, hidupku mulai runtuh, asaku hilang, bagaikan kidung yang berhenti mengalunkan indahnya. 

 

Seiring berjalnnya waktu aku berusaha melepas lukaku, melihat awan dengan harapan ada wajah aa dan di ibu di atas, memandangi pagar seakan menyambut aa pulang dengan membawakanku cokelat almond di tangannya, berpegangan kepada penggalan cerita kita dulu, yang semakin hari semakin samar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indra Rahayu - Kongkalikong

  Di bawah lampu redup, dalam sangkar yang tergantung di halaman rumah, burung berbulu indah itu tercenung. Menatap gelap langit, cahaya bulan bersembunyi di balik awan malam itu. Hanya terdengar suara kentungan, yang dibunyikan untuk menandai bahwa waktu sudah pukul dua dini hari.   “Esok, aku ingin orang yang memeliharaku hilang ingatan dan lupa bahwa ia memiliki burung yang cantik.” Bergumam, keinginannya untuk mati meluap. Ia tak pernah benar-benar ingin meninggalkan tubuh indahnya. Namun, ironi yang diderita akan lebih indah jika burung itu mati karena dilupakan.   -   Sial, aku terbangun lagi. Aku membenci ketika mataku terbuka di setiap pagi, dan apa yang kulihat dalam terjaga adalah dunia yang berisi orang-orang gila. Cahaya pagi menyuruk, mengampiri mataku. Memaksa untuk beranjak dari tempat tidur. Aku tak mau pergi dari tempat ini, biar debu-debu dari setiap sudut ruangan ini terus kuhirup, aku menunggu sampai benar-benar sesak. Kem u dian,...

Cerita Fantasi: Penyihir Licik - Siti Latifah

Pada suatu hari,  di hutan belantara hiduplah dua penyihir cantik bernama Veni dan Suri, Suri memiliki kekuatan yang begitu besar jauh di atas kemampuan Veni. Suatu hari, Veni menyadari bahwa kekuatannya sangatlah lemah, sehingga dia tidak terima dengan kenyataan itu, dia iri akan kekuatan Suri yang sangat besar dan berniat jahat kepadanya. Suatu hari, Veni mengajak Suri untuk pergi ke gunung untuk menguji kekuatan mereka karena setiap tahun naga mereka akan menguji kekuatan mereka untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penyihir terhebat di dunia, tak disangka Veni telah menyiapkan perangkap untuk Suri di atas gunung adalah sebuah kuali yang bolong dan buku yang salah, sehingga ketika Suri ingin meracik kekuatannya dia akan gagal karena terbuang keluar dari kuali dan gagal mengikuti ujian tersebut. Karena kekuatan Suri lebih hebat dari pada Veni, Suri telah menyadari hal tersebut terlebih dahulu dan diam-diam menambal kuali tersebut dengan kekuatan fantastis dan dia tidak m...

Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025 - Anindhia Ramadhani

Suryalaya, (KANSAS).-   Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan acara diseminasi yang bertempat di hotel Grand Metro, Kota Tasikmalaya pada hari Senin, (13/10/2025).  Acara tersebut dihadiri oleh anggota DPR RI Komisi X  Bapak Ferdiansyah, SE., MM., Sekretaris Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bapak  Dr. Ganjar Harimansyah, S.S. M.Hum. dan Ibu Dr. Herawati, S.S., M.A. sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat . Acara ini diselenggarakan dengan tujuan menguatkan literasi kebahasaan dan kesusastraan guru-guru, dosen, pelajar, dan para pegiat literasi di Kota Tasikmalaya. Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025” membuka pandangan baru tentang pentingnya peran bahasa dan literasi di tengah derasnya arus globalisasi. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas dan jati diri bangsa. Namun, di era digital yang serba cepat, kesadaran masyarakat—terutama generasi muda—terhadap pentingnya literasi...