Langsung ke konten utama

Bunga Terakhir - Nurul Aulia


Nesya murid baru di SMA Kebangsaan, Nesya wanita periang dan ia menjadi populer karena kecantikannya. Banyak lelaki yang tergila-gila pada kecantikannya. Namun, sayangnya dia hanya tertarik pada satu pria yaitu Rendra.

 

Rendra adalah laki-laki yang tampan dan pintar. Tidak lupa sifat Rendra yang paling disoroti oleh Nesya adalah dingin dan misterius. Banyak wanita yang kagum terhadap Rendra namun sebagian besar enggan mendekatinya karna sifat dingin dan misteriusnya. Berbeda dengan Nesya yang begitu tertarik dengan lelaki kulkas 100 pintu itu.

 

"Hai kamu Rendra ya? Kenalin aku Nesya, aku di sini murid baru, boleh ya aku berteman dengan kamu? Btw, kamu suka soda ya, aku juga suka soda, minuman favorit kita sama."

 

 "So asik." Suara yang pelan keluar dari mulut Rendra.

 

"Aku boleh duduk di sini yaa, kelihatannya kamu duduk sendirian." Rendra berpindah tempat duduk karena Nesya yang menghampiri dan duduk di sebelahnya. Nesya tak berkecil hati, justru semakin tertantang untuk melelehkan es batu kutub utara.

 

Keesokan paginya, Nesya bertemu Rendra di koridor depan perpus membawa buku yang banyak.

 

"Rendra sini aku bantu, itu banyak banget bukunya pasti berat."

"Gausah," singkat padat jelas.

 

Kata-kata singkat yang diucapkan Rendra sudah menjadi makanan setiap hari Nesya. Walau seperti tidak dihargai tidak membuat tekad Nesya runtuh.

-----

Tidak terasa telah 30 hari berlalu. Nesya telah satu bulan bersekolah di SMA Kebangsaan dia hanya baru memiliki satu teman dekat, Firly. Sebetulnya yang ingin berteman dengan Nesya banyak, namun dia sangat pemilih dan hanya ingin berteman dengan orang yang menurutnya benar-benar bisa diandalkan.

 

Firly ini adalah teman dari kecil Rendra, jadi Firly cukup dekat dengan Rendra. Ia sangat mendukung Nesya dengan Rendra.

 

"Ah... Hari ini hari Valentine Nes... kamu mau kasih coklat ke Rendra ngga?"

"Oiya benar kasih ide dong, aku mending kasih apa aja ya ke Rendra?"

"Mending kamu kasih Coklat sama surat dan gak ketinggalan bunga mawar putih yang selalu kamu kasih tiap hari ke Rendra."

"Ckk, aku setiap hari naro bunga mawar putih di bawah mejanya, apa dia ga bosan ya?"

"Noooo, katanya pantang menyerah, kok tiba-tiba ovt sih?" tanya Firly dengan heran.

"Baiklah... Sebelum aku bisa dapetin Rendra aku ga akan berhenti kasih bunga mawar putih." Jawab Nesya dengan penuh keyakinan. Di waktu istirahat Nesya menaruh Coklat dan surat dengan sekuntum bunga mawar putih di atas meja Rendra. Dengan harapan Rendra membaca surat itu, yang berisi ungkapan perasaannya. Sepulang sekolah Rendra mengambil semua pemberian dari Nesya, walaupun bisa dikatakan mereka belum pacaran dan belum saling mengungkapkan perasaan. Siapa sangka sebetulnya setiap bunga mawar putih yang setiap hari selalu ada berada di bawah mejanya, Rendra selalu membawanya ke rumah.

 

Dia mengumpulkan bunga mawar putih yang ia dapat setiap hari di dalam sebuah vas bunga. Vas bunga tersebut milik mantan kekasihnya. Bukan tanpa alasan dia menyimpannya. Bunga mawar putih tersebut mengingatkan Rendra pada dirinya yang selalu memberikan buket bunga mawar putih kepada mantan kekasihnya di setiap hari-hari spesial.

 

Rendra telah membaca surat dari Nesya. Dia sudah sadar dari awal bahwa Nesya memang tertarik padanya. Namun dia merasa Nesya berbeda dari wanita lain karena selalu sabar dengan sikapnya yang dingin itu. Tak lama Rendra bergegas ke sebuah tempat yang selalu ia kunjungi setiap hari sebagai tempat untuk menceritakan keluh kesahnya. "Setiap orang ada masanya, masa ku bersamamu telah habis, akankah kini aku bisa menempuh masa di orang baru dengan kenangan yang sama?, Izinkan aku membuka lembaran baru dengan orang baru dengan kenangan yang baru meskipun aku tak akan bisa menghapus semua kenangan tentangmu. Wanita yang akan bersamaku adalah wanita yang selalu kuceritakan padamu dalam sebulan terakhir. Ini adalah bunga mawar putih yang selalu kuberikan padamu namun ini bunga terakhir yang akan ku berikan, karena sekarang ada hati yang mulai sekarang harus ku jaga. Sampai jumpa ditakdir yang lebih baik." Ucap Rendra di depan makam almarhum mantan kekasihnya.

 

Di perjalanan pulang Rendra hendak menemui Nesya untuk memberikan jawaban atas surat yang telah diberikan. "Wiu,wiu,wiu......" suara ambulance lewat di hadapannya. Pikiran Rendra merasa tidak nyaman. Ia membuka ponselnya dan mendapati telepon dari Firly. "Halo Fir? Gimana bisa ngga?"

"Ren, maaf Nesya ga bisa ketemu kamu. Nesya kecelakaan mobil pas pulang sekolah"

"Klotakkkkkkkk" ponsel Rendra lepas terjatuh begitu saja.

"Rend, halo?, Renda? ..."

"Brughhhhh" seketika Rendra tak ada tenaga bahkan untuk berdiri badannya lemas.

"Rennnn?, kalo mau kamu susul ke rumah sakit."

"Iya aku ke sana." jawab Rendra sembari bergegas ke mencari taksi.

"Fir! why u cry? gimana keadaan Nesya?"

"Hiks, hiks.... Nesya koma, Ren." Rendra pun tak kuat menahan air matanya. Hari yang ia bayangkan akan lebih baik. Namun, kenyataannya tak sesuai dengan yang ia inginkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indra Rahayu - Kongkalikong

  Di bawah lampu redup, dalam sangkar yang tergantung di halaman rumah, burung berbulu indah itu tercenung. Menatap gelap langit, cahaya bulan bersembunyi di balik awan malam itu. Hanya terdengar suara kentungan, yang dibunyikan untuk menandai bahwa waktu sudah pukul dua dini hari.   “Esok, aku ingin orang yang memeliharaku hilang ingatan dan lupa bahwa ia memiliki burung yang cantik.” Bergumam, keinginannya untuk mati meluap. Ia tak pernah benar-benar ingin meninggalkan tubuh indahnya. Namun, ironi yang diderita akan lebih indah jika burung itu mati karena dilupakan.   -   Sial, aku terbangun lagi. Aku membenci ketika mataku terbuka di setiap pagi, dan apa yang kulihat dalam terjaga adalah dunia yang berisi orang-orang gila. Cahaya pagi menyuruk, mengampiri mataku. Memaksa untuk beranjak dari tempat tidur. Aku tak mau pergi dari tempat ini, biar debu-debu dari setiap sudut ruangan ini terus kuhirup, aku menunggu sampai benar-benar sesak. Kem u dian,...

Cerita Fantasi: Penyihir Licik - Siti Latifah

Pada suatu hari,  di hutan belantara hiduplah dua penyihir cantik bernama Veni dan Suri, Suri memiliki kekuatan yang begitu besar jauh di atas kemampuan Veni. Suatu hari, Veni menyadari bahwa kekuatannya sangatlah lemah, sehingga dia tidak terima dengan kenyataan itu, dia iri akan kekuatan Suri yang sangat besar dan berniat jahat kepadanya. Suatu hari, Veni mengajak Suri untuk pergi ke gunung untuk menguji kekuatan mereka karena setiap tahun naga mereka akan menguji kekuatan mereka untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penyihir terhebat di dunia, tak disangka Veni telah menyiapkan perangkap untuk Suri di atas gunung adalah sebuah kuali yang bolong dan buku yang salah, sehingga ketika Suri ingin meracik kekuatannya dia akan gagal karena terbuang keluar dari kuali dan gagal mengikuti ujian tersebut. Karena kekuatan Suri lebih hebat dari pada Veni, Suri telah menyadari hal tersebut terlebih dahulu dan diam-diam menambal kuali tersebut dengan kekuatan fantastis dan dia tidak m...

Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025 - Anindhia Ramadhani

Suryalaya, (KANSAS).-   Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan acara diseminasi yang bertempat di hotel Grand Metro, Kota Tasikmalaya pada hari Senin, (13/10/2025).  Acara tersebut dihadiri oleh anggota DPR RI Komisi X  Bapak Ferdiansyah, SE., MM., Sekretaris Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bapak  Dr. Ganjar Harimansyah, S.S. M.Hum. dan Ibu Dr. Herawati, S.S., M.A. sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat . Acara ini diselenggarakan dengan tujuan menguatkan literasi kebahasaan dan kesusastraan guru-guru, dosen, pelajar, dan para pegiat literasi di Kota Tasikmalaya. Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025” membuka pandangan baru tentang pentingnya peran bahasa dan literasi di tengah derasnya arus globalisasi. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas dan jati diri bangsa. Namun, di era digital yang serba cepat, kesadaran masyarakat—terutama generasi muda—terhadap pentingnya literasi...