Nesya murid baru di SMA Kebangsaan, Nesya wanita periang dan ia menjadi populer karena kecantikannya. Banyak lelaki yang tergila-gila pada kecantikannya. Namun, sayangnya dia hanya tertarik pada satu pria yaitu Rendra.
Rendra adalah laki-laki yang tampan dan pintar.
Tidak lupa sifat Rendra yang paling disoroti oleh Nesya adalah dingin dan
misterius. Banyak wanita yang kagum terhadap Rendra namun sebagian besar enggan
mendekatinya karna sifat dingin dan misteriusnya. Berbeda dengan Nesya yang
begitu tertarik dengan lelaki kulkas 100 pintu itu.
"Hai kamu Rendra ya? Kenalin aku
Nesya, aku di sini murid baru, boleh ya aku berteman dengan kamu? Btw, kamu
suka soda ya, aku juga suka soda, minuman favorit kita sama."
"So
asik." Suara yang pelan keluar dari mulut Rendra.
"Aku boleh duduk di sini yaa, kelihatannya kamu duduk sendirian."
Rendra berpindah tempat duduk karena Nesya yang menghampiri dan duduk di
sebelahnya. Nesya tak berkecil hati, justru semakin tertantang untuk melelehkan
es batu kutub utara.
Keesokan paginya, Nesya bertemu Rendra di
koridor depan perpus membawa buku yang banyak.
"Rendra sini aku bantu, itu banyak banget
bukunya pasti berat."
"Gausah," singkat padat jelas.
Kata-kata singkat yang diucapkan Rendra sudah
menjadi makanan setiap hari Nesya. Walau seperti tidak dihargai tidak membuat
tekad Nesya runtuh.
-----
Tidak terasa telah 30 hari berlalu. Nesya telah
satu bulan bersekolah di SMA Kebangsaan dia hanya baru memiliki satu teman
dekat, Firly. Sebetulnya yang ingin berteman dengan Nesya banyak, namun dia
sangat pemilih dan hanya ingin berteman dengan orang yang menurutnya
benar-benar bisa diandalkan.
Firly ini adalah teman dari kecil Rendra, jadi
Firly cukup dekat dengan Rendra. Ia sangat mendukung Nesya dengan Rendra.
"Ah... Hari ini hari Valentine Nes... kamu
mau kasih coklat ke Rendra ngga?"
"Oiya benar kasih ide dong, aku mending kasih
apa aja ya ke Rendra?"
"Mending kamu kasih Coklat sama surat dan
gak ketinggalan bunga mawar putih yang selalu kamu kasih tiap hari ke Rendra."
"Ckk, aku setiap hari naro
bunga mawar putih di bawah mejanya, apa dia ga bosan ya?"
"Noooo, katanya pantang menyerah,
kok tiba-tiba ovt sih?" tanya Firly dengan heran.
"Baiklah... Sebelum aku bisa dapetin
Rendra aku ga akan berhenti kasih bunga mawar putih." Jawab Nesya dengan
penuh keyakinan. Di waktu istirahat Nesya menaruh Coklat dan surat dengan
sekuntum bunga mawar putih di atas meja Rendra. Dengan harapan Rendra membaca
surat itu, yang berisi ungkapan perasaannya. Sepulang sekolah Rendra mengambil
semua pemberian dari Nesya, walaupun bisa dikatakan mereka belum pacaran dan
belum saling mengungkapkan perasaan. Siapa sangka sebetulnya setiap bunga mawar
putih yang setiap hari selalu ada berada di bawah mejanya, Rendra selalu
membawanya ke rumah.
Dia mengumpulkan bunga mawar putih yang ia
dapat setiap hari di dalam sebuah vas bunga. Vas bunga tersebut milik mantan
kekasihnya. Bukan tanpa alasan dia menyimpannya. Bunga mawar putih tersebut
mengingatkan Rendra pada dirinya yang selalu memberikan buket bunga mawar putih
kepada mantan kekasihnya di setiap hari-hari spesial.
Rendra telah membaca surat dari Nesya. Dia
sudah sadar dari awal bahwa Nesya memang tertarik padanya. Namun dia merasa
Nesya berbeda dari wanita lain karena selalu sabar dengan sikapnya yang dingin
itu. Tak lama Rendra bergegas ke sebuah tempat yang selalu ia kunjungi setiap
hari sebagai tempat untuk menceritakan keluh kesahnya. "Setiap orang ada
masanya, masa ku bersamamu telah habis, akankah kini aku bisa menempuh masa di
orang baru dengan kenangan yang sama?, Izinkan aku membuka lembaran baru dengan
orang baru dengan kenangan yang baru meskipun aku tak akan bisa menghapus semua
kenangan tentangmu. Wanita yang akan bersamaku adalah wanita yang selalu
kuceritakan padamu dalam sebulan terakhir. Ini adalah bunga mawar putih yang
selalu kuberikan padamu namun ini bunga terakhir yang akan ku berikan, karena
sekarang ada hati yang mulai sekarang harus ku jaga. Sampai jumpa ditakdir yang
lebih baik." Ucap Rendra di depan makam almarhum mantan kekasihnya.
Di perjalanan pulang Rendra hendak menemui
Nesya untuk memberikan jawaban atas surat yang telah diberikan. "Wiu,wiu,wiu......"
suara ambulance lewat di hadapannya. Pikiran Rendra merasa tidak nyaman. Ia
membuka ponselnya dan mendapati telepon dari Firly. "Halo Fir? Gimana bisa
ngga?"
"Ren, maaf Nesya ga bisa ketemu kamu.
Nesya kecelakaan mobil pas pulang sekolah"
"Klotakkkkkkkk" ponsel Rendra
lepas terjatuh begitu saja.
"Rend, halo?, Renda? ..."
"Brughhhhh" seketika Rendra tak ada
tenaga bahkan untuk berdiri badannya lemas.
"Rennnn?, kalo mau kamu susul ke rumah
sakit."
"Iya aku ke sana." jawab Rendra
sembari bergegas ke mencari taksi.
"Fir! why u cry? gimana keadaan
Nesya?"

Komentar
Posting Komentar