Keesokan harinya, aku pulang malam dari bimbel
matematika, tetapi di tengah perjalanan
ada gerombolan laki-laki memakai topeng, berbaju hitam dan mengendarai sepeda motor. Sekelompok laki-laki itu menghadangku, aku begitu
panik. Aku langsung bergegas lari dari hadapan mereka, namun salah seorang dari
penjahat itu menembak kakiku, sehingga
aku terjatuh dan tak dapat lari.
Aku menahan kesakitan, hingga aku tergeletak pingsan dan
tak ingat apa-apa. Yang kuingat hanyalah kesakitan yang kurasakan ketika aku
diseret paksa oleh mereka. Aku dibawa ke sebuah bangunan tua, kaki dan tanganku
diikat dengan sangat erat. Lalu aku terbangun, mendengar salah
satu dari gerombolan laki-laki itu menelepon seseorang.
Ketika aku berusaha untuk melepaskan diri. Tiba-tiba di
hadapanku hadir seseorang berpakaian putih, berpostur tubuh tinggi kurus dan
berambut panjang hitam pekat.
"Haha... Mau membebaskan diri, ya. Coba saja lakukan!" ucap dia.
"Sepertinya aku kenal dengan suara itu,"
gumamku.
"Tolong lepaskan aku, jangan sakiti aku." Jerit tangisku memohon kepada orang tersebut.
"Apa? Membebaskan dirimu? Aku akan melepaskanmu
setelah kau tiada."
"Siapa kau sebenarnya?" Tanya diriku dengan penasaran.
Lalu, perempuan
misterius itu membuka topengnya. Aku sangat terkejut ternyata dia adalah adikku yang selama
ini aku sayangi.
"Cla, Claudi...
Kau pasti sedang bercanda, kan? Ini
sungguh tidak lucu." Ucapku.
"Sudah jangan banyak omong, aku melakukan ini karena aku sakit hati. Aku selalu
dibanding-bandingkan dengan
dirimu oleh ayah. Hingga kau menjadi anak kesayangan dan kebanggaan ayah-bunda. Sedangkan aku, aku hanya menjadi bahan hinaan ayah dan itu semua
gara-gara dirimu. Jadi aku ingin kau tiada. supaya aku bisa berkuasa di rumah. Hei, para preman, habisi saja dia. Lalu buang mayatnya ke
tangki air bangunan ini!" Seru adikku.
"Tolong jangan seperti ini, jangan bunuh aku!" Teriakanku memohon padanya.
Lalu aku diseret oleh para penjahat itu. Aku dibawa
ke tempat tangki air di lantai paling atas. Mirisnya, aku akan dilecehkan
terlebih dahulu oleh mereka semua sebelum aku dibunuh.
Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku berusaha melepaskan
diri dan akhirnya aku terlepas dari mereka. Tetapi sialnya tidak ada jalan lain
lagi, kecuali dengan meloncat dari lantai lima, ke bawah. Dengan keberanian dan keyakinanku kepada Tuhan
bahwa Dia akan menolongku, aku memberanikan diri loncat dari lantai lima, ke bawah. Aku lebih baik mati, daripada aku dilecehkan
oleh mereka.
Bruggggg... aku
terjatuh ke bawah dari lantai lima.
Aku tidak tahu, apakah ini mukjizat atau apa. Ketika aku
membuka mataku, aku masih bisa melihat dunia ini. Ternyata para penjahat itu tetap
mengejarku karena mereka melihat aku masih hidup. Aku tidak menyerah, aku
bangkit dan terus melarikan diri dengan bercucuran darah di
kepalaku. Aku bersembunyi di belakang mobil, tapi aku
hampir tertangkap lagi oleh mereka karena darahku bercucuran sehingga ada tanda
yang bisa diikuti untuk menemukanku. Aku terus memaksakan berjalan walaupun
kakiku sudah pincang. Pada
akhirnya, aku sampai di sebuah pemukiman warga tepat pada pukul
04.00 WIB.
Aku menangis
terharu karena bisa lolos dari para penjahat itu. Tiba-tiba terdengar suara
yang sangat merdu sekali, menyentuh mata hatiku. Kemudian aku mencari dari mana
suara itu berasal, ternyata suara itu berasal dari Masjid, tempat beribadah umat Islam. Saat itu Azan Subuh sedang berkumandang.
"Aku baru pertama kali mendengar syair yang begitu
indah dan merdu sekali," lirihku
Ketika sedang berdiri, aku sudah tidak kuat lagi, mataku
tiba-tiba menjadi buram. Dari sana aku sudah tidak sadarkan diri. Namun, Tuhan sangat menyayangiku. Ada warga
menolongku yang hendak menunaikan shalat subuh, dengan segera aku langsung dibawa ke rumah
sakit.
Setelah aku sadarkan diri, di hadapan ku sudah ada
seorang perempuan memakai hijab. Dia bilang padaku, bahwa diriku ditemukan tergeletak dengan luka yang parah
di depan masjid pesantren
oleh anak kyai. Singkat cerita, aku menjelaskan semua yang terjadi padaku. Dari sana hatiku tersentuh
dan ini mungkin hidayah yang membawaku pada jalan lain.
Setelah memilih untuk memeluk keyakinan ini, aku belum
berani menemui keluargaku karena mereka pasti marah karena aku telah menjadi
mualaf. Jadi aku tinggal di sebuah pesantren. Di sana aku
dibimbing dan belajar tentang Islam. Hingga pada akhirnya, aku dilamar oleh
anak dari pimpinan pesantren. Namanya Guz Arsyaf, dia adalah laki-laki yang
sangat baik dan Soleh. Selain itu, Guz Arsyaf memiliki paras yang tampan,
pokonya semua santriwati di pesantren itu ingin dekat dengannya. Aku benar
benar tidak menyangka, laki-laki yang selalu ada di dalam doaku tiba-tiba
melamarku. Melamar seorang perempuan mualaf dan memiliki masa lalu yang kelam.
Namun Guz Arsyaf tidak memedulikan masa laluku sama sekali.
Keesokan harinya, aku bersama Guz Arsyaf memberanikan diri untuk menemui
keluargaku untuk meminta restu atas pernikahanku. Sesampainya di rumah, Claudia
begitu kaget karena melihatku masih hidup, tapi aku tidak pernah benci
sekalipun padanya.
Keluargaku memelukku dan sangat senang karena melihatku
masih hidup. Tapi sayangnya, keluargaku menjadi tidak menerima kedatanganku
setelah tahu bahwa aku sudah menjadi mualaf. Guz Arsyaf tetap menguatkanku, ia bilang bahwa menjadi mualaf memang banyak
tantangannya termasuk kau akan dijauhi oleh keluargamu. Aku tetap tegar,
menghadapi semuanya dan terus berdoa kepada Allah agar keluargaku
pun di beri hidayah.
Beberapa Minggu kemudian, hari pernikahanku tiba. Aku
ingin sekali keluargaku bisa datang ke pernikahanku, tapi itu tidak mungkin
terjadi. Tak lama kemudian, aku dipanggil karena akad akan segera dimulai,
tanpa pernah kukira ayah dan bundaku datang, menghadiri pernikahanku. Mereka
menyaksikan diriku menikah dengan seorang Guz yang saleh.
Setelah akad selesai, aku menemui ayah-bundaku, tetapi aku tidak melihat Claudia. Lalu, aku bertanya mengapa Claudia tidak datang. Lalu ayah menjawab bahwa Claudia
sudah tidak ada, dia mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Aku sangat terkejut, mendengar kabar yang pahit ini.

Komentar
Posting Komentar