Langsung ke konten utama

Kutemukan Cahaya Hidupku - Nur Pitri


Hai, namaku Arischa, biasa dipanggil Icha. Aku adalah seorang siswi di SMAN 4 Denpasar, yang merupakan salah satu SMA terbaik di Bali. Dan sekarang, aku kelas XI Mipa-1.
  Aku tinggal bersama ayah, bunda dan adikku di sebuah rumah yang besar, karena ayahku adalah pemilik tambang emas terbesar di Bali. Dan kami sekeluarga menganut agama Hindu. Nama adikku adalah Claudia, kami berdua menempuh pendidikan di sekolah yang sama, hanya beda satu tingkat. Adikku itu orangnya baik, cantik, periang, pokonya asyik, deh.

Keesokan harinya, aku pulang malam dari bimbel matematika,  tetapi di tengah perjalanan ada gerombolan laki-laki memakai topeng, berbaju hitam dan mengendarai sepeda motor. Sekelompok laki-laki itu menghadangku, aku begitu panik. Aku langsung bergegas lari dari hadapan mereka, namun salah seorang dari penjahat itu menembak kakiku, sehingga aku terjatuh dan tak dapat lari.

Aku menahan kesakitan, hingga aku tergeletak pingsan dan tak ingat apa-apa. Yang kuingat hanyalah kesakitan yang kurasakan ketika aku diseret paksa oleh mereka. Aku dibawa ke sebuah bangunan tua, kaki dan tanganku diikat dengan sangat erat. Lalu aku terbangun, mendengar salah satu dari gerombolan laki-laki itu menelepon seseorang.

Ketika aku berusaha untuk melepaskan diri. Tiba-tiba di hadapanku hadir seseorang berpakaian putih, berpostur tubuh tinggi kurus dan berambut panjang hitam pekat.

"Haha... Mau membebaskan diri, ya. Coba saja lakukan!" ucap dia.

"Sepertinya aku kenal dengan suara itu," gumamku.

"Tolong lepaskan aku, jangan sakiti aku." Jerit tangisku memohon kepada orang tersebut.

"Apa? Membebaskan dirimu? Aku akan melepaskanmu setelah kau tiada."

"Siapa kau sebenarnya?" Tanya diriku dengan penasaran.

Lalu, perempuan misterius itu membuka topengnya. Aku sangat terkejut ternyata dia adalah adikku yang selama ini aku sayangi.

"Cla, Claudi... Kau pasti sedang bercanda, kan? Ini sungguh tidak lucu." Ucapku.  

"Sudah jangan banyak omong, aku melakukan ini  karena aku sakit hati. Aku selalu dibanding-bandingkan dengan dirimu oleh ayah. Hingga kau menjadi anak kesayangan dan kebanggaan ayah-bunda. Sedangkan aku, aku hanya menjadi bahan hinaan ayah dan itu semua gara-gara dirimu. Jadi aku ingin kau tiada. supaya aku bisa berkuasa di rumah. Hei, para preman, habisi saja dia. Lalu buang mayatnya ke tangki air bangunan ini!" Seru adikku.

"Tolong jangan seperti ini, jangan bunuh aku!" Teriakanku memohon padanya.

Lalu aku diseret oleh para penjahat itu. Aku dibawa ke tempat tangki air di lantai paling atas. Mirisnya, aku akan dilecehkan terlebih dahulu oleh mereka semua sebelum aku dibunuh.

Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku berusaha melepaskan diri dan akhirnya aku terlepas dari mereka. Tetapi sialnya tidak ada jalan lain lagi, kecuali dengan meloncat dari lantai lima, ke bawah. Dengan keberanian dan keyakinanku kepada Tuhan bahwa Dia akan menolongku, aku memberanikan diri loncat dari lantai lima, ke bawah. Aku lebih baik mati, daripada aku dilecehkan oleh mereka.

Bruggggg... aku terjatuh ke bawah dari lantai lima.

Aku tidak tahu, apakah ini mukjizat atau apa. Ketika aku membuka mataku, aku masih bisa melihat dunia ini. Ternyata para penjahat itu  tetap mengejarku karena mereka melihat aku masih hidup. Aku tidak menyerah, aku bangkit dan terus melarikan diri dengan bercucuran darah di kepalaku. Aku bersembunyi di belakang mobil, tapi aku hampir tertangkap lagi oleh mereka karena darahku bercucuran sehingga ada tanda yang bisa diikuti untuk menemukanku. Aku terus memaksakan berjalan walaupun kakiku sudah pincang. Pada akhirnya, aku sampai di sebuah pemukiman warga tepat pada pukul 04.00 WIB.

 Aku menangis terharu karena bisa lolos dari para penjahat itu. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat merdu sekali, menyentuh mata hatiku. Kemudian aku mencari dari mana suara itu berasal, ternyata suara itu berasal dari Masjid, tempat beribadah umat Islam. Saat itu Azan Subuh sedang berkumandang.

"Aku baru pertama kali mendengar syair yang begitu indah dan merdu sekali," lirihku

Ketika sedang berdiri, aku sudah tidak kuat lagi, mataku tiba-tiba menjadi buram. Dari sana aku sudah tidak sadarkan diri. Namun, Tuhan sangat menyayangiku. Ada warga menolongku yang hendak menunaikan shalat subuh, dengan segera aku langsung dibawa ke rumah sakit.

Setelah aku sadarkan diri, di hadapan ku sudah ada seorang perempuan memakai hijab. Dia bilang padaku, bahwa diriku ditemukan tergeletak dengan luka yang parah di depan masjid pesantren oleh anak kyai. Singkat cerita, aku menjelaskan semua yang terjadi padaku. Dari sana hatiku tersentuh dan ini mungkin hidayah yang membawaku pada jalan lain.

Setelah memilih untuk memeluk keyakinan ini, aku belum berani menemui keluargaku karena mereka pasti marah karena aku telah menjadi mualaf. Jadi aku tinggal di sebuah pesantren. Di sana aku dibimbing dan belajar tentang Islam. Hingga pada akhirnya, aku dilamar oleh anak dari pimpinan pesantren. Namanya Guz Arsyaf, dia adalah laki-laki yang sangat baik dan Soleh. Selain itu, Guz Arsyaf memiliki paras yang tampan, pokonya semua santriwati di pesantren itu ingin dekat dengannya. Aku benar benar tidak menyangka, laki-laki yang selalu ada di dalam doaku tiba-tiba melamarku. Melamar seorang perempuan mualaf dan memiliki masa lalu yang kelam. Namun Guz Arsyaf tidak memedulikan masa laluku sama sekali.

Keesokan harinya, aku bersama Guz Arsyaf memberanikan diri untuk menemui keluargaku untuk meminta restu atas pernikahanku. Sesampainya di rumah, Claudia begitu kaget karena melihatku masih hidup, tapi aku tidak pernah benci sekalipun padanya.

Keluargaku memelukku dan sangat senang karena melihatku masih hidup. Tapi sayangnya, keluargaku menjadi tidak menerima kedatanganku setelah tahu bahwa aku sudah menjadi mualaf. Guz Arsyaf tetap menguatkanku, ia bilang bahwa menjadi mualaf memang banyak tantangannya termasuk kau akan dijauhi oleh keluargamu. Aku tetap tegar, menghadapi semuanya dan terus berdoa kepada Allah agar keluargaku pun di beri hidayah.

Beberapa Minggu kemudian, hari pernikahanku tiba. Aku ingin sekali keluargaku bisa datang ke pernikahanku, tapi itu tidak mungkin terjadi. Tak lama kemudian, aku dipanggil karena akad akan segera dimulai, tanpa pernah kukira ayah dan bundaku datang, menghadiri pernikahanku. Mereka menyaksikan diriku menikah dengan seorang Guz yang saleh.

Setelah akad selesai, aku menemui ayah-bundaku, tetapi aku tidak melihat Claudia. Lalu, aku bertanya mengapa Claudia tidak datang. Lalu ayah menjawab bahwa Claudia sudah tidak ada, dia mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Aku sangat terkejut, mendengar kabar yang pahit ini.

Ayah dan bunda mengatakan kepadaku bahwa mereka sudah tahu apa yang telah Claudia lakukan padaku. Selain itu ada kabar yang lebih menggembirakan, ayah dan bunda memutuskan untuk masuk Islam. Dari sana aku hidup bahagia bersama Guz Arsyaf dan keluargaku yang sudah masuk Islam. Aku pun tidak lupa kepada adikku, aku sangat sedih karena dia tidak sempat masuk Islam tetapi aku tetap mendoakannya supaya Tuhan mengampuni dosa-dosanya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indra Rahayu - Kongkalikong

  Di bawah lampu redup, dalam sangkar yang tergantung di halaman rumah, burung berbulu indah itu tercenung. Menatap gelap langit, cahaya bulan bersembunyi di balik awan malam itu. Hanya terdengar suara kentungan, yang dibunyikan untuk menandai bahwa waktu sudah pukul dua dini hari.   “Esok, aku ingin orang yang memeliharaku hilang ingatan dan lupa bahwa ia memiliki burung yang cantik.” Bergumam, keinginannya untuk mati meluap. Ia tak pernah benar-benar ingin meninggalkan tubuh indahnya. Namun, ironi yang diderita akan lebih indah jika burung itu mati karena dilupakan.   -   Sial, aku terbangun lagi. Aku membenci ketika mataku terbuka di setiap pagi, dan apa yang kulihat dalam terjaga adalah dunia yang berisi orang-orang gila. Cahaya pagi menyuruk, mengampiri mataku. Memaksa untuk beranjak dari tempat tidur. Aku tak mau pergi dari tempat ini, biar debu-debu dari setiap sudut ruangan ini terus kuhirup, aku menunggu sampai benar-benar sesak. Kem u dian,...

Cerita Fantasi: Penyihir Licik - Siti Latifah

Pada suatu hari,  di hutan belantara hiduplah dua penyihir cantik bernama Veni dan Suri, Suri memiliki kekuatan yang begitu besar jauh di atas kemampuan Veni. Suatu hari, Veni menyadari bahwa kekuatannya sangatlah lemah, sehingga dia tidak terima dengan kenyataan itu, dia iri akan kekuatan Suri yang sangat besar dan berniat jahat kepadanya. Suatu hari, Veni mengajak Suri untuk pergi ke gunung untuk menguji kekuatan mereka karena setiap tahun naga mereka akan menguji kekuatan mereka untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penyihir terhebat di dunia, tak disangka Veni telah menyiapkan perangkap untuk Suri di atas gunung adalah sebuah kuali yang bolong dan buku yang salah, sehingga ketika Suri ingin meracik kekuatannya dia akan gagal karena terbuang keluar dari kuali dan gagal mengikuti ujian tersebut. Karena kekuatan Suri lebih hebat dari pada Veni, Suri telah menyadari hal tersebut terlebih dahulu dan diam-diam menambal kuali tersebut dengan kekuatan fantastis dan dia tidak m...

Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025 - Anindhia Ramadhani

Suryalaya, (KANSAS).-   Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan acara diseminasi yang bertempat di hotel Grand Metro, Kota Tasikmalaya pada hari Senin, (13/10/2025).  Acara tersebut dihadiri oleh anggota DPR RI Komisi X  Bapak Ferdiansyah, SE., MM., Sekretaris Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bapak  Dr. Ganjar Harimansyah, S.S. M.Hum. dan Ibu Dr. Herawati, S.S., M.A. sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat . Acara ini diselenggarakan dengan tujuan menguatkan literasi kebahasaan dan kesusastraan guru-guru, dosen, pelajar, dan para pegiat literasi di Kota Tasikmalaya. Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025” membuka pandangan baru tentang pentingnya peran bahasa dan literasi di tengah derasnya arus globalisasi. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas dan jati diri bangsa. Namun, di era digital yang serba cepat, kesadaran masyarakat—terutama generasi muda—terhadap pentingnya literasi...