Langsung ke konten utama

Egois - Nurul Aulya

 



"Rey, bisa anter mommy ke gedung Aecly Square ga?" tanya Mommy Reynan. "Ada apa mom?" tanya Reynan.

"Mommy mau ketemu temen lama mommy" jawab Mommy Reynan.

Tanpa basa-basi, Reynan mengambil kuncil mobil dan langsung menyalakan mobil. Reynan pun mengantarkan Ibunya dengan mobil mewah milik keluarga Reynan. Tidak lama perjalanan, akhirnya mereka sampai di lobi. Sontak ketika Reynan membukakan pintu mobil untuk ibunya, ibunya turun dan berbisik kepada Reynan. "Ikut ke dalem dulu, yuk! Sebentar, keponakan temen Mommy katanya cantik, loh," rayu Mommy Reynan.

"No! Mom?! kan aku udah punya Felin! aku mau serius sama dia kali ini" ucap Reynan dengan tegas.

"Ayo, ikut dulu, sama orang tua jangan ngebantah, kenalan aja dulu, mommy ga akan jodohin kamu" jawab Mommy Reynan dengan santai.

Dengan segera Mommy Reynan menggandeng tangan Reynan dan menariknya untuk ikut masuk ke dalam gedung. Sesampainya didalam gedung Mommy Reynan menemui seseorang wanita seumurannya yang sedang duduk bersama seorang gadis. "Hai, sist?!" Sapa Mommy Reynan.

" Hai! apa kabar? " jawab Tante Rina.

"Oiya ini temen mommy namanya tante Rina, ini anak aku Rin" ucap Mommy Reynan memperkenalkan anaknya.

"Salken Tante, Reynan" sapa Reynan.

"Thea! Sini kenalan sama anak temen tante" ucap tante Rina ke Thea. Thea adalah gadis yang sedang duduk bersama Tante Rina, seketika Thea berdiri untuk menyapa Reynan dan Ibunya. Saat Thea menolehkan kepalanya dan berbalik badan. Reynan terkejut melihat seorang gadis dihadapan. Reynan merasa bertemu seseorang di 15 tahun yang lalu. Reynan gagal fokus melihat gadis tersebut memiliki paras yang begitu mirip dengan Lea, sang mantan.

" Lea?!" ucap Reynan dalam hati."

“Halo, Salken aku Thea" sapa Thea.

"Salken juga, aku Reynan" jawab Reynan

"Mommy aku pulang sekarang ya, ada urusan kerjaan" bisik Reynan kepada ibunya. Tidak lama Reynan memutuskan untuk pulang ke rumah, karena bingung dengan apa telah terjadi baru saja. Didalam perjalanan pulang Reynan bertanya-tanya bagaimana bisa ada seseorang yang begitu mirip dengan mantannya waktu itu. Sedangkan Reynan sudah kehilangan kabarnya selama 15 tahun lamanya. Sebenarnya Reynan dan Lea dahulu belum putus, namun ada hambatan diantara hubungan mereka yang menyebabkan Reynan akhirnya menyerah akan hubungannya.

v   

"Happy new year my love!" ucap Reynan dengan semangat kepada kekasih tercinta, Lea.

"Happy new year to! sayang liat kesana, kembang apinya bagus banget yah!" tutur Lea dengan gembira.

"Iya, ay cantik kembang apinya mirip kamu" "Kringggg...kring...." Terdengar suara dering telpon dari hp Lea. Ternyata itu adalah telpon dari Tante Lea yang di Amerika. Lea langsung mengangkat telpon tersebut.

"Halo Tante?" tanya Lea

"Lea! berangkat ke Amerika sekarang! Ayah kamu kecelakaan kapal disini, tante tunggu kamu secepatnya" ujar seseorang dari dalam telpon.

"Iya iya tante, aku take of sekarang," jawab Lea sembari menutup telponnya.

"Ada apa sayang?" Reynan bertanya.

"Sayang, Sorry aku harus ke Amerika sekarang ayah aku kecelakaan kapal laut di sana. Aku ga tau kapan aku bisa pulang ke Indonesia. Bisa jadi ini pertemuan terakhir kita, karena aku ga tahu keadaan ayah aku gimana di sana. Tapi aku janji bakal ngusahain ke Indonesia lagi buat ketemu kamu" ucap Lea untuk pertemuan terakhirnya sebelum take of ke Amerika dan meninggalkan Reynan. Tanpa basa basi Lea langsung memesan tiket pesawat dan take of  ke Amerika di hari itu setelah berpamitan kepada Reynan tanpa berkemas terlebih dahulu.

Bolehkah aku Egois? Aku selalu menunggu kehadiran-mu, meski sampai akhir hayat. Aku selalu mencintaimu, meski sampai aku hidup kembali. Aku selalu merindukan sosok dirimu, meski sekarang sudah hilang di hadapan ku sendiri. Akan kutunjukkan betapa aku mencintaimu, betapa aku merindukanmu, betapa aku setia padamu, betapa aku tak mau kehilanganmu, walau aku harus menunggu seribu tahun.

(catatan Reynan dalam buku diary spesialnya)

Nihil 10 tahun lamanya aku menunggu kepulangan mu, namun aku kehilangan dirimu, selalu gagal mendapatkan kabarmu, sekarang aku akan mencoba mengikhlaskan mu, akan ku dapatkan seseorang penggantimu.

-          Catatan terakhir di tahun 2019

Reynan membuka kembali buku diary yang dia simpan selama 15 tahun lalu. Catatan dalam buku itu berakhir di tahun 2019. Sebab di 2019 Reynan berusaha untuk move on dan menerima Felin sahabat Lea sendiri. Felin adalah orang yang telah mengejar-ngejar Reynan, disaat Lea pergi ke Amerika 15 tahun yang lalu . Pada tahun 2019 Reynan dan Felin pacaran, hingga pada tahun 2024 Reynan berniat menikahi Felin. "Sayang! anter aku check up ya besok" notifikasi pesan dari Felin.

v   

Keesokan harinya tiba di saat Reynan mengantarkan Felin check up ke Rumah Sakit Medika. "Gimana dok hasilnya?" tanya Reynan gugup.

"Saudari Felin baik-baik saja sebaiknya minum obat yang saya resepkan secara teratur, karena jika tidak keadaan lobus frontal otaknya akan memburuk. Saya tidak bisa memprediksi sampai kapan obat tersebut bisa mencegah kerusakan lobus frontal, namun diperkirakan Saudari Felin tidak akan bisa bertahan lama" ucap seorang Dokter.

Perasaan Reynan yang selalu ia rasakan disetiap kali menemani Felin check up tak bisa ia hindari. Gundah, gelisah, pilu, kasihan, tercampur aduk dalam perasaan Reynan. Dia tidak tega melihat seseorang yang bersamanya harus menderita penyakit yang sampai sekarang belum ada obat untuk menyembuhkannya. Ketika ia menatap mata Felin, tak terbayang seberapa sakit penyakit yang Felin derita. "Gimana sayang kata dokter?" tanya Felin dengan polos.

"Kamu baik-baik aja sayang, kata dokter kamu harus rutin minum obat, jangan sampe telat" jawab Reynan tenang. Setelah selesai check up, mereka bergegas  meninggalkan Rumah Sakit Medika dan bermaksud mencari makan siang. Saat mereka berada didepan lobby Rumah Sakit hendak memarkirkan mobil, mata Reynan tertuju pada seseorang wanita di seberang jalan. Felin tak menyangka gadis diseberang jalan itu mirip dengan Lea. Felin yang menyadari hal tersebut langsung mengalihkan perhatian Reynan. "Kamu lagi liatin apa sayang?" Tutur Felin dengan lembut sambil membelai pipi Reynan.

"Itu Thea sayang, ponakannya temen mommy aku," tutur Reynan dengan santai.

"what?! Thea ga salah denger? wanita itu kayak Lea" gumam Felin dalam hati terheran.

Tanpa Felin sadari, Reynan menghampiri wanita di seberang jalan itu, yang Reynan percayai bahwa wanita itu adalah Thea. Felin pun mengikuti Reynan karena penasaran siapa sebenarnya wanita tersebut.

"Haiii Thea! btw mau kemana? kok jalan sendirian" sapa Reynan.

"Hei?! Rey, Aku mau nyari makan sih, kan disini ada restoran yang makanannya enak" jawab Thea.

"Oiya kebetulan banget nih, Aku sama Felin juga lagi nyari makan" tutur Reynan.

"Wahhh! Pas banget nih ayo kita makan bareng aja" ajak Thea dengan antusias. Mereka pun pergi ke restoran terdekat, tanpa memberikan Felin kesempatan ikut berbicara. Seakan-akan Felin tidak dianggap ada disitu. Felin yang hanya bisa mendengarkan mereka berbicara, masih kebigungan dengan suasana yang terjadi.

v   

Tibalah saat dimana mereka sampai di Restoran Exclior. Mereka pun makan siang bersama. Saat Thea izin ke toilet, felin pun ikut ke toilet. "Lu Lea kan? kenapa lu pura-pura jadi Thea?" tanya Felin penasaran.

"Iya gue emang Lea! Emang salah gue pake nama kembaran gue yang udah meninggal?" Tegas Lea.

"Lu harusnya tepatin janji lo buat ga balik lagi ke Indonesia!" Ujar Felin.

"Gue ke Indonesia gara-gara denger katanya lo mau nikah sama Reynan, jahat banget ya lo!, gue cuman nyuruh lo buat jagain Reynan, bukan buat nikung gue!" Tutur Lea.

"Lo jangan ikut campur kehidupan gue! Gue udah bahagia sama Reynan," ucap Felin.

"Tenang, gue ga bakal ganggu hubungan lo, gue cuma mau liat seberapa licik lo ngekhianatin sahabat lo sendiri" Lea merasa kecewa. Felin tidak terima, ia bergegas keluar dari toilet dan mengajak Reynan untuk pulang bersamanya.

"Sayang, ayoo pulang, kepala aku tiba-tiba sakit" keluh Felin padahal itu akal-akalannya mencari alasan agar Reynan menyetujui mengantarnya pulang.

"Ish, sayang, iya kita pulang, aku anterin kamu ke rumah, abis itu istirahat yang cukup, jangan lupa obatnya diminum yaa," ucap Reynan

"Felin kenapa Rey?" Tanya Thea selepas kembali dari toilet. "Gapapa, Felin kecapean abis check up rutin, cuma butuh istirahat kok, maaf ya kita pulang duluan" jelas Reynan.

"Ohh iya hati-hati dijalan" ucap Lea. "Felin check up rutin? felin sakit? perasaan dia dari dulu ga punya penyakit kronis" bisiknya dalam hati terheran.

v   

"Sial! Sepertinya aku gagal melupakanmu Lea. Bagaimana bisa Thea mengingatkanku kembali padamu Lea. Cintaku kembali tak peduli seberapa dalam penantianku yang terabaikan. Bahagiaku seolah kembali walaupun itu bukan kamu. Bisakah aku kembali berharap." Reynan termenung dalam lamunannya. Tulis Reynan pada secarik kertas dalam buku diary spesialnya. Setelah sekian lama selama lima tahun Reynan tidak menulis di buku diary. Ia mulai kembali menulis di buku diary itu setelah bertemu dengan Thea di hari itu.

Suatu ketika Felin menemukan buku diary spesial Reynan yang tersimpan rapi di dalam laci lemari. Felin penasaran dengan isi buku diary tersebut. Ia memberanikan diri untuk membacanya. Saat ia membuka halaman pertama buku diary itu, ia menemukan album foto kenangan mesra Reynan dan Lea 15 tahun yang lalu. Foto-foto itu masih tersusun rapih dan bersih tanpa sedikitpun noda debu. Setiap foto tersebut menyimpan kenangan indah disertai dengan kumpulan kata dan rangkaian kalimat manis. "Lea berutung banget dapet cowo kayak Reynan, cowo yang kasih sayangnya tanpa batas. Aku selalu iri liat hubungan kalian yang setia dan cinta yang selalu utuh.

Aku ga pernah bisa dapetin apa yang kamu raih, aku ga pernah ngerasain itu. Walaupun aku sekarang yang sama Reynan, tapi perlakuan spesial Reynan ke kamu ga pernah di berikan ke aku. Aku tetep aja ga akan bisa bahagia meskipun udah berkorban. Aku emang ga pantes jadi peran utama dalam kisah orang yang aku anggap spesial," tulis Felin dalam halaman terakhir di buku diary milik Reynan.

"Sayang? Felin sayang? Ini makanannya udah dateng, Kamu dimana?" Reynan memanggil sembari mencari Felin.

"Brakkkkkkk" katung kresek berisi nasi goreng yang masih hangat jatuh begitu saja.

"Felin?!" teriak Reynan histeris.

"Brughhhhhhh" badan Reynan seketika lemas tak berdaya, seraya melihat badan Felin terdampar diatas lantai. Reynan terkejut saat melihat Felin pingsan sambil memegang buku diary miliknya. Dengan sigap Reynan menggendong Felin ke dalam mobil. Lalu mengantarkannya menuju Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.

"Aduh, Reynan, ga semestinya kamu bikin Felin sakit hati, kamu tuh harusnya udah hilang rasa sama Lea, kenapa masih mikirin dia mulu sih, ga semestinya kamu menganggap Thea itu Lea, inget sekarang kan kamu udah punya Felin, kamu harus jaga dia, dia itu sakit butuh perhatian lebih dari kamu, fokus sama Felin sekarang, dia butuh kamu sedangkan Lea di luar sana? belum tentu" ujarnya dalam hati dengan penuh rasa bersalah.

"Dokter ayah saya kenapa? Ayah saya baik-baik aja kan?" Tanya Lea saat menemui Dokter sehabis memeriksa Ayahnya.

"Pasien divonis terkena Stroke ringan, maka saya sarankan untuk tidak beraktivitas berat. Tapi saya menemukan hal aneh saat saya melakukan CT scan terhadap otaknya. Semacam terjadi kerusakan namun ada bekas transplantasi. Apakah pernah menjalani operasi di otaknya?" tanya dokter.

"Ayah saya pernah menjalani operasi otak di Amerika setelah kecelakaan kapal Dok" jawab Lea.

"Bisa jadi stroke yang di alami oleh pasien dipengaruhi oleh kegagalan operasi tersebut. Saya akan meresepkan obat untuk meredakan gejala dan mencegah peningkatan Strokenya. Anda boleh membawa pulang pasien, secepatnya akan segera siuman" ujar dokter.

"Terima kasih Dokter" ucap Lea. Lea pun pergi keluar dari ruangan dokter tersebut bersama Ayahnya. Ia membawa ayahnya menggunakan kursi roda karena belum siuman. Di sepanjang koridor Rumah Sakit, Lea terus menerus memikirkan operasi 15 tahun yang lalu. Lea curiga bahwa ada suatu rahasia dibalik operasi tersebut.

"Thea?" teriak laki-laki dari arah belakang. Tidak disangka orang yang memanggil dari kejauhan itu adalah Reynan. Betapa terkejutnya Lea, ia panik dan ingin menghindar dari Reynan. Namun apalah daya, ia tidak bisa menghindar karena Reynan telah berlari menghampirinya.

"Ada yang sakit? Itu yang duduk di kusi roda siapa?" tanya Reynan.

"A-aku nganter ayah aku berobat" jawab Lea terbata-bata. "Reynan?" suara ayah Lea seraya terbangun di kursi roda.

"Om?! I… ini? beneran ayah kamu? Ini kan ayah Lea? Kamu Lea?" Reynan terkejut. "Emm.... I…iya aku Lea, kasih aku waktu, aku mau anterin pulang ayah aku dulu" tutur Lea. Lea tidak bisa berbohong lagi, ia terpaksa harus jujur. Lalu Lea pergi mengantarkan ayahnya ke mobil. Setelah itu Lea kembali menemui Reynan yang sedang duduk di tempat yang sama. " Rey, sorry... Aku udah bohong sama kamu selama ini" ucap Lea sambil duduk di samping Reynan.

"Lea kamu tau gimana perasaan aku saat nunggu kepulangan kamu? gimana perasaan aku saat ketemu kamu lagi?, gimana perasaan aku saat kamu bukan lea?, kamu tau? gimana perasaan aku selama ini?" bentak Reynan sembari meneteskan air dari matanya.

"Rey, aku ga bisa jelasin semuanya sekarang," sambil mengusap pundak Reynan dengan halus. "Kamu ga ngerasain ada di posisi aku Lea! Betapa berat selama 15 tahun aku nunggu kamu hingga akhirnya aku coba buat merelakanmu, aku terpaksa nerima Felin demi aku bisa lupain kamu! Tapi dengan mudah kamu hancurin itu! Kamu malah dateng lagi seenaknya, membuat hancur perasaan aku." Emosi Reynan mulai memuncak.

"Iya aku emang egois Rey. Aku cuma mikirin kesehatan ayahku tanpa peduliin kamu. Aku hanya fokus pada penyakit ayah aku, tentang stroke dan operasinya yang gagal, tanpa inget sama perasaan kamu"

Lea terbawa suasana dan tanpa sadar air matanya menetes. "Ayah kamu belum sembuh Lea?" tanya Reynan emosinya mulai menurun.

"Udahlah, Rey, jangan bahas itu. Kamu gak tau keadaannya kayak gimana. Intinya aku emang jahat buat kamu, lebih baik kamu kembali ukir kenangan indah sama Felin. Felin adalah penggantiku dengan versi yang lebih baik" Lea beranjak dari kursi dan perlahan meninggalkan Reynan.

"T… tapi bukan itu yang aku mau Lea." Reynan mencoba meraih tangan Lea, namun Lea menolak dan memaksa tangannya dilepaskan. Lea berlari keluar Rumah Sakit. "Lea! gak peduli seberapa sakit aku. Aku masih mau kamu!" teriak Reynan dari kejauhan walau Lea mungkin tak akan mendengarkan ucapannya. Tidak diduga, sebenarnya pembicaraan mereka berdua dari awal telah didengar oleh Felin dari kejauhan.

Saat Felin terbangun dari pingsan, Felin keluar dari ruangannya. Felin tidak sengaja melihat mereka berdua sedang berbincang. Felin mengintip mereka berdua dan menguping pembicaraan dari awal sampai akhir. Di satu sisi Felin bahagia namun di sisi lain Felin kecewa. Felin bahagia saat melihat Lea lebih memilih tidak kembali dengan Reynan. Namun, Felin merasa kecewa ketika Reynan malah masih menginginkan Lea.

Usaha Felin selama lima tahun bersama Reynan seakan-akan percuma. Tetapi Felin tidak menyerah begitu saja, ia akan berjuang sampai akhir meski takdir berkata lain. "Sayang! Aku udah baikan kok kita pulang aja," ujar Felin dari belakang sambil menepuk pundak Reynan.

 "Loh sayang? Kamu sejak kapan udah siuman?" tanya Reynan. "Barusan kok, aku langsung nyari kamu pengen cepet pulang" jawab Felin. "Yaudah iya sayang, kita pulang" ucap Reynan.

v   

Di dalam mobil saat perjalanan pulang. Tiba-tiba Felin melontarkan pertanyaan yang tidak terduga. "Sayang! Kamu sayang sama aku ga?" tanya Felin.

"Hahaha, kamu ini random banget, pasti sayang lah makanya aku mau nikahin kamu" jawab Reynan.

"Tapi kenapa kamu jadiin aku pelampiasan?" tanya Felin menyudutkan Reynan.

"H-hah? maksud kamu apa sayang?" Reynan bingung.

"Kamu gak usah bermuka dua! Aku cuma dijadiin pilihan terakhir saat Lea ninggalin kamu kan? Aku cuma alat buat lupain Lea kan?! Aku udah tau semuanya! Aku tau kamu masih berharap sama Lea! Kamu egois! Seharusnya kamu gak bisa menaruh 2 orang dalam 1 hati. Semua perlakuan manis kamu itu cuma rasa kasihan kamu karena aku penyakitan kan? Kamu mikir aku bentar lagi juga mati kan? Oke aku juga bakal Egois! Kalo aku ga bisa dapetin kamu maka orang lain pun gak boleh dapetin kamu termasuk Lea!" ucap Felin. Dengan cepat Felin meraih stir mobil dan memutar-mutar stir tersebut meski ditahan oleh Reynan.

"Diem Felin! Lepasin stirnya! Kamu udah gila yah?!" teriak Reynan panik.

"Enggak!" teriak Felin. "Felin! Berhenti!" teriak Reynan berusaha menghentikan Felin.

"Gak! gak akan aku lepasinnnn!" teriak Felin. "Felin! ga harus dengan cara bunuh diri juga!" ucap Reynan baik-baik. "Reynannnnn!" jerit Felin saat melihat truk akan menabrak dari arah berlawanan.

"Felin!" Reynan berteriak. "Beep! Beep! Beepppppppp!!!!" suara klakson truk mendekat.

"Brughhhhhhhh" Truk dari lawan arah tersebut menabrak mobil mereka dan menyebabkan kecelakaan.

v   

"Ayah! Tante ayah dimana?" ujar Lea ketika sampai di Rumah Sakit Exscien Amerika sembari berlari ke arah Tante Rina.

"Ayah kamu ada di ruang ICU" jawab Tante Rina. "A-aku pengen liat kondisi ayah Tante" ucap Lea tak bisa menahan air matanya. "Kamu gak bisa liat dia, dia lagi koma keadaannya kritis" ujar Tante Rina.

"Hiks..Hiks..., Kenapa ayah bisa kecelakaan, Tante...?" tanya Lea air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. "Ayah kamu saat sedang tugas di kapal, terjadi ledakan didalam kapal saat sedang berlayar, masih belum di ketahui penyebabnya" tutur Tante Rina.

"Kenapa semua ini bisa terjadi? Hikss... Hiks..... " bisiknya dalam hati. Berita kecelakaan kapal laut di Amerika pada tahun 2009 sampai ke Indonesia. Kecelakaan ini adalah kecelakaan kapal laut terbesar sepanjang sejarah karena memakan ribuan korban jiwa. Hanya sedikit penumpang kapal yang selamat, sisanya tercatat kritis di Rumah Sakit.

Felin sahabat Lea yang mendengar kabar tersebut spontan menelepon Lea karena khawatir ingin menanyakan bagaimana keadaan Ayah Lea di Amerika. "Halo? Lea? Ayah kamu gapapa kan?" ucap Felin dari telepon.

"I-iya halo Fel, Ayah aku koma keadaannya kritis Fel. Aku disini ga tau harus gimana. Rumah Sakit Exscien tempat ayah aku dirawat gak bisa memberikan pengobatan maksimal selain harus menunggu keadaannya membaik dengan otomatis, kecuali ada keajaiban" jawab Lea dengan nada pilu.

"Ahh, aku kasihan sama kamu. Aku nyusul ke Amerika yah, Ayah aku juga salah satu ahli bedah terbaik yang punya Rumah Sakit cukup besar di Amerika. Aku akan coba bicara sama ayah aku, siapa tau dia bisa membantu" ucap Felin terpikir suatu rencana. Singkat cerita Felin sudah berada di Amerika.

Felin dengan Lea telah bertemu dan ayah Lea dipindahkan ke Rumah Sakit Scifeer milik keluarga Felin. Memang benar Rumah Sakit itu milik keluarga Felin namun Ayah Felin bukanlah ahli bedah. Tetapi hanya sebatas Investor terbesar Rumah Sakit itu. Ahli bedah itu sekedar kenalan Felin. Ia berbohong kepada Lea agar Lea tidak segan dan percaya padanya. Kinerja Ahli bedah itu sangat baik, tenaga medis di Rumah Sakit tersebut dengan sigap memeriksa ayah Lea. Mereka mencari faktor utama yang menyebabkan ayah Lea kritis.

Setelah selesai memeriksa, Ahli bedah mengajak Felin berbincang. "Pasien ini tidak bisa diselamatkan, waktu bertahannya ga akan lama, di otaknya ada kerusakan, jaringan bagian lobus frontalnya ada yang pecah," jelas Ahli bedah kenalan Felin. "Emang gak ada cara lain ya?" tanya Felin. "Ada, dengan operasi transplantasi lobus frontal tapi operasi ini sangat berbahaya. Sebab membutuhkan orang yang siap mendonorkan lobus frontalnya untuk di transplantasi. Pengaruhnya pun bukan hanya kepada pasien tetapi kepada pendonor, karena ini bersangkutan dengan hidup dan mati. Walaupun bisa bertahan untuk keduanya boleh jadi tidak akan lebih dari 15 tahun.

 Aktivitas sehari-harinya pun akan sering terganggu" ujar ahli bedah. "Saya siap menjadi pendonor" ucap Felin dengan tegas. "Kamu yakin? Kamu siap menerima konsekuensinya?" tanya ahli bedah.

"Iya saya siap, tapi beri aku waktu untuk berbicara dahulu dengan wali pasien itu" ujar Felin. Felin pun pergi keluar ruangan pemeriksaan. Lalu Felin menghampiri Lea dan berbincang dengannya. "Lea, ayah kamu bisa diselamatkan aku jamin kamu ga perlu ngeluarin biaya yang besar tapi aku minta satu syarat," ucap Felin.

"Iya aku bakal nyetujui apa pun itu, asalkan ayah aku sehat seperti semula," ujar Lea.

"Aku pengen minta kamu jauhin Reynan, jangan pernah temuin dia lagi, jangan kabarin dia lagi" Felin memanfaatkan keadaan.

"Emm...I-iya, aku gak peduli yang penting ayah aku sembuh, tapi aku titip jaga dia" jawab Lea tanpa berpikir panjang langsung menyetujui. "Iya, ayah kamu akan dioperasi sekarang" tutur Felin.

v   

"Reynan?" suara lembut keluar dari bibir Felin. " Felin?! Kamu udah sadar? Syukurlah," ucap Reynan bahagia.

"Akhh..." Felin menggeram kesakitan pada kepalanya.

"Kamu jangan banyak gerak dulu. Kondisi kamu belum stabil, kamu koma dari tujuh hari yang lalu. Aku yang merawat kamu dalam seminggu ini." Reynan berucap dengan lemah lembut.

"Kamu gapapa, Rey?" tanya Felin. "Liat? Aku gapapa kok, luka aku juga ga parah. Aku lebih sedih liat kamu kemarin terbaring tak bergerak karena kecelakaan itu bikin kamu pendarahan hebat di otak, " jawab Reynan.

"Gak perlu sedih, Rey. Hidup aku pun gak akan lama lagi. Sebelum aku pergi, aku minta kamu buka dompet kesayangan aku yang dulu kamu berikan sebagai kado ulang tahun. Didalamnya terdapat surat yang udah aku tulis tujuh hari yang lalu. Meskipun ini bukan akhir yang aku inginkan tapi aku sudah pasrah dan tidak akan lagi memaksakan takdir" kalimat terakhir kali yang Felin ucapkan sebelum akhirnya Felin menghembuskan nafas terakhirnya. "Felin! " teriak Reynan.

v   

Seminggu kemudian, setelah Reynan berduka cita atas kepergian Felin. Reynan datang menemui Lea di ruang tempat ayah Lea dirawat. Mereka duduk dikursi depan ruang tersebut.

"Gimana keadaan ayah kamu Lea?" tanya Reynan.

" Makin hari kondisinya makin memburuk Rey, aku gak tau harus gimana, sebenarnya aku ingin menanyakan banyak hal ke Felin. Felin baik-baik aja kan?" ujar Lea.

"Felin udah gak ada Lea" ucap Reynan

"H-hah? Serius Rey?!" Lea terkejut. "Iya Lea, sekarang Felin udah tenang di alam sana. Oiya Felin menintipkan surat untukmu, mungkin surat ini akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaanmu," ucap Reynan.

"Hai! ini Felin, Lea kalo kamu baca surat ini mungkin aku udah ga sama Reynan lagi atau bahkan udah ga bisa kamu lihat lagi di dunia. Setelah aku ga ada kamu harus tau kebenaran yang terjadi, karena aku ga sejahat yang kamu pikirkan. Maaf aku baru jujur sekarang, karena aku gak mau kamu merasa iba sama aku. Aku sadar ayahmu pasti terkena stroke saat aku melihat kamu ke Rumah Sakit bersama ayahmu.

Aku mendengar semua perbincangamu bersama Reynan. Ayah kamu itu stroke bukan tanpa alasan, tapi bukan juga karena proses operasi dahulu yang gagal. Kamu pun tahu Rumah Sakit keluargaku di Amerika termasuk Rumah Sakit dengan tenaga medis yang profesional dan fasilitas alat bedah yang berkualitas dan modern. Stroke itu adalah efek samping jangka panjang yang timbul karna perlakuan transplantasi lobus frontal otak ayah kamu. Lantas jaringan lobus frontal milik siapa yang di transplantasikan? Itu milik aku. Ayah kamu ga akan selamat tanpa transplantasi itu, walaupun aku tidak bisa menjamin ayahmu hidup normal selamanya, bisa saja berakhir sepertiku.

Maaf aku nyembunyiin ini semua dari kamu dan Reynan. Aku udah tau resiko yang akan aku hadapi dari 15 tahun lalu. Iya aku egois, aku ngerusak hubungan kamu dan Reynan, hanya demi aku bisa mendapatkan Reynan, meskipun Reynan sayang padaku hanya berlandaskan kasihan. Tetapi itu pun cukup membuatku merasa bahagia dan dicintai meskipun tidak sampai menikah. Sekarang tidak akan ada lagi penghalang diantara hubungan kalian. Jangan merasa bersalah padaku, aku sudah menanggung segala konsekuensi atas apa yang aku perbuat. Jangan terlalu membenciku. Setidaknya aku sudah membuat ayahmu hidup sedikit lebih lama. - Salam hangat Felin Isi surat dari Felin.

"Felinnn... hiks.. hiks.." Lea menangis tersedu-sedu. Air mata Lea membanjiri pipinya. Suara tangisannya menggores hati Reynan. Reynan selalu tak tega melihat Lea menangis. Reynan mendekapkan badan Lea kedalam pelukan hangatnya. Tangan Reynan meraih kepala Lea dan mengelus-elus kepalanya secara perlahan sambil menenangkannya. "Udah.... Jangan nangis lagi" ucap Reynan.

"Gak seharusnya semua ini terjadi sama Felin, Rey. Andai aku tahu lebih awal, aku mau putar kembali waktu. Aku gak akan kembali ke Indonesia atas keegoisan aku. Aku akan biarkan Felin bahagia walau sekejap. Aku gak akan berpikir Felin jahat padahal dia berkorban. Harusnya aku habiskan waktu bersama ayah di Amerika" ucap Lea. " Gak Lea! Ini semua salah aku. Aku yang gak bisa bikin Felin bahagia, aku malah nyakitin hatinya. Aku dari awal harusnya bisa lebih sabar. Aku terima aku dijadiin taruhan jika itu untuk kebaikan ayah kamu.

Sekarang Felin udah gak ada. Kita bisa kan mulai kembali hubungan kita. Sejauh ini aku gak pernah cape sama kamu" ujar Reynan. " Gak Rey, aku harus nanggung penderitaan Felin selama 15 tahun terakhir ini. Aku gak bisa kembali sama kamu, aku bakal ngehabisin masa-masa terakhir ayah aku dengan membuat dia bahagia. Walaupun aku harus ngerelain kamu. Maaf aku gak bisa janji ke kamu lagi untuk ke dua kalinya. Maaf juga untuk kedua kalinya aku bakal nyakitin lagi hati kamu. Maaf untuk segalanya, seharusnya dulu kita gak pernah ketemu. Biar aku aja yang nanggung semuanya dengan penyesalan" ucap Lea sembari melepaskan rangkulan Reynan dan pergi dari Reynan.

"Lea! Kamu tega liat aku menyimpan rasa bersalah sendirian? Oke kalau ini yang terbaik menurut kamu. Aku akan jalani hidup sendiri tanpa orang yang mendampingi hidupku" ujar Reynan seraya menatap kepergian Lea yang semakin jauh. "Sebaiknya memang begitu Rey.

Kita sama-sama sakit disini" bisik dalam batin Lea saat berjalan menjauh dari Reynan. Akhirnya Lea memilih menjauh dari Reynan dan tidak pernah menghubunginya lagi. Lea menghabiskan hidupnya untuk merawat ayahnya seorang diri. Lalu Reynan pun tak pernah mencari Lea. Reynan menjalani hidupnya seorang diri tanpa kekasih ataupun pendamping hidup. Karena semua itu adalah keputusan yang terbaik menurut mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indra Rahayu - Kongkalikong

  Di bawah lampu redup, dalam sangkar yang tergantung di halaman rumah, burung berbulu indah itu tercenung. Menatap gelap langit, cahaya bulan bersembunyi di balik awan malam itu. Hanya terdengar suara kentungan, yang dibunyikan untuk menandai bahwa waktu sudah pukul dua dini hari.   “Esok, aku ingin orang yang memeliharaku hilang ingatan dan lupa bahwa ia memiliki burung yang cantik.” Bergumam, keinginannya untuk mati meluap. Ia tak pernah benar-benar ingin meninggalkan tubuh indahnya. Namun, ironi yang diderita akan lebih indah jika burung itu mati karena dilupakan.   -   Sial, aku terbangun lagi. Aku membenci ketika mataku terbuka di setiap pagi, dan apa yang kulihat dalam terjaga adalah dunia yang berisi orang-orang gila. Cahaya pagi menyuruk, mengampiri mataku. Memaksa untuk beranjak dari tempat tidur. Aku tak mau pergi dari tempat ini, biar debu-debu dari setiap sudut ruangan ini terus kuhirup, aku menunggu sampai benar-benar sesak. Kem u dian,...

Cerita Fantasi: Penyihir Licik - Siti Latifah

Pada suatu hari,  di hutan belantara hiduplah dua penyihir cantik bernama Veni dan Suri, Suri memiliki kekuatan yang begitu besar jauh di atas kemampuan Veni. Suatu hari, Veni menyadari bahwa kekuatannya sangatlah lemah, sehingga dia tidak terima dengan kenyataan itu, dia iri akan kekuatan Suri yang sangat besar dan berniat jahat kepadanya. Suatu hari, Veni mengajak Suri untuk pergi ke gunung untuk menguji kekuatan mereka karena setiap tahun naga mereka akan menguji kekuatan mereka untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penyihir terhebat di dunia, tak disangka Veni telah menyiapkan perangkap untuk Suri di atas gunung adalah sebuah kuali yang bolong dan buku yang salah, sehingga ketika Suri ingin meracik kekuatannya dia akan gagal karena terbuang keluar dari kuali dan gagal mengikuti ujian tersebut. Karena kekuatan Suri lebih hebat dari pada Veni, Suri telah menyadari hal tersebut terlebih dahulu dan diam-diam menambal kuali tersebut dengan kekuatan fantastis dan dia tidak m...

Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025 - Anindhia Ramadhani

Suryalaya, (KANSAS).-   Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan acara diseminasi yang bertempat di hotel Grand Metro, Kota Tasikmalaya pada hari Senin, (13/10/2025).  Acara tersebut dihadiri oleh anggota DPR RI Komisi X  Bapak Ferdiansyah, SE., MM., Sekretaris Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bapak  Dr. Ganjar Harimansyah, S.S. M.Hum. dan Ibu Dr. Herawati, S.S., M.A. sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat . Acara ini diselenggarakan dengan tujuan menguatkan literasi kebahasaan dan kesusastraan guru-guru, dosen, pelajar, dan para pegiat literasi di Kota Tasikmalaya. Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025” membuka pandangan baru tentang pentingnya peran bahasa dan literasi di tengah derasnya arus globalisasi. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas dan jati diri bangsa. Namun, di era digital yang serba cepat, kesadaran masyarakat—terutama generasi muda—terhadap pentingnya literasi...