"Rey, bisa anter mommy ke gedung Aecly
Square ga?" tanya Mommy Reynan. "Ada apa mom?" tanya Reynan.
"Mommy mau ketemu temen lama mommy"
jawab Mommy Reynan.
Tanpa basa-basi, Reynan mengambil kuncil mobil
dan langsung menyalakan mobil. Reynan pun mengantarkan Ibunya dengan mobil
mewah milik keluarga Reynan. Tidak lama perjalanan, akhirnya mereka sampai di
lobi. Sontak ketika Reynan membukakan pintu mobil untuk ibunya, ibunya turun
dan berbisik kepada Reynan. "Ikut ke dalem dulu, yuk! Sebentar, keponakan
temen Mommy katanya cantik, loh,"
rayu Mommy Reynan.
"No! Mom?!
kan aku udah punya Felin! aku mau serius sama dia kali ini" ucap Reynan
dengan tegas.
"Ayo, ikut dulu, sama orang tua jangan
ngebantah, kenalan aja dulu, mommy ga
akan jodohin kamu" jawab Mommy Reynan dengan santai.
Dengan segera Mommy Reynan menggandeng tangan Reynan dan menariknya untuk ikut
masuk ke dalam gedung. Sesampainya didalam gedung Mommy Reynan menemui seseorang wanita seumurannya yang sedang duduk
bersama seorang gadis. "Hai, sist?!" Sapa Mommy Reynan.
" Hai! apa kabar? " jawab Tante Rina.
"Oiya ini temen mommy namanya tante Rina, ini anak aku Rin" ucap Mommy Reynan memperkenalkan
anaknya.
"Salken Tante, Reynan" sapa Reynan.
"Thea! Sini kenalan sama anak temen
tante" ucap tante Rina ke Thea. Thea adalah gadis yang sedang duduk
bersama Tante Rina, seketika Thea berdiri untuk menyapa Reynan dan Ibunya. Saat
Thea menolehkan kepalanya dan berbalik badan. Reynan terkejut melihat seorang
gadis dihadapan. Reynan merasa bertemu seseorang di 15 tahun yang lalu. Reynan
gagal fokus melihat gadis tersebut memiliki paras yang begitu mirip dengan Lea,
sang mantan.
" Lea?!" ucap Reynan dalam hati."
“Halo, Salken
aku Thea" sapa Thea.
"Salken
juga, aku Reynan" jawab Reynan
"Mommy aku pulang sekarang ya, ada urusan
kerjaan" bisik Reynan kepada ibunya. Tidak lama Reynan memutuskan untuk
pulang ke rumah, karena bingung dengan apa telah terjadi baru saja. Didalam
perjalanan pulang Reynan bertanya-tanya bagaimana bisa ada seseorang yang
begitu mirip dengan mantannya waktu itu. Sedangkan Reynan sudah kehilangan
kabarnya selama 15 tahun lamanya. Sebenarnya Reynan dan Lea dahulu belum putus,
namun ada hambatan diantara hubungan mereka yang menyebabkan Reynan akhirnya
menyerah akan hubungannya.
v
"Happy
new year my love!" ucap Reynan dengan semangat kepada kekasih
tercinta, Lea.
"Happy
new year to! sayang liat kesana, kembang apinya bagus banget yah!"
tutur Lea dengan gembira.
"Iya, ay
cantik kembang apinya mirip kamu" "Kringggg...kring...." Terdengar suara dering telpon dari hp
Lea. Ternyata itu adalah telpon dari Tante Lea yang di Amerika. Lea langsung
mengangkat telpon tersebut.
"Halo Tante?" tanya Lea
"Lea! berangkat ke Amerika sekarang! Ayah
kamu kecelakaan kapal disini, tante tunggu kamu secepatnya" ujar seseorang
dari dalam telpon.
"Iya iya tante, aku take of sekarang," jawab Lea sembari menutup telponnya.
"Ada apa sayang?" Reynan bertanya.
"Sayang, Sorry aku harus ke Amerika sekarang ayah aku kecelakaan kapal laut
di sana. Aku ga tau kapan aku bisa pulang ke Indonesia. Bisa jadi ini pertemuan
terakhir kita, karena aku ga tahu keadaan ayah aku gimana di sana. Tapi aku
janji bakal ngusahain ke Indonesia lagi buat ketemu kamu" ucap Lea untuk
pertemuan terakhirnya sebelum take of ke Amerika dan meninggalkan Reynan. Tanpa
basa basi Lea langsung memesan tiket pesawat dan take of ke Amerika di hari
itu setelah berpamitan kepada Reynan tanpa berkemas terlebih dahulu.
Bolehkah aku Egois? Aku selalu
menunggu kehadiran-mu, meski sampai akhir hayat. Aku selalu mencintaimu, meski
sampai aku hidup kembali. Aku selalu merindukan sosok dirimu, meski sekarang
sudah hilang di hadapan ku sendiri. Akan kutunjukkan betapa aku mencintaimu, betapa
aku merindukanmu, betapa aku setia padamu, betapa aku tak mau kehilanganmu,
walau aku harus menunggu seribu tahun.
(catatan Reynan dalam buku
diary spesialnya)
Nihil 10 tahun lamanya aku
menunggu kepulangan mu, namun aku kehilangan dirimu, selalu gagal mendapatkan
kabarmu, sekarang aku akan mencoba mengikhlaskan mu, akan ku dapatkan seseorang
penggantimu.
-
Catatan terakhir
di tahun 2019
Reynan membuka kembali buku diary yang dia
simpan selama 15 tahun lalu. Catatan dalam buku itu berakhir di tahun 2019.
Sebab di 2019 Reynan berusaha untuk move on dan menerima Felin sahabat Lea
sendiri. Felin adalah orang yang telah mengejar-ngejar Reynan, disaat Lea pergi
ke Amerika 15 tahun yang lalu . Pada tahun 2019 Reynan dan Felin pacaran,
hingga pada tahun 2024 Reynan berniat menikahi Felin. "Sayang! anter aku check up ya besok" notifikasi pesan
dari Felin.
v
Keesokan harinya tiba di saat Reynan mengantarkan
Felin check up ke Rumah Sakit Medika. "Gimana dok hasilnya?" tanya
Reynan gugup.
"Saudari Felin baik-baik saja sebaiknya
minum obat yang saya resepkan secara teratur, karena jika tidak keadaan lobus
frontal otaknya akan memburuk. Saya tidak bisa memprediksi sampai kapan obat
tersebut bisa mencegah kerusakan lobus frontal, namun diperkirakan Saudari
Felin tidak akan bisa bertahan lama" ucap seorang Dokter.
Perasaan Reynan yang selalu ia rasakan disetiap
kali menemani Felin check up tak bisa
ia hindari. Gundah, gelisah, pilu, kasihan, tercampur aduk dalam perasaan
Reynan. Dia tidak tega melihat seseorang yang bersamanya harus menderita
penyakit yang sampai sekarang belum ada obat untuk menyembuhkannya. Ketika ia
menatap mata Felin, tak terbayang seberapa sakit penyakit yang Felin derita.
"Gimana sayang kata dokter?" tanya Felin dengan polos.
"Kamu baik-baik aja sayang, kata dokter
kamu harus rutin minum obat, jangan sampe telat" jawab Reynan tenang.
Setelah selesai check up, mereka
bergegas meninggalkan Rumah Sakit Medika
dan bermaksud mencari makan siang. Saat mereka berada didepan lobby Rumah Sakit
hendak memarkirkan mobil, mata Reynan tertuju pada seseorang wanita di seberang
jalan. Felin tak menyangka gadis diseberang jalan itu mirip dengan Lea. Felin
yang menyadari hal tersebut langsung mengalihkan perhatian Reynan. "Kamu
lagi liatin apa sayang?" Tutur Felin dengan lembut sambil membelai pipi
Reynan.
"Itu Thea sayang, ponakannya temen mommy
aku," tutur Reynan dengan santai.
"what?!
Thea ga salah denger? wanita itu kayak Lea" gumam Felin dalam hati
terheran.
Tanpa Felin sadari, Reynan menghampiri wanita
di seberang jalan itu, yang Reynan percayai bahwa wanita itu adalah Thea. Felin
pun mengikuti Reynan karena penasaran siapa sebenarnya wanita tersebut.
"Haiii Thea! btw mau kemana? kok jalan
sendirian" sapa Reynan.
"Hei?! Rey, Aku mau nyari makan sih, kan
disini ada restoran yang makanannya enak" jawab Thea.
"Oiya kebetulan banget nih, Aku sama Felin
juga lagi nyari makan" tutur Reynan.
"Wahhh! Pas banget nih ayo kita makan
bareng aja" ajak Thea dengan antusias. Mereka pun pergi ke restoran
terdekat, tanpa memberikan Felin kesempatan ikut berbicara. Seakan-akan Felin
tidak dianggap ada disitu. Felin yang hanya bisa mendengarkan mereka berbicara,
masih kebigungan dengan suasana yang terjadi.
v
Tibalah saat dimana mereka sampai di Restoran
Exclior. Mereka pun makan siang bersama. Saat Thea izin ke toilet, felin pun
ikut ke toilet. "Lu Lea kan? kenapa lu pura-pura jadi Thea?" tanya
Felin penasaran.
"Iya gue emang Lea! Emang salah gue pake
nama kembaran gue yang udah meninggal?" Tegas Lea.
"Lu harusnya tepatin janji lo buat ga
balik lagi ke Indonesia!" Ujar Felin.
"Gue ke Indonesia gara-gara denger katanya
lo mau nikah sama Reynan, jahat banget ya lo!, gue cuman nyuruh lo buat jagain
Reynan, bukan buat nikung gue!" Tutur Lea.
"Lo jangan ikut campur kehidupan gue! Gue
udah bahagia sama Reynan," ucap Felin.
"Tenang, gue ga bakal ganggu hubungan lo,
gue cuma mau liat seberapa licik lo ngekhianatin sahabat lo sendiri" Lea
merasa kecewa. Felin tidak terima, ia bergegas keluar dari toilet dan mengajak Reynan
untuk pulang bersamanya.
"Sayang, ayoo pulang, kepala aku tiba-tiba
sakit" keluh Felin padahal itu akal-akalannya mencari alasan agar Reynan
menyetujui mengantarnya pulang.
"Ish, sayang, iya kita pulang, aku anterin
kamu ke rumah, abis itu istirahat yang cukup, jangan lupa obatnya diminum yaa,"
ucap Reynan
"Felin kenapa Rey?" Tanya Thea
selepas kembali dari toilet. "Gapapa, Felin kecapean abis check up rutin, cuma butuh istirahat
kok, maaf ya kita pulang duluan" jelas Reynan.
"Ohh iya hati-hati dijalan" ucap Lea.
"Felin check up rutin? felin
sakit? perasaan dia dari dulu ga punya penyakit kronis" bisiknya dalam
hati terheran.
v
"Sial! Sepertinya aku gagal melupakanmu
Lea. Bagaimana bisa Thea mengingatkanku kembali padamu Lea. Cintaku kembali tak
peduli seberapa dalam penantianku yang terabaikan. Bahagiaku seolah kembali
walaupun itu bukan kamu. Bisakah aku kembali berharap." Reynan termenung
dalam lamunannya. Tulis Reynan pada secarik kertas dalam buku diary spesialnya.
Setelah sekian lama selama lima tahun Reynan tidak menulis di buku diary. Ia
mulai kembali menulis di buku diary itu setelah bertemu dengan Thea di hari
itu.
Suatu ketika Felin menemukan buku diary spesial
Reynan yang tersimpan rapi di dalam laci lemari. Felin penasaran dengan isi
buku diary tersebut. Ia memberanikan diri untuk membacanya. Saat ia membuka
halaman pertama buku diary itu, ia menemukan album foto kenangan mesra Reynan
dan Lea 15 tahun yang lalu. Foto-foto itu masih tersusun rapih dan bersih tanpa
sedikitpun noda debu. Setiap foto tersebut menyimpan kenangan indah disertai
dengan kumpulan kata dan rangkaian kalimat manis. "Lea berutung banget
dapet cowo kayak Reynan, cowo yang kasih sayangnya tanpa batas. Aku selalu iri
liat hubungan kalian yang setia dan cinta yang selalu utuh.
Aku ga pernah bisa dapetin apa yang kamu raih,
aku ga pernah ngerasain itu. Walaupun aku sekarang yang sama Reynan, tapi
perlakuan spesial Reynan ke kamu ga pernah di berikan ke aku. Aku tetep aja ga
akan bisa bahagia meskipun udah berkorban. Aku emang ga pantes jadi peran utama
dalam kisah orang yang aku anggap spesial," tulis Felin dalam halaman
terakhir di buku diary milik Reynan.
"Sayang? Felin sayang? Ini makanannya udah
dateng, Kamu dimana?" Reynan memanggil sembari mencari Felin.
"Brakkkkkkk"
katung kresek berisi nasi goreng yang masih hangat jatuh begitu saja.
"Felin?!" teriak Reynan histeris.
"Brughhhhhhh"
badan Reynan seketika lemas tak berdaya, seraya melihat badan Felin terdampar
diatas lantai. Reynan terkejut saat melihat Felin pingsan sambil memegang buku
diary miliknya. Dengan sigap Reynan menggendong Felin ke dalam mobil. Lalu
mengantarkannya menuju Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan
pertama.
"Aduh, Reynan, ga semestinya kamu bikin
Felin sakit hati, kamu tuh harusnya udah hilang rasa sama Lea, kenapa masih
mikirin dia mulu sih, ga semestinya kamu menganggap Thea itu Lea, inget
sekarang kan kamu udah punya Felin, kamu harus jaga dia, dia itu sakit butuh
perhatian lebih dari kamu, fokus sama Felin sekarang, dia butuh kamu sedangkan
Lea di luar sana? belum tentu" ujarnya dalam hati dengan penuh rasa
bersalah.
"Dokter ayah saya kenapa? Ayah saya
baik-baik aja kan?" Tanya Lea saat menemui Dokter sehabis memeriksa
Ayahnya.
"Pasien divonis terkena Stroke ringan,
maka saya sarankan untuk tidak beraktivitas berat. Tapi saya menemukan hal aneh
saat saya melakukan CT scan terhadap otaknya. Semacam terjadi kerusakan namun
ada bekas transplantasi. Apakah pernah menjalani operasi di otaknya?"
tanya dokter.
"Ayah saya pernah menjalani operasi otak
di Amerika setelah kecelakaan kapal Dok" jawab Lea.
"Bisa jadi stroke yang di alami oleh
pasien dipengaruhi oleh kegagalan operasi tersebut. Saya akan meresepkan obat
untuk meredakan gejala dan mencegah peningkatan Strokenya. Anda boleh membawa
pulang pasien, secepatnya akan segera siuman" ujar dokter.
"Terima kasih Dokter" ucap Lea. Lea
pun pergi keluar dari ruangan dokter tersebut bersama Ayahnya. Ia membawa
ayahnya menggunakan kursi roda karena belum siuman. Di sepanjang koridor Rumah
Sakit, Lea terus menerus memikirkan operasi 15 tahun yang lalu. Lea curiga bahwa
ada suatu rahasia dibalik operasi tersebut.
"Thea?" teriak laki-laki dari arah
belakang. Tidak disangka orang yang memanggil dari kejauhan itu adalah Reynan.
Betapa terkejutnya Lea, ia panik dan ingin menghindar dari Reynan. Namun apalah
daya, ia tidak bisa menghindar karena Reynan telah berlari menghampirinya.
"Ada yang sakit? Itu yang duduk di kusi
roda siapa?" tanya Reynan.
"A-aku nganter ayah aku berobat"
jawab Lea terbata-bata. "Reynan?" suara ayah Lea seraya terbangun di
kursi roda.
"Om?! I… ini? beneran ayah kamu? Ini kan
ayah Lea? Kamu Lea?" Reynan terkejut. "Emm.... I…iya aku Lea, kasih
aku waktu, aku mau anterin pulang ayah aku dulu" tutur Lea. Lea tidak bisa
berbohong lagi, ia terpaksa harus jujur. Lalu Lea pergi mengantarkan ayahnya ke
mobil. Setelah itu Lea kembali menemui Reynan yang sedang duduk di tempat yang
sama. " Rey, sorry... Aku udah bohong sama kamu selama ini" ucap Lea
sambil duduk di samping Reynan.
"Lea kamu tau gimana perasaan aku saat
nunggu kepulangan kamu? gimana perasaan aku saat ketemu kamu lagi?, gimana
perasaan aku saat kamu bukan lea?, kamu tau? gimana perasaan aku selama
ini?" bentak Reynan sembari meneteskan air dari matanya.
"Rey, aku ga bisa jelasin semuanya
sekarang," sambil mengusap pundak Reynan dengan halus. "Kamu ga
ngerasain ada di posisi aku Lea! Betapa berat selama 15 tahun aku nunggu kamu
hingga akhirnya aku coba buat merelakanmu, aku terpaksa nerima Felin demi aku
bisa lupain kamu! Tapi dengan mudah kamu hancurin itu! Kamu malah dateng lagi
seenaknya, membuat hancur perasaan aku." Emosi Reynan mulai memuncak.
"Iya aku emang egois Rey. Aku cuma mikirin
kesehatan ayahku tanpa peduliin kamu. Aku hanya fokus pada penyakit ayah aku,
tentang stroke dan operasinya yang gagal, tanpa inget sama perasaan kamu"
Lea terbawa suasana dan tanpa sadar air matanya
menetes. "Ayah kamu belum sembuh Lea?" tanya Reynan emosinya mulai
menurun.
"Udahlah, Rey, jangan bahas itu. Kamu gak
tau keadaannya kayak gimana. Intinya aku emang jahat buat kamu, lebih baik kamu
kembali ukir kenangan indah sama Felin. Felin adalah penggantiku dengan versi
yang lebih baik" Lea beranjak dari kursi dan perlahan meninggalkan Reynan.
"T… tapi bukan itu yang aku mau Lea."
Reynan mencoba meraih tangan Lea, namun Lea menolak dan memaksa tangannya
dilepaskan. Lea berlari keluar Rumah Sakit. "Lea! gak peduli seberapa
sakit aku. Aku masih mau kamu!" teriak Reynan dari kejauhan walau Lea
mungkin tak akan mendengarkan ucapannya. Tidak diduga, sebenarnya pembicaraan
mereka berdua dari awal telah didengar oleh Felin dari kejauhan.
Saat Felin terbangun dari pingsan, Felin keluar
dari ruangannya. Felin tidak sengaja melihat mereka berdua sedang berbincang.
Felin mengintip mereka berdua dan menguping pembicaraan dari awal sampai akhir.
Di satu sisi Felin bahagia namun di sisi lain Felin kecewa. Felin bahagia saat
melihat Lea lebih memilih tidak kembali dengan Reynan. Namun, Felin merasa
kecewa ketika Reynan malah masih menginginkan Lea.
Usaha Felin selama lima tahun bersama Reynan
seakan-akan percuma. Tetapi Felin tidak menyerah begitu saja, ia akan berjuang
sampai akhir meski takdir berkata lain. "Sayang! Aku udah baikan kok kita
pulang aja," ujar Felin dari belakang sambil menepuk pundak Reynan.
"Loh sayang? Kamu sejak kapan udah
siuman?" tanya Reynan. "Barusan kok, aku langsung nyari kamu pengen
cepet pulang" jawab Felin. "Yaudah iya sayang, kita pulang" ucap
Reynan.
v
Di dalam mobil saat perjalanan pulang.
Tiba-tiba Felin melontarkan pertanyaan yang tidak terduga. "Sayang! Kamu
sayang sama aku ga?" tanya Felin.
"Hahaha, kamu ini random banget, pasti
sayang lah makanya aku mau nikahin kamu" jawab Reynan.
"Tapi kenapa kamu jadiin aku
pelampiasan?" tanya Felin menyudutkan Reynan.
"H-hah? maksud kamu apa sayang?"
Reynan bingung.
"Kamu gak usah bermuka dua! Aku cuma
dijadiin pilihan terakhir saat Lea ninggalin kamu kan? Aku cuma alat buat
lupain Lea kan?! Aku udah tau semuanya! Aku tau kamu masih berharap sama Lea!
Kamu egois! Seharusnya kamu gak bisa menaruh 2 orang dalam 1 hati. Semua perlakuan
manis kamu itu cuma rasa kasihan kamu karena aku penyakitan kan? Kamu mikir aku
bentar lagi juga mati kan? Oke aku juga bakal Egois! Kalo aku ga bisa dapetin
kamu maka orang lain pun gak boleh dapetin kamu termasuk Lea!" ucap Felin.
Dengan cepat Felin meraih stir mobil dan memutar-mutar stir tersebut meski
ditahan oleh Reynan.
"Diem Felin! Lepasin stirnya! Kamu udah
gila yah?!" teriak Reynan panik.
"Enggak!" teriak Felin. "Felin!
Berhenti!" teriak Reynan berusaha menghentikan Felin.
"Gak! gak akan aku lepasinnnn!"
teriak Felin. "Felin! ga harus dengan cara bunuh diri juga!" ucap Reynan
baik-baik. "Reynannnnn!" jerit Felin saat melihat truk akan menabrak
dari arah berlawanan.
"Felin!" Reynan berteriak. "Beep! Beep! Beepppppppp!!!!" suara
klakson truk mendekat.
"Brughhhhhhhh" Truk dari
lawan arah tersebut menabrak mobil mereka dan menyebabkan kecelakaan.
v
"Ayah! Tante ayah dimana?" ujar Lea
ketika sampai di Rumah Sakit Exscien Amerika sembari berlari ke arah Tante
Rina.
"Ayah kamu ada di ruang ICU" jawab
Tante Rina. "A-aku pengen liat kondisi ayah Tante" ucap Lea tak bisa
menahan air matanya. "Kamu gak bisa liat dia, dia lagi koma keadaannya
kritis" ujar Tante Rina.
"Hiks..Hiks..., Kenapa ayah bisa
kecelakaan, Tante...?" tanya Lea air matanya sudah tidak bisa dibendung
lagi. "Ayah kamu saat sedang tugas di kapal, terjadi ledakan didalam kapal
saat sedang berlayar, masih belum di ketahui penyebabnya" tutur Tante
Rina.
"Kenapa semua ini bisa terjadi? Hikss...
Hiks..... " bisiknya dalam hati. Berita kecelakaan kapal laut di Amerika
pada tahun 2009 sampai ke Indonesia. Kecelakaan ini adalah kecelakaan kapal
laut terbesar sepanjang sejarah karena memakan ribuan korban jiwa. Hanya sedikit
penumpang kapal yang selamat, sisanya tercatat kritis di Rumah Sakit.
Felin sahabat Lea yang mendengar kabar tersebut
spontan menelepon Lea karena khawatir ingin menanyakan bagaimana keadaan Ayah
Lea di Amerika. "Halo? Lea? Ayah kamu gapapa kan?" ucap Felin dari
telepon.
"I-iya halo Fel, Ayah aku koma keadaannya
kritis Fel. Aku disini ga tau harus gimana. Rumah Sakit Exscien tempat ayah aku
dirawat gak bisa memberikan pengobatan maksimal selain harus menunggu
keadaannya membaik dengan otomatis, kecuali ada keajaiban" jawab Lea
dengan nada pilu.
"Ahh, aku kasihan sama kamu. Aku nyusul ke
Amerika yah, Ayah aku juga salah satu ahli bedah terbaik yang punya Rumah Sakit
cukup besar di Amerika. Aku akan coba bicara sama ayah aku, siapa tau dia bisa
membantu" ucap Felin terpikir suatu rencana. Singkat cerita Felin sudah
berada di Amerika.
Felin dengan Lea telah bertemu dan ayah Lea
dipindahkan ke Rumah Sakit Scifeer milik keluarga Felin. Memang benar Rumah
Sakit itu milik keluarga Felin namun Ayah Felin bukanlah ahli bedah. Tetapi
hanya sebatas Investor terbesar Rumah Sakit itu. Ahli bedah itu sekedar kenalan
Felin. Ia berbohong kepada Lea agar Lea tidak segan dan percaya padanya.
Kinerja Ahli bedah itu sangat baik, tenaga medis di Rumah Sakit tersebut dengan
sigap memeriksa ayah Lea. Mereka mencari faktor utama yang menyebabkan ayah Lea
kritis.
Setelah selesai memeriksa, Ahli bedah mengajak
Felin berbincang. "Pasien ini tidak bisa diselamatkan, waktu bertahannya
ga akan lama, di otaknya ada kerusakan, jaringan bagian lobus frontalnya ada
yang pecah," jelas Ahli bedah kenalan Felin. "Emang gak ada cara lain
ya?" tanya Felin. "Ada, dengan operasi transplantasi lobus frontal
tapi operasi ini sangat berbahaya. Sebab membutuhkan orang yang siap
mendonorkan lobus frontalnya untuk di transplantasi. Pengaruhnya pun bukan
hanya kepada pasien tetapi kepada pendonor, karena ini bersangkutan dengan
hidup dan mati. Walaupun bisa bertahan untuk keduanya boleh jadi tidak akan
lebih dari 15 tahun.
Aktivitas sehari-harinya pun akan sering
terganggu" ujar ahli bedah. "Saya siap menjadi pendonor" ucap
Felin dengan tegas. "Kamu yakin? Kamu siap menerima konsekuensinya?"
tanya ahli bedah.
"Iya saya siap, tapi beri aku waktu untuk
berbicara dahulu dengan wali pasien itu" ujar Felin. Felin pun pergi
keluar ruangan pemeriksaan. Lalu Felin menghampiri Lea dan berbincang
dengannya. "Lea, ayah kamu bisa diselamatkan aku jamin kamu ga perlu
ngeluarin biaya yang besar tapi aku minta satu syarat," ucap Felin.
"Iya aku bakal nyetujui apa pun itu, asalkan
ayah aku sehat seperti semula," ujar Lea.
"Aku pengen minta kamu jauhin Reynan,
jangan pernah temuin dia lagi, jangan kabarin dia lagi" Felin memanfaatkan
keadaan.
"Emm...I-iya, aku gak peduli yang penting
ayah aku sembuh, tapi aku titip jaga dia" jawab Lea tanpa berpikir panjang
langsung menyetujui. "Iya, ayah kamu akan dioperasi sekarang" tutur
Felin.
v
"Reynan?" suara lembut keluar dari
bibir Felin. " Felin?! Kamu udah sadar? Syukurlah," ucap Reynan
bahagia.
"Akhh..." Felin menggeram kesakitan
pada kepalanya.
"Kamu jangan banyak gerak dulu. Kondisi
kamu belum stabil, kamu koma dari tujuh hari yang lalu. Aku yang merawat kamu
dalam seminggu ini." Reynan berucap dengan lemah lembut.
"Kamu gapapa, Rey?" tanya Felin.
"Liat? Aku gapapa kok, luka aku juga ga parah. Aku lebih sedih liat kamu
kemarin terbaring tak bergerak karena kecelakaan itu bikin kamu pendarahan
hebat di otak, " jawab Reynan.
"Gak perlu sedih, Rey. Hidup aku pun gak
akan lama lagi. Sebelum aku pergi, aku minta kamu buka dompet kesayangan aku
yang dulu kamu berikan sebagai kado ulang tahun. Didalamnya terdapat surat yang
udah aku tulis tujuh hari yang lalu. Meskipun ini bukan akhir yang aku inginkan
tapi aku sudah pasrah dan tidak akan lagi memaksakan takdir" kalimat
terakhir kali yang Felin ucapkan sebelum akhirnya Felin menghembuskan nafas
terakhirnya. "Felin! " teriak Reynan.
v
Seminggu kemudian, setelah Reynan berduka cita
atas kepergian Felin. Reynan datang menemui Lea di ruang tempat ayah Lea
dirawat. Mereka duduk dikursi depan ruang tersebut.
"Gimana keadaan ayah kamu Lea?" tanya
Reynan.
" Makin hari kondisinya makin memburuk
Rey, aku gak tau harus gimana, sebenarnya aku ingin menanyakan banyak hal ke
Felin. Felin baik-baik aja kan?" ujar Lea.
"Felin udah gak ada Lea" ucap Reynan
"H-hah? Serius Rey?!" Lea terkejut.
"Iya Lea, sekarang Felin udah tenang di alam sana. Oiya Felin menintipkan
surat untukmu, mungkin surat ini akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaanmu,"
ucap Reynan.
"Hai! ini Felin, Lea kalo kamu baca surat
ini mungkin aku udah ga sama Reynan lagi atau bahkan udah ga bisa kamu lihat lagi
di dunia. Setelah aku ga ada kamu harus tau kebenaran yang terjadi, karena aku
ga sejahat yang kamu pikirkan. Maaf aku baru jujur sekarang, karena aku gak mau
kamu merasa iba sama aku. Aku sadar ayahmu pasti terkena stroke saat aku
melihat kamu ke Rumah Sakit bersama ayahmu.
Aku mendengar semua perbincangamu bersama
Reynan. Ayah kamu itu stroke bukan tanpa alasan, tapi bukan juga karena proses
operasi dahulu yang gagal. Kamu pun tahu Rumah Sakit keluargaku di Amerika
termasuk Rumah Sakit dengan tenaga medis yang profesional dan fasilitas alat
bedah yang berkualitas dan modern. Stroke itu adalah efek samping jangka
panjang yang timbul karna perlakuan transplantasi lobus frontal otak ayah kamu.
Lantas jaringan lobus frontal milik siapa yang di transplantasikan? Itu milik
aku. Ayah kamu ga akan selamat tanpa transplantasi itu, walaupun aku tidak bisa
menjamin ayahmu hidup normal selamanya, bisa saja berakhir sepertiku.
Maaf aku nyembunyiin ini semua dari kamu dan
Reynan. Aku udah tau resiko yang akan aku hadapi dari 15 tahun lalu. Iya aku
egois, aku ngerusak hubungan kamu dan Reynan, hanya demi aku bisa mendapatkan
Reynan, meskipun Reynan sayang padaku hanya berlandaskan kasihan. Tetapi itu
pun cukup membuatku merasa bahagia dan dicintai meskipun tidak sampai menikah.
Sekarang tidak akan ada lagi penghalang diantara hubungan kalian. Jangan merasa
bersalah padaku, aku sudah menanggung segala konsekuensi atas apa yang aku
perbuat. Jangan terlalu membenciku. Setidaknya aku sudah membuat ayahmu hidup
sedikit lebih lama. - Salam hangat Felin Isi surat dari Felin.
"Felinnn... hiks.. hiks.." Lea
menangis tersedu-sedu. Air mata Lea membanjiri pipinya. Suara tangisannya
menggores hati Reynan. Reynan selalu tak tega melihat Lea menangis. Reynan
mendekapkan badan Lea kedalam pelukan hangatnya. Tangan Reynan meraih kepala
Lea dan mengelus-elus kepalanya secara perlahan sambil menenangkannya. "Udah....
Jangan nangis lagi" ucap Reynan.
"Gak seharusnya semua ini terjadi sama
Felin, Rey. Andai aku tahu lebih awal, aku mau putar kembali waktu. Aku gak
akan kembali ke Indonesia atas keegoisan aku. Aku akan biarkan Felin bahagia
walau sekejap. Aku gak akan berpikir Felin jahat padahal dia berkorban.
Harusnya aku habiskan waktu bersama ayah di Amerika" ucap Lea. " Gak
Lea! Ini semua salah aku. Aku yang gak bisa bikin Felin bahagia, aku malah
nyakitin hatinya. Aku dari awal harusnya bisa lebih sabar. Aku terima aku
dijadiin taruhan jika itu untuk kebaikan ayah kamu.
Sekarang Felin udah gak ada. Kita bisa kan
mulai kembali hubungan kita. Sejauh ini aku gak pernah cape sama kamu"
ujar Reynan. " Gak Rey, aku harus nanggung penderitaan Felin selama 15
tahun terakhir ini. Aku gak bisa kembali sama kamu, aku bakal ngehabisin
masa-masa terakhir ayah aku dengan membuat dia bahagia. Walaupun aku harus
ngerelain kamu. Maaf aku gak bisa janji ke kamu lagi untuk ke dua kalinya. Maaf
juga untuk kedua kalinya aku bakal nyakitin lagi hati kamu. Maaf untuk
segalanya, seharusnya dulu kita gak pernah ketemu. Biar aku aja yang nanggung
semuanya dengan penyesalan" ucap Lea sembari melepaskan rangkulan Reynan
dan pergi dari Reynan.
"Lea! Kamu tega liat aku menyimpan rasa
bersalah sendirian? Oke kalau ini yang terbaik menurut kamu. Aku akan jalani
hidup sendiri tanpa orang yang mendampingi hidupku" ujar Reynan seraya
menatap kepergian Lea yang semakin jauh. "Sebaiknya memang begitu Rey.
Kita sama-sama sakit disini" bisik dalam
batin Lea saat berjalan menjauh dari Reynan. Akhirnya Lea memilih menjauh dari
Reynan dan tidak pernah menghubunginya lagi. Lea menghabiskan hidupnya untuk
merawat ayahnya seorang diri. Lalu Reynan pun tak pernah mencari Lea. Reynan
menjalani hidupnya seorang diri tanpa kekasih ataupun pendamping hidup. Karena
semua itu adalah keputusan yang terbaik menurut mereka.

Komentar
Posting Komentar