Dan ketika aku memahami engkau adalah api,
aku membiarkan diri terpanggang di atasnya
Dan ketika aku meyakini engkau adalah hujan,
aku membiasakan diri kebasahan
Dan ketika aku mengetahui engkau adalah duri,
aku membiasakan diri berjalan tanpa alas kaki
Dan ketika aku menyadari engkau adalah lautan,
aku melubangi perahuku
Dan ketika aku mengkehendaki engkau adalah cinta,
aku menjatuhkan diri sedalamnya
_____
Puisi Mengais Arti
Barangkali, di waktu yang tak pasti
Senyumanku takkan terlihat lagi
Jari-jemariku kehilangan fungsi
Dan segala puisiku terbaring lesu tak lagi berarti.
Di ruang yang hampa ini
Di sudut yang sunyi ini
Banyak harap serta mimpi
Mengendap di segala sisi
Yang tak kunjung mengisi.
Cobalah sedikit memahami
Perihal air yang menempel di pipi
Cobalah sedikit lagi mengerti
Bahwa hidup hanya sekali.
Tetaplah kau melangkah,
agar tak berakhir menjadi puisi
yang tak usai mengais arti.
_____
Tidak Ada yang Benar-Benar
Mencintaimu
Tak ada yang benar-benar mencintaimu
Selain malam yang terus menemani cerita pilu
Tak ada yang benar-benar mencintaimu
Selain ombak yang terus menepi pada dermaga rindu
Tak ada yang benar-benar mencintaimu
Selain langit dengan segala badai yang enggan berlalu
Tak ada yang benar-benar mencintaimu
Selain angin yang menghembus tak kenal waktu
Tak ada yang benar-benar mencintaimu
Selain bayangan yang menemani selalu
Tak ada yang benar-benar mencintaimu
Selain dirimu sendiri yang membentuk itu
_____
Tentang Cinta
Dan jika,
Kamu mencintai langit
Maka, tidak hanya senja dan pelanginya
tetapi juga mendung dan
petirnya
Dan jika,
Kamu mencintai laut
Maka, tidak hanya flora dan faunanya
tetapi juga karang dan
ombaknya
Dan jika,
Kamu mencintai malam
Maka, tidak hanya bintang dan ketenangannya
tetapi juga gelap dan
sunyinya
Dan jika,
Kamu mencintai aku
Maka, tidak hanya cinta dan kasih sayangnya
tetapi juga luka dan kekurangannya
_____
Tentang Kita yang Abadi
Mata yang memilih buta
Ingin mengenal hitam penuh cinta
Telinga yang memilih tuli
Agar segala kabar tak merasuki hati
Kau yang memiliki segala hak
Pergimu adalah ketakutan paling sesak
Aku adalah sebahagian dari ketiadaan
Hadirmu menjadikannya sebuah kesempurnaan
Kita bagaikan huruf yang tengah berserakan
Setiap bentuknya penuh keistimewaan
Akan bermakna ketika menjadi kata-kata
Akan berakhir ketika tak tersentuh pena
Semoga kita menjadi seperti pena dan tinta
Menari tanpa henti melahirkan puisi
Yang bait-baitnya berisi jiwa dan cerita Sampai nanti
Ilahi mengamini segala mimpi "Tentang kita yang abadi"

Komentar
Posting Komentar