Langsung ke konten utama

NICE TRY - Naysila

 



 "Hai, guys, kenalin nama gua Sisil Villicia Sagara biasa dipanggil Sisil, gua duduk di bangku kelas tiga SMA Pratama internasional School, anjay banget, kan? Ya, sekolah gua itu negeri, bukan karena gua pintar, tapi karena orang tua gua maksa banget sampai-sampai mereka mengeluarkan uang banyak biar gua bisa masuk ke sekolah itu, gila banget, ya!" Ucap Sisil yang sedang merekam video random ala-ala vloger.

 

Saat Sisil sedang membuat video random, tiba-tiba ada teman Sisil yang bernama Risma menepuk pundak Sisil yang mengisyaratkan sesuatu.

 

"Sil, sumpah, Sil," ucap Risma yang menepuk pundak Sisil.

 

"Ih, apa sih, Ma, gue lagi bikin video!" Jawab Sisil dengan kesal.

 

"Lo liat dulu buruan itu ada si Aa baru datang!" Ucap Risma.

 

Ya, ternyata yang datang adalah crush Sisil yang bernama Artan Bimantara atau Aa (nama panggilan spesial dari Sisil).

Sisil yang sedang fokus vlog pun langsung melihat ke arah pintu kelas tersebut.

 

"Eh, sumpah-sumpah dia sekolah, tumben banget, please," ucap Sisil yang bisik-bisik ke Risma karena jarak Sisil dengan cowok hanya 10 langkah.

 

"Di dia liat kesini! Cool, Sil, cooll!" Ucap Risma.

 

Sisil pun langsung salting karena pagi-pagi sudah eye contact dengan cowok itu, tubuh keringat dingin padahal hanya saling tatap yang bahkan enggak sampai tiga detik.

 

"Huh hah huh hah" Sisil yang mengatur nafasnya.

 

Saat Sisil dan Risma sedang berusaha cool karena ada orang yang disukainya, tiba-tiba ada teman Sisil lagi yang baru datang ke kelas.

 

"Eh, eh, kenapa pada diam-diaman begini? So cool banget, deh. Tumben." Ucap tari yang langsung duduk di belakang Sisil dan Risma.

 

"Sut, si Sisil baru lihat si Artan lagi setelah sekian lama dia bolos!" Jawab Risma bisik-bisik ke tari.

 

"Haha, pantas bocah itu tiba-tiba jadi cool, ternyata ada crush, toh." Ucap tari.

 

Bel sekolah pun berbunyi, mereka langsung mulai belajar dengan serius karena sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian sekolah untuk menambah nilai agar mereka masuk ke universitas yang diinginkan.

 

*

 

Sisil sudah lama menyukai Artan sejak ia masih duduk di kelas delapa SMP, dan entah takdir seperti apa yang membuat mereka sekelas dari SMP hingga mereka SMA.

Karena Sisil berzodiak capricorn yang memiliki gengsi setinggi langit bahkan lebih tinggi lagi, ia tidak pernah confes ke Artan. Dan Artan yang berzodiak libra juga sangat susah untuk peka dengan hal tersebut.

Teman temannya Sisil juga sudah menyuruh Sisil untuk confes, tetapi Sisil tetap tidak ingin confes apa pun yang terjadi, Sisil sangat menyukai Artan sampai setiap cowok yang mendekati Sisil selalu di tolak mentah-mentah dengan alasan yang basi, yaitu "ingin fokus belajar", padahal Sisil tidak pernah serius dalam belajar.

Namun, entah Artan itu memang tidak menyukai Sisil atau emang Artan tidak tahu kalo Sisil suka sekali dengan Artan.

Suatu saat Sisil sedang live Instagram dan tiba-tiba Artan join live dan langsung meminta Sisil agar live bersama dengannya.

 

"Please, ini beneran?! Huft, please jangan panik cooll, Sil, cool!" Ucap Sisil yang menahan rasa baper.

 

Alhasil, Sisil dan Artan pun live bersama hingga 30 menit tanpa berbicara sedikit pun, kok bisa? Karena Artan saat itu sedang nongkrong dengan teman-teman nya di cafe yang sedang live music sehingga tidak terdengar sama sekali Sisil berbicara apa. Banyak juga teman Sisil yang komen di live tersebut dengan senang karena Sisil bisa live dengan cowok yang disukainya.

 

"Yah, keluar." Ucap Sisil yang melihat kalo Artan sudah tidak live lagi dengannya.

 

"It's okay mungkin Artan memang sibuk main dengantemannya." Ucap batin Sisil karena Artan tanpa berbicara apa pun langsung keluar dari live-nya.

 

Selalu aja ada kejadian dan perlakuan Artan yang membuat Sisil baper yang membuat Sisil semakin suka pada Artan.

Namun, kenapa Artan tidak pernah sama sekali memberikan feedback ke Sisil, seharusnya dengan kejadian yang membuat mereka bareng, Artan sudah peka.

Walaupun pertemuan Sisil dan Artan sudah hampir lima tahun, Artan dan Sisil tidak memiliki nomor telepon satu sama lain.

Sisil yang memiliki gengsi tinggi, dan Artan yang tidak peka sama sekali membuat tidak ada kemajuan sedikit pun saat Sisil menyukai Artan.

 

Teman-temannya, yaitu Risma dan tari yang mengetahui kalo Sisil sudah hampir menyukai Artan lima tahun pun langsung memojokkan Sisil untuk confes ke Artan.

 

"Lu mau gini-gini aja, Sil? Buruan confes siapa tahu diterima." Ucap Risma.

 

"Betul, tuh. Selama ini lu sama dia selalu saja ada kejadian yang bikin kalian bareng, mana mungkin enggak ada perasaan ke lu si Artan itu." Sambung Tari.

 

"Setuju! Apalagi Artan itu enggak pernah sama sekali mengobrol sama cewek, apalagi live bareng, terus enggak pernah lihat cewek berlebihan kalo bukan cuma ke lu, Sil! Yakin, Sil. Gua bantu!" Ucap Risma yang menyemangati Sisil.

 

"Ah enggak, please gua enggak mau, malu kalo ditolak, gua kan cewek, huhu." Jawab Sisil yang pasrah.

 

"Masa enggak berani ayo dong, Sil!" Ucap tari sambil berdecik.

 

"Gimana, kalau confes-nya lewat gua? Nanti gua chat dia dan gua bakalan ngasih tahu perasaan Lo ke dia." ucap Risma.

 

"Bener! Kalo gitu kan Lo enggak bakal malu-malu banget, Sil." Ucap Tari.

 

"Malu, sama aja dong dia tahu kalo gua yang confes ke dia." Jawab Sisil dengan geregetan.

 

"Eits, gini, gua bilang kalo Lo ga tahu kalo gua bilang ke si Artan, ngerti enggak? Jadi kayak Lo pura-pura enggak tahu kalo si Artan udah tahu kalo Lo suka sama dia." Ucap Risma yang masih berusaha.

 

Sisil yang pasrah pun hanya mengiyakan saja ucapan dari teman-temannya tersebut. Hingga hari berikutnya Risma memberitahu tentang hasil confes tersebut.

 

"Sil... ." ucap Risma baru datang ke kelas dan langsung duduk di samping Sisil.

 

"Ditolak, kan. " Jawab Sisil yang sudah tahu kalo Risma ingin memberi tahu tentang confes tersebut.

 

"E enggak, enggak ditolak cuma memang dia lagi enggak mau pacaran, Sil." Ucap Risma yang menenangkan Sisil.

 

Saat Risma dan Sisil sedang berbincang, datanglah Tari yang langsung ikut gabung dengan keduanya.

 

"Ada apa ini?" Ucap tari.

 

"Kayaknya memang gua enggak pantas sama siapa pun." Jawab Sisil yang langsung sedih.

 

"Enggak begitu, Sil, Lo jangan sedih nanti gua jadi merasa bersalah banget." Ucap Risma penuh rasa iba.

 

"Sut, kenapa haru sedih, Sil? Lo seharusnya puas karena Lo sekarang udah tahu perasaan dia ke Lo, walaupun hasilnya enggak sesuai ekspektasi, yang penting Lo udah ga harus nunggu nunggu dia lagi, yang cuma bisa baperin Lo terus menghilang gitu aja!" Ucap tari panjang lebar.

 

"Ya, sudah, makasih ya Tari, Risma karena Lo udah bantu gua." ucap Sisil yang masih termenung.

 

"Pokoknya biar Lo enggak sedih lagi, nanti pulang sekolah kita belanja ke mall! Gua traktir!!" Ucap tari yang baru saja cair uang bulanan dari orang tuanya.

 

"Yes, benaran, ya." Jawab Risma dengan senang.

 

"Ooke." Ucap Sisil yang berusaha tidak memikirkan hal tersebut.

 

"Nah, gitu, dong, senyum." ucap Tari.

 

Semenjak cintanya ditolak, Sisil pun mulai memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi, serta belajar dengan giat agar mimpinya tercapai, Sisil pun sadar kalo dirinya memang belum pantas pacaran karena ia harus fokus dulu untuk masa depannya.

 

"Nice try dikit enggak berpengaruh, Sil." Gumam Sisil yang sedang mengaca di depan cerminnya.

 

Prinsip seorang Sisil sekarang:

'Kita usahakan, yang mengusahakan kita' -anti NT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indra Rahayu - Kongkalikong

  Di bawah lampu redup, dalam sangkar yang tergantung di halaman rumah, burung berbulu indah itu tercenung. Menatap gelap langit, cahaya bulan bersembunyi di balik awan malam itu. Hanya terdengar suara kentungan, yang dibunyikan untuk menandai bahwa waktu sudah pukul dua dini hari.   “Esok, aku ingin orang yang memeliharaku hilang ingatan dan lupa bahwa ia memiliki burung yang cantik.” Bergumam, keinginannya untuk mati meluap. Ia tak pernah benar-benar ingin meninggalkan tubuh indahnya. Namun, ironi yang diderita akan lebih indah jika burung itu mati karena dilupakan.   -   Sial, aku terbangun lagi. Aku membenci ketika mataku terbuka di setiap pagi, dan apa yang kulihat dalam terjaga adalah dunia yang berisi orang-orang gila. Cahaya pagi menyuruk, mengampiri mataku. Memaksa untuk beranjak dari tempat tidur. Aku tak mau pergi dari tempat ini, biar debu-debu dari setiap sudut ruangan ini terus kuhirup, aku menunggu sampai benar-benar sesak. Kem u dian,...

Cerita Fantasi: Penyihir Licik - Siti Latifah

Pada suatu hari,  di hutan belantara hiduplah dua penyihir cantik bernama Veni dan Suri, Suri memiliki kekuatan yang begitu besar jauh di atas kemampuan Veni. Suatu hari, Veni menyadari bahwa kekuatannya sangatlah lemah, sehingga dia tidak terima dengan kenyataan itu, dia iri akan kekuatan Suri yang sangat besar dan berniat jahat kepadanya. Suatu hari, Veni mengajak Suri untuk pergi ke gunung untuk menguji kekuatan mereka karena setiap tahun naga mereka akan menguji kekuatan mereka untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penyihir terhebat di dunia, tak disangka Veni telah menyiapkan perangkap untuk Suri di atas gunung adalah sebuah kuali yang bolong dan buku yang salah, sehingga ketika Suri ingin meracik kekuatannya dia akan gagal karena terbuang keluar dari kuali dan gagal mengikuti ujian tersebut. Karena kekuatan Suri lebih hebat dari pada Veni, Suri telah menyadari hal tersebut terlebih dahulu dan diam-diam menambal kuali tersebut dengan kekuatan fantastis dan dia tidak m...

Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025 - Anindhia Ramadhani

Suryalaya, (KANSAS).-   Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan acara diseminasi yang bertempat di hotel Grand Metro, Kota Tasikmalaya pada hari Senin, (13/10/2025).  Acara tersebut dihadiri oleh anggota DPR RI Komisi X  Bapak Ferdiansyah, SE., MM., Sekretaris Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bapak  Dr. Ganjar Harimansyah, S.S. M.Hum. dan Ibu Dr. Herawati, S.S., M.A. sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat . Acara ini diselenggarakan dengan tujuan menguatkan literasi kebahasaan dan kesusastraan guru-guru, dosen, pelajar, dan para pegiat literasi di Kota Tasikmalaya. Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025” membuka pandangan baru tentang pentingnya peran bahasa dan literasi di tengah derasnya arus globalisasi. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas dan jati diri bangsa. Namun, di era digital yang serba cepat, kesadaran masyarakat—terutama generasi muda—terhadap pentingnya literasi...