Istilah fiksi dan non fiksi sering kita dengan, keduanya adalah kategori atau jenis dari sebuah karya tulis. Ditilik dari hasil tulisannya, kedua istilah tersebut memiliki perbedaan. Kemudian, bagaimana cara membedakan fiksi dan non fiksi? Perbedaan itu terletak pada keterlibatan imajinasi seorang penulis. Maka dari itu, tulisan fiksi akan cenderung pada imajiner. Sedangkan, tulisan non fiksi menghilangkan porsi khayalan dan lebih terfokus menyajikan informasi yang sebenarnya.
Bertolak dari karakteristiknya yang imajiner, beberapa orang
menganggap tulisan fiksi bukan karya serius. Adakalanya dipandang sebelah mata,
dianggap hanya karangan belaka. Lain dengan karya tulis ilmiah, sudah pasti
orang-orang beranggapan lebih berbobot dari karya tulis fiksi.
Dikotomi tidak hanya terjadi pada sumber bacaan, bahkan berdampak pada
pembacanya. Pembaca buku-buku "berat" dilabeli lebih pintar daripada
yang membaca karangan fiksi. Lawan bicara menurunkan antusiasmenya ketika
mendengar seseorang yang ketika ditanya "Kamu suka baca buku apa?"
Lalu orang itu menjawab "Novel." Seolah-olah karya fiksi tidak begitu
berperan dalam kehidupan.
Lantas, sejauh mana karya fiksi berperan dan berpengaruh bagi
kehidupan?
Bukan hanya sebagai sarana
hiburan
Jika fiksi dianggap hiburan semata, cerita yang sedari kecil kita
dengar, seperti kisah Abu Nawas, Kancil dan Buaya, serta Bawang Putih dan
Bawang merah, tidak akan bisa bertahan sampai saat ini. Lebih dari sekedar hiburan,
ada petuah-petuah di balik cerita yang disajikan. Sebab demikian, kisah-kisah
melekat di kepala setiap orang.
Misalnya, kisah Abu Nawas yang didatangi seorang tetangga yang resah.
Rumahnya kian terasa sempit karena ditinggali banyak orang. Alih-alih membuat
orang itu nyaman, Abu Nawas malah membuatnya semakin resah. Tetangganya diperintah
untuk membeli tiga ekor kambing. Kambing-kambing itu semakin memadati isi rumah.
Pada kedatangan yang selanjutnya, tetangganya mengeluh. Lalu, Abu Nawas memintanya
untuk menjual kambing-kambing itu. Kambingnya telah terjual, dan orang itu merasa
lebih tenang. Pada penggalan kisah tersebut, orang itu tidak meghiraukan
masalah pertama, karena mendapati masalah yang lebih besar. Lantas, setelah
masalah kedua itu usai, ia mendapatkan kembali suasana yang lebih baik.
Tokoh yang diciptakan penulis dalam cerita, menstimulasi pembaca untuk
lebih peka pada lingkungan sekitarnya. Meskipun sekedar karangan, kejadian yang
terjadi adalah rekam peristiwa yang sebenarnya. Laku tokoh dalam cerita pun
diambil dari gerak-gerik manusia. Layaknya orang-orang yang kita jumpai di
kehidupan sehari-sehari. Selain dari perilaku, tokoh dalam cerita memiliki
emosi yang bisa dirasakan oleh pembaca. Emosi yang hadir, yaitu amarah, bahagia,
sedih, dll. Serupa seperti yang kita rasakan di kehidupan nyata. Seiring aktivitas
membaca karya fiksi itu dilakukan, tumbuh rasa empati dalam diri pembaca.
Penyair terkenal pada masa kekaisaran Romawi, Horatius, mengungkapkan bahwa sastra mempunya dua manfaat utama, yaitu dulce et utile. Istilah tersebut berasal dari bahasa latin yang secara etimologi berasal dari dua kata dulce yang berarti menyenangkan atau kenikmatan. Jika ditanggapi, kata dulce merujuk pada hal yang membuat seseorang merasa senang, dan menikmati apa yang sedang ia lakukan. Seseorang akan merasa terhibur ketika membaca karya sastra atau fiksi.
Selanjutnya, kata utile yang bermakna mendidik. Mengapa
dikatakan demikian? Karya fiksi punya caranya sendiri untuk memberikan sebuah
pengajaran kepada pembacanya. Seperti yang telah disinggung pada pembahasan
sebelumnya, poin edukatif dimunculkan dari interaksi tokoh, dan dalam peristiwa
yang terjadi dalam cerita. Sehingga pembaca dapat seolah-olah merasakan apa yang
terjadi, dan berusaha berpikir, apa yang akan ia lakukan jika mengalami
kejadian yang sama.
Fiksi dan peristiwa besar
Novel dan karangan fiksi lainnya, tidak hanya sebatas kisah cinta remaja di sekolah dan persahabatan. Gejolak masa reformasi pada tahun 1998 terekam jelas oleh para penulis. Informasi tentang peristiwa besar tersebut disajikan dalam bentuk karangan fiksi. Kejadian yang dialami oleh mahasiswa pada masa orde baru, tercatat dalam buku novel yang berjudul “Notasi” karya Morra Quatro.
Seorang mahasiswa yang mengalami tindakan represif karena membuat karya tulis ilmiah
yang menyinggung rezim orde baru. Diskriminasi keturunan tionghoa pun dibahas
dalam sebuah novel yang berjudul “Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman” karya Afifah
Afra. Mencerita seorang gadis Tionghoa yang bertaman dalam keterpurukan.
Tidak hanya di negara kita, peristiwa besar di belahan eropa pun terekam dalam sebuah karya fiksi. Leo Tolstoy seorang penulis dari Rusia, ia bercerita tentang kejadian semasa Perang Napoleon (1820). Pasukan Napoleon menyerbu Rusia. Tidak hanya bercerita tentang itu, Ia menjelaskan kepelikan masyarakat kelas menengah ke bawah di Rusia.
Karyanya menjadi salah satu novel sejarah terbaik
yang pernah ada. Selain itu, perjuangan pasukan antifasis di Spanyol,
dituliskan dalam sebuah novel yang ditulis oleh Ernest Hemingway. Dalam bukunya
yang berjudul “For The Bell Tolls”. Masih banyak buku-buku fiksi lain yang
menjadikan peristiwa-peristiwa penting di dunia, sebagai sumbu dalam proses
kreatif.
Karya sastra ini dicekal!
Pembumihangusan karya-karya yang dianggap subversif pada setiap zaman,
ini tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan di dunia. Tragedi ini menepis
anggapan bahwa karya fiksi atau sastra bukan tulisan yang serius. Dilansir dalam
idntimes.com partai Nazi pernah membakar buku-buku yang dianggap merongrong
ideologi mereka. Buku-buku yang diberantas antara lain berasa dari penulis,
seperti Ernest Hemingway.
Berita hilangnya Wiji thukul, seorang pensyair pada masa orde baru, menjadi
perbincangan yang digaungkan oleh para aktivis. Terutama aktivis yang memperjuangkan
hak asasi manusia. Jika puisi sekedar puisi dan jika novel sekedar novel, yang
dianggap sebagai hiburan atau pengisi waktu luang, tentu rezim orde baru tidak
akan menghiraukannya. Sebab karya tersebut dapat menggungah semangat perjuangan
masyarakat.
Persepsi terhadap karya fiksi ditentukan, dari sejauh mana kita mendalami.
Mengetahui sebuah karya fiksi memberikan manfaat, hanya dapat ditempuh jika
seorang pembaca berupaya mencari nilai-nilai yang ada. Proses ini tidak semudah
kita meyakini nilai yang ada dalam artikel ilmiah, yang didasari oleh kebenaran
empirik.
Sejauh mana pandangan Anda terhadap karya fiksi?

Komentar
Posting Komentar