Langsung ke konten utama

DIKOTOMI FIKSI DAN NON FIKSI - Indra Rahayu


Istilah fiksi dan non fiksi sering kita dengan, keduanya adalah kategori atau jenis dari sebuah karya tulis. Ditilik dari hasil tulisannya, kedua istilah tersebut memiliki perbedaan. Kemudian, bagaimana cara membedakan fiksi dan non fiksi? Perbedaan itu terletak pada keterlibatan imajinasi seorang penulis. Maka dari itu, tulisan fiksi akan cenderung pada imajiner. Sedangkan, tulisan non fiksi menghilangkan porsi khayalan dan lebih terfokus menyajikan informasi yang sebenarnya.

 

Bertolak dari karakteristiknya yang imajiner, beberapa orang menganggap tulisan fiksi bukan karya serius. Adakalanya dipandang sebelah mata, dianggap hanya karangan belaka. Lain dengan karya tulis ilmiah, sudah pasti orang-orang beranggapan lebih berbobot dari karya tulis fiksi.

 

Dikotomi tidak hanya terjadi pada sumber bacaan, bahkan berdampak pada pembacanya. Pembaca buku-buku "berat" dilabeli lebih pintar daripada yang membaca karangan fiksi. Lawan bicara menurunkan antusiasmenya ketika mendengar seseorang yang ketika ditanya "Kamu suka baca buku apa?" Lalu orang itu menjawab "Novel." Seolah-olah karya fiksi tidak begitu berperan dalam kehidupan.

 

Lantas, sejauh mana karya fiksi berperan dan berpengaruh bagi kehidupan?

 

 

Bukan hanya sebagai sarana hiburan

 

Jika fiksi dianggap hiburan semata, cerita yang sedari kecil kita dengar, seperti kisah Abu Nawas, Kancil dan Buaya, serta Bawang Putih dan Bawang merah, tidak akan bisa bertahan sampai saat ini. Lebih dari sekedar hiburan, ada petuah-petuah di balik cerita yang disajikan. Sebab demikian, kisah-kisah melekat di kepala setiap orang.

 

Misalnya, kisah Abu Nawas yang didatangi seorang tetangga yang resah. Rumahnya kian terasa sempit karena ditinggali banyak orang. Alih-alih membuat orang itu nyaman, Abu Nawas malah membuatnya semakin resah. Tetangganya diperintah untuk membeli tiga ekor kambing. Kambing-kambing itu semakin memadati isi rumah. Pada kedatangan yang selanjutnya, tetangganya mengeluh. Lalu, Abu Nawas memintanya untuk menjual kambing-kambing itu. Kambingnya telah terjual, dan orang itu merasa lebih tenang. Pada penggalan kisah tersebut, orang itu tidak meghiraukan masalah pertama, karena mendapati masalah yang lebih besar. Lantas, setelah masalah kedua itu usai, ia mendapatkan kembali suasana yang lebih baik.

 

Tokoh yang diciptakan penulis dalam cerita, menstimulasi pembaca untuk lebih peka pada lingkungan sekitarnya. Meskipun sekedar karangan, kejadian yang terjadi adalah rekam peristiwa yang sebenarnya. Laku tokoh dalam cerita pun diambil dari gerak-gerik manusia. Layaknya orang-orang yang kita jumpai di kehidupan sehari-sehari. Selain dari perilaku, tokoh dalam cerita memiliki emosi yang bisa dirasakan oleh pembaca. Emosi yang hadir, yaitu amarah, bahagia, sedih, dll. Serupa seperti yang kita rasakan di kehidupan nyata. Seiring aktivitas membaca karya fiksi itu dilakukan, tumbuh rasa empati dalam diri pembaca.

 

Penyair terkenal pada masa kekaisaran Romawi, Horatius, mengungkapkan bahwa sastra mempunya dua manfaat utama, yaitu dulce et utile. Istilah tersebut berasal dari bahasa latin yang secara etimologi berasal dari dua kata dulce yang berarti menyenangkan atau kenikmatan. Jika ditanggapi, kata dulce merujuk pada hal yang membuat seseorang merasa senang, dan menikmati apa yang sedang ia lakukan. Seseorang akan merasa terhibur ketika membaca karya sastra atau fiksi. 


Selanjutnya, kata utile yang bermakna mendidik. Mengapa dikatakan demikian? Karya fiksi punya caranya sendiri untuk memberikan sebuah pengajaran kepada pembacanya. Seperti yang telah disinggung pada pembahasan sebelumnya, poin edukatif dimunculkan dari interaksi tokoh, dan dalam peristiwa yang terjadi dalam cerita. Sehingga pembaca dapat seolah-olah merasakan apa yang terjadi, dan berusaha berpikir, apa yang akan ia lakukan jika mengalami kejadian yang sama.

 

Fiksi dan peristiwa besar

 

Novel dan karangan fiksi lainnya, tidak hanya sebatas kisah cinta remaja di sekolah dan persahabatan. Gejolak masa reformasi pada tahun 1998 terekam jelas oleh para penulis. Informasi tentang peristiwa besar tersebut disajikan dalam bentuk karangan fiksi. Kejadian yang dialami oleh mahasiswa pada masa orde baru, tercatat dalam buku novel yang berjudul “Notasi” karya Morra Quatro. 


Seorang mahasiswa yang mengalami tindakan represif karena membuat karya tulis ilmiah yang menyinggung rezim orde baru. Diskriminasi keturunan tionghoa pun dibahas dalam sebuah novel yang berjudul “Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman” karya Afifah Afra. Mencerita seorang gadis Tionghoa yang bertaman dalam keterpurukan.

 

Tidak hanya di negara kita, peristiwa besar di belahan eropa pun terekam dalam sebuah karya fiksi. Leo Tolstoy seorang penulis dari Rusia, ia bercerita tentang kejadian semasa Perang Napoleon (1820). Pasukan Napoleon menyerbu Rusia. Tidak hanya bercerita tentang itu, Ia menjelaskan kepelikan masyarakat kelas menengah ke bawah di Rusia. 


Karyanya menjadi salah satu novel sejarah terbaik yang pernah ada. Selain itu, perjuangan pasukan antifasis di Spanyol, dituliskan dalam sebuah novel yang ditulis oleh Ernest Hemingway. Dalam bukunya yang berjudul “For The Bell Tolls”. Masih banyak buku-buku fiksi lain yang menjadikan peristiwa-peristiwa penting di dunia, sebagai sumbu dalam proses kreatif.  

 

Karya sastra ini dicekal!

 

Pembumihangusan karya-karya yang dianggap subversif pada setiap zaman, ini tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan di dunia. Tragedi ini menepis anggapan bahwa karya fiksi atau sastra bukan tulisan yang serius. Dilansir dalam idntimes.com partai Nazi pernah membakar buku-buku yang dianggap merongrong ideologi mereka. Buku-buku yang diberantas antara lain berasa dari penulis, seperti Ernest Hemingway.

 

Berita hilangnya Wiji thukul, seorang pensyair pada masa orde baru, menjadi perbincangan yang digaungkan oleh para aktivis. Terutama aktivis yang memperjuangkan hak asasi manusia. Jika puisi sekedar puisi dan jika novel sekedar novel, yang dianggap sebagai hiburan atau pengisi waktu luang, tentu rezim orde baru tidak akan menghiraukannya. Sebab karya tersebut dapat menggungah semangat perjuangan masyarakat.

 

Persepsi terhadap karya fiksi ditentukan, dari sejauh mana kita mendalami. Mengetahui sebuah karya fiksi memberikan manfaat, hanya dapat ditempuh jika seorang pembaca berupaya mencari nilai-nilai yang ada. Proses ini tidak semudah kita meyakini nilai yang ada dalam artikel ilmiah, yang didasari oleh kebenaran empirik.  

Sejauh mana pandangan Anda terhadap karya fiksi?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indra Rahayu - Kongkalikong

  Di bawah lampu redup, dalam sangkar yang tergantung di halaman rumah, burung berbulu indah itu tercenung. Menatap gelap langit, cahaya bulan bersembunyi di balik awan malam itu. Hanya terdengar suara kentungan, yang dibunyikan untuk menandai bahwa waktu sudah pukul dua dini hari.   “Esok, aku ingin orang yang memeliharaku hilang ingatan dan lupa bahwa ia memiliki burung yang cantik.” Bergumam, keinginannya untuk mati meluap. Ia tak pernah benar-benar ingin meninggalkan tubuh indahnya. Namun, ironi yang diderita akan lebih indah jika burung itu mati karena dilupakan.   -   Sial, aku terbangun lagi. Aku membenci ketika mataku terbuka di setiap pagi, dan apa yang kulihat dalam terjaga adalah dunia yang berisi orang-orang gila. Cahaya pagi menyuruk, mengampiri mataku. Memaksa untuk beranjak dari tempat tidur. Aku tak mau pergi dari tempat ini, biar debu-debu dari setiap sudut ruangan ini terus kuhirup, aku menunggu sampai benar-benar sesak. Kem u dian,...

Cerita Fantasi: Penyihir Licik - Siti Latifah

Pada suatu hari,  di hutan belantara hiduplah dua penyihir cantik bernama Veni dan Suri, Suri memiliki kekuatan yang begitu besar jauh di atas kemampuan Veni. Suatu hari, Veni menyadari bahwa kekuatannya sangatlah lemah, sehingga dia tidak terima dengan kenyataan itu, dia iri akan kekuatan Suri yang sangat besar dan berniat jahat kepadanya. Suatu hari, Veni mengajak Suri untuk pergi ke gunung untuk menguji kekuatan mereka karena setiap tahun naga mereka akan menguji kekuatan mereka untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penyihir terhebat di dunia, tak disangka Veni telah menyiapkan perangkap untuk Suri di atas gunung adalah sebuah kuali yang bolong dan buku yang salah, sehingga ketika Suri ingin meracik kekuatannya dia akan gagal karena terbuang keluar dari kuali dan gagal mengikuti ujian tersebut. Karena kekuatan Suri lebih hebat dari pada Veni, Suri telah menyadari hal tersebut terlebih dahulu dan diam-diam menambal kuali tersebut dengan kekuatan fantastis dan dia tidak m...

Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025 - Anindhia Ramadhani

Suryalaya, (KANSAS).-   Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan acara diseminasi yang bertempat di hotel Grand Metro, Kota Tasikmalaya pada hari Senin, (13/10/2025).  Acara tersebut dihadiri oleh anggota DPR RI Komisi X  Bapak Ferdiansyah, SE., MM., Sekretaris Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bapak  Dr. Ganjar Harimansyah, S.S. M.Hum. dan Ibu Dr. Herawati, S.S., M.A. sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat . Acara ini diselenggarakan dengan tujuan menguatkan literasi kebahasaan dan kesusastraan guru-guru, dosen, pelajar, dan para pegiat literasi di Kota Tasikmalaya. Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025” membuka pandangan baru tentang pentingnya peran bahasa dan literasi di tengah derasnya arus globalisasi. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas dan jati diri bangsa. Namun, di era digital yang serba cepat, kesadaran masyarakat—terutama generasi muda—terhadap pentingnya literasi...