Langsung ke konten utama

Hama Kota - Indra Rahayu


Bunyi kelakson merangsak ke telinga setiap orang di dekat APIL. Mereka resah, hitungan waktu lampu hijau segera usai. Kebiasaan yang dialami oleh mereka, orangtua yang mengantar anaknya sekolah, remaja harapan keluarga, hingga para pejabat. Ibu jari pengendara mulai gatal kebelet memencet tombol klakson, mengingat hitungan waktu lampu merah cukup lama. 720 detik tidak mau mereka sia-siakan. Setiap orang yang menunggu memajang dahi tampak mengerenyit, senyuman manis hanya dilontarkan oleh wajah-wajah di baliho yang berderet di bahu jalan, walaupun mereka sama-sama bertempur, mengejar apa yang diinginkan.

 

Bagaimana jika orang biasa sepertiku memajang foto wajah, seperti orang-orang di baliho. Menempelnya di setiap dinding, tiang listrik, bahkan di tempat ibadah. Mungkin perkara mudah untuk sekadar mencetak banyak selebaran. Namun, apakah aku harus memasangnya sendiri?

 

 -


Suatu akhir pekan, aku berada di suasana seperti biasanya. Berkumpul dengan kerabat di salah satu warung kopi. Segelas cangkir kopi hitam dan rokok ketengan, itu saja yang kupesan setiap berkunjung ke sana. Badrul, kawanku, akhir-akhir ini ia amat sibuk. Berdandan rapi, katanya, biar terlihat berwibawa kalau bertemu orang. Tubuhnya yang tinggi-tegap tampak apik diterapi jas dan dasi. Aku bertanya pada Bi Inah, pemilik warung kopi dengan nada pelan, “Bi, si Badrul akhir-akhir ini jarang terlihat. Biasanya ia tiap malam, mengajakku  mampir ke sini.” Usut punya usut, setelah aku berbincang dengan Bi Inah, ternyata Badrul menjadi salah satu tim sukses untuk salah satu caleg di daerah kami.

 

Tahun ini, ia terpilih sebagai ketua karang taruna baru. Kebetulan, ada seorang juragan kayu di tempat kami yang diusung menjadi caleg oleh salah satu partai. Nasib mujur bagi Badrul, untuk melancarkan agenda politisnya, ia direkrut menjadi tim sukses. Mendengar salah satu orang tersohor dijadikan caleg, semua warga berdecak kagum. Mereka menaruh harapan besar, banyak sudut yang perlu diperindah di daerah kami. Apalagi Nek Asih, wanita paruh baya tinggal di rumah berbilik, berharap juragan itu bisa membantu memperbaiki keadaannya.

 

-

 

Tak disangka, di saat merebahkan badan di tempat tidur, ketika ibu jariku sibuk mengusap layar telepon genggam, muncul notifikasi panggilan dari Badrul. Ternyata ia masih mengingatku. Kerabat yang selalu menemaninya di warung kopi dan bermain catur walaupun tidak fasih, malah cenderung asal-asalan. Perangainya tampak menyebalkan kala menyebut “Skak!”.

 

Selama satu jam, kami berbincang perihal pencalonan sang juragan. Acap kali ia memuji orang itu habis-habisan. Ia mendesakku untuk setuju akan segala yang diucapakan. Di akhir panggilan, Badrul memintaku untuk terlibat. Entah benar atau tidak, tapi saat itu, aku berharap ini benar. Semua yang dikatakan Badrul akan terwujud, aku mengaharapkan itu.


-


Jauh dalam pikiranku harus mematuhi apa yang ia katakan. Badrul, sekonyong-konyong menjadi seorang tuan kecil dan aku seorang pelayan. Mengemban tugas yang tak cukup sulit, tetapi berat. Aku hanya perlu menyatroni pikiran-pikiran orang di kampung. Badrul tak memberitahuku bagaimana caranya. Mendekati seorang lansia dan orang miskin, tentu itu bukan masalah besar. Kata Badrul, mereka hanya cukup diiming-imingi kesejahteraan. Nanti, mendekati pemilihan, Badrul akan menitipkan amplop berisi uang. Tak banyak, menurutku. Namun, bagi mereka yang membutuhkan, amplop ini bagai surat cinta yang dikirim seorang pujangga pada kekasihnya.

 

Hari pertama aku bertugas, dimulai di warung kopi yang biasa kusambangi. Bi Inah, meski aku tahu ia tidak begitu menyukai sosok juragan. Mengingat anaknya pernah dituduh mencuri kayu di halaman rumahnya. Namun, saat ini ia menjadi orang pertama yang kususupi, pikirannya ku jejali sosok juragan. Pun setiap orang yang datang ke warung, tentu ku ajak berbincang perihal pencalonan juragan. Sebagian orang antusias, dan yang lainnya tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Satu hal yang sering ku tekankan pada mereka, sebuah kalimat manis, “Juragan akan membuat kampung ini lebih baik, dan kalian akan hidup sejahtera.”

 

-

 

Berita perseteruan warga kampung mulai merebak, nama juragan terseret dalam kasus ini. Badrul kalang kabut, ini di luar dugaan. Segala yang kulakukan tak berbuah baik. Pikiran oran-orang yang membenci juragan tak mudah goyah. Para pecinta juragan pun membela calon itu setengah mati.

 

Aku tak bisa menyalahkan Badrul, karena ia adalah orang yang memintaku melalukan ini. Namun, cukup megejutkan. Tuan itu mengarahkan segala kekacuan padaku. Memercikan tinta merah di keningku, memicu ribuan pasang pandang perlahan menggerogoti citraku di masyarakat.

 

Bi Inah tak pernah sudi lagi menerima kedatanganku. Bahkan, seorang warga mengajak yang lain untuk mengusirku dari kampung ini. Ingin hati meluapkan segala kekesalan yang kurasakan. Umpatan-umpatan ini tertahan di tenggorokan. Jika itu terjadi, bukan hanya meninggalkan kampung ini, mungkin kehidupanku pun akan selesai. Bukan perkara sulit menyingkirkan orang biasa sepertiku.


 -


Kali terakhir aku berada di kampung, apa yang kuidamkan dulu terjadi. Aku berhasil memasang ribuan wajahku di benak semua orang. Tanpa harus mencetak banyak selebaran, dan membayar orang untuk menyebarkan informasi tentangku. Aku serupa orang-orang di baliho.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indra Rahayu - Kongkalikong

  Di bawah lampu redup, dalam sangkar yang tergantung di halaman rumah, burung berbulu indah itu tercenung. Menatap gelap langit, cahaya bulan bersembunyi di balik awan malam itu. Hanya terdengar suara kentungan, yang dibunyikan untuk menandai bahwa waktu sudah pukul dua dini hari.   “Esok, aku ingin orang yang memeliharaku hilang ingatan dan lupa bahwa ia memiliki burung yang cantik.” Bergumam, keinginannya untuk mati meluap. Ia tak pernah benar-benar ingin meninggalkan tubuh indahnya. Namun, ironi yang diderita akan lebih indah jika burung itu mati karena dilupakan.   -   Sial, aku terbangun lagi. Aku membenci ketika mataku terbuka di setiap pagi, dan apa yang kulihat dalam terjaga adalah dunia yang berisi orang-orang gila. Cahaya pagi menyuruk, mengampiri mataku. Memaksa untuk beranjak dari tempat tidur. Aku tak mau pergi dari tempat ini, biar debu-debu dari setiap sudut ruangan ini terus kuhirup, aku menunggu sampai benar-benar sesak. Kem u dian,...

Cerita Fantasi: Penyihir Licik - Siti Latifah

Pada suatu hari,  di hutan belantara hiduplah dua penyihir cantik bernama Veni dan Suri, Suri memiliki kekuatan yang begitu besar jauh di atas kemampuan Veni. Suatu hari, Veni menyadari bahwa kekuatannya sangatlah lemah, sehingga dia tidak terima dengan kenyataan itu, dia iri akan kekuatan Suri yang sangat besar dan berniat jahat kepadanya. Suatu hari, Veni mengajak Suri untuk pergi ke gunung untuk menguji kekuatan mereka karena setiap tahun naga mereka akan menguji kekuatan mereka untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penyihir terhebat di dunia, tak disangka Veni telah menyiapkan perangkap untuk Suri di atas gunung adalah sebuah kuali yang bolong dan buku yang salah, sehingga ketika Suri ingin meracik kekuatannya dia akan gagal karena terbuang keluar dari kuali dan gagal mengikuti ujian tersebut. Karena kekuatan Suri lebih hebat dari pada Veni, Suri telah menyadari hal tersebut terlebih dahulu dan diam-diam menambal kuali tersebut dengan kekuatan fantastis dan dia tidak m...

Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025 - Anindhia Ramadhani

Suryalaya, (KANSAS).-   Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan acara diseminasi yang bertempat di hotel Grand Metro, Kota Tasikmalaya pada hari Senin, (13/10/2025).  Acara tersebut dihadiri oleh anggota DPR RI Komisi X  Bapak Ferdiansyah, SE., MM., Sekretaris Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bapak  Dr. Ganjar Harimansyah, S.S. M.Hum. dan Ibu Dr. Herawati, S.S., M.A. sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat . Acara ini diselenggarakan dengan tujuan menguatkan literasi kebahasaan dan kesusastraan guru-guru, dosen, pelajar, dan para pegiat literasi di Kota Tasikmalaya. Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025” membuka pandangan baru tentang pentingnya peran bahasa dan literasi di tengah derasnya arus globalisasi. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas dan jati diri bangsa. Namun, di era digital yang serba cepat, kesadaran masyarakat—terutama generasi muda—terhadap pentingnya literasi...