Bunyi kelakson merangsak ke telinga setiap orang di dekat APIL. Mereka resah, hitungan waktu lampu hijau segera usai. Kebiasaan yang dialami oleh mereka, orangtua yang mengantar anaknya sekolah, remaja harapan keluarga, hingga para pejabat. Ibu jari pengendara mulai gatal kebelet memencet tombol klakson, mengingat hitungan waktu lampu merah cukup lama. 720 detik tidak mau mereka sia-siakan. Setiap orang yang menunggu memajang dahi tampak mengerenyit, senyuman manis hanya dilontarkan oleh wajah-wajah di baliho yang berderet di bahu jalan, walaupun mereka sama-sama bertempur, mengejar apa yang diinginkan.
Bagaimana jika orang biasa sepertiku memajang foto wajah, seperti
orang-orang di baliho. Menempelnya di setiap dinding, tiang listrik, bahkan di
tempat ibadah. Mungkin perkara mudah untuk sekadar mencetak banyak selebaran.
Namun, apakah aku harus memasangnya sendiri?
-
Suatu akhir pekan, aku berada di suasana seperti biasanya. Berkumpul dengan
kerabat di salah satu warung kopi. Segelas cangkir kopi hitam dan rokok
ketengan, itu saja yang kupesan setiap berkunjung ke sana. Badrul, kawanku,
akhir-akhir ini ia amat sibuk. Berdandan rapi, katanya, biar terlihat berwibawa
kalau bertemu orang. Tubuhnya yang tinggi-tegap tampak apik diterapi jas dan
dasi. Aku bertanya pada Bi Inah, pemilik warung kopi dengan nada pelan, “Bi, si
Badrul akhir-akhir ini jarang terlihat. Biasanya ia tiap malam, mengajakku mampir ke sini.” Usut punya usut, setelah aku
berbincang dengan Bi Inah, ternyata Badrul menjadi salah satu tim sukses untuk
salah satu caleg di daerah kami.
Tahun ini, ia terpilih sebagai ketua karang taruna baru. Kebetulan, ada
seorang juragan kayu di tempat kami yang diusung menjadi caleg oleh salah satu
partai. Nasib mujur bagi Badrul, untuk melancarkan agenda politisnya, ia
direkrut menjadi tim sukses. Mendengar salah satu orang tersohor dijadikan
caleg, semua warga berdecak kagum. Mereka menaruh harapan besar, banyak sudut
yang perlu diperindah di daerah kami. Apalagi Nek Asih, wanita paruh baya tinggal
di rumah berbilik, berharap juragan itu bisa membantu memperbaiki keadaannya.
-
Tak disangka, di saat merebahkan badan di tempat tidur, ketika ibu jariku
sibuk mengusap layar telepon genggam, muncul notifikasi panggilan dari Badrul.
Ternyata ia masih mengingatku. Kerabat yang selalu menemaninya di warung kopi
dan bermain catur walaupun tidak fasih, malah cenderung asal-asalan.
Perangainya tampak menyebalkan kala menyebut “Skak!”.
Selama satu jam, kami berbincang perihal pencalonan sang juragan. Acap kali
ia memuji orang itu habis-habisan. Ia mendesakku untuk setuju akan segala yang
diucapakan. Di akhir panggilan, Badrul memintaku untuk terlibat. Entah benar
atau tidak, tapi saat itu, aku berharap ini benar. Semua yang dikatakan Badrul
akan terwujud, aku mengaharapkan itu.
-
Jauh dalam pikiranku harus mematuhi apa yang ia katakan. Badrul, sekonyong-konyong menjadi seorang tuan kecil dan aku seorang pelayan. Mengemban tugas yang tak cukup sulit, tetapi berat. Aku hanya perlu menyatroni pikiran-pikiran orang di kampung. Badrul tak memberitahuku bagaimana caranya. Mendekati seorang lansia dan orang miskin, tentu itu bukan masalah besar. Kata Badrul, mereka hanya cukup diiming-imingi kesejahteraan. Nanti, mendekati pemilihan, Badrul akan menitipkan amplop berisi uang. Tak banyak, menurutku. Namun, bagi mereka yang membutuhkan, amplop ini bagai surat cinta yang dikirim seorang pujangga pada kekasihnya.
Hari pertama aku bertugas, dimulai di warung kopi yang biasa kusambangi. Bi
Inah, meski aku tahu ia tidak begitu menyukai sosok juragan. Mengingat anaknya
pernah dituduh mencuri kayu di halaman rumahnya. Namun, saat ini ia menjadi
orang pertama yang kususupi, pikirannya ku jejali sosok juragan. Pun setiap
orang yang datang ke warung, tentu ku ajak berbincang perihal pencalonan
juragan. Sebagian orang antusias, dan yang lainnya tampak sibuk dengan urusan
masing-masing. Satu hal yang sering ku tekankan pada mereka, sebuah kalimat
manis, “Juragan akan membuat kampung ini lebih baik, dan kalian akan hidup
sejahtera.”
-
Berita perseteruan warga kampung mulai merebak, nama juragan terseret dalam
kasus ini. Badrul kalang kabut, ini di luar dugaan. Segala yang kulakukan tak
berbuah baik. Pikiran oran-orang yang membenci juragan tak mudah goyah. Para
pecinta juragan pun membela calon itu setengah mati.
Aku tak bisa menyalahkan Badrul, karena ia adalah orang yang memintaku
melalukan ini. Namun, cukup megejutkan. Tuan itu mengarahkan segala kekacuan
padaku. Memercikan tinta merah di keningku, memicu ribuan pasang pandang
perlahan menggerogoti citraku di masyarakat.
Bi Inah tak pernah sudi lagi menerima kedatanganku. Bahkan, seorang warga
mengajak yang lain untuk mengusirku dari kampung ini. Ingin hati meluapkan
segala kekesalan yang kurasakan. Umpatan-umpatan ini tertahan di tenggorokan.
Jika itu terjadi, bukan hanya meninggalkan kampung ini, mungkin kehidupanku pun
akan selesai. Bukan perkara sulit menyingkirkan orang biasa sepertiku.
-

Komentar
Posting Komentar