Langsung ke konten utama

Kasir Kedai - Indra Rahayu




Berpikir ia telah mati, mungkin dapat mengusir pria itu dari kepalaku. Rasanya, itu lebih menenangkan, daripada menanggung gelisah, karena berpikir ia meminang si jalang di tempat sana. Di ruangan yang bergeming bak biara, bersama setumpuk surat, kesepian memagut tubuh yang mulai kering kerontang.

Mustahil kebencian itu akan tumbuh walau setitik. Sambangi rumah ku seperti biasa, meskipun kau benar-benar mati. Datanglah, lakukan apa yang kau mau. Seperti menyelinap ke kamar tidur, saat kau tahu hanya ada nafas kita berdua di rumah. Menanti dahaga. di mataku, sungai ini tak pernah berhenti mengalir.

·          

Janggal, apa yang telah terjadi? Dari kejauhan, memandang ia melangkah lebih cepat dari biasanya. Ini bukanlah bahaya. Sudah pasti, ini bukan kabar buruk. Aku tak merasa cemas sedikitpun. Sangat jelas, ia tersenyum.

Kala berhadapan, tanpa basa-basi, ia berkata "Minggu depan aku akan mulai bekerja."

Anak remaja laki-laki di daerahku, masing-masing dari mereka, mendambakan pekerjaan di luar kota, bahkan di pulau yang berbeda. Konon, keinginan itu muncul sebab terjadi secara turun-temurun. Tatkala menginjak usia remaja, mereka bergegas meninggalkan keluarganya. Berharap menjuakan nasib.

·          

Sebab lusa kau akan pergi merantau, aku memintamu singgah lebih lama malam ini. Sesekali, aku melirik hidangan yang disuguhkan. Memastikan apakah masih terisi atau tidak. Ini gelas kopi yang kedua. Lumayan, itu bisa menahanmu, mengulur waktu pulang.

Keheningan melalap suara bising. Suaramu, walau pelan, merangsak ke telinga. Tidak mungkin salah dengar. Kau berjanji, kelak, setelah kembali dari tanah jawa, akan menikahi ku.

"Mungkin kita akan terbiasa berbalas surat." Ia berkata, tangannya tak lepas dari genggaman. Aku bergurau, bahwa semoga petugas pengantar surat itu tidak bosan datang ke rumah, menyampaikan surat dari sepasang kekasih yang berjauhan.

·          

Ini kali pertama membaca surat yang kau kirimkan. Sebelum surat ini sampai di tanganku, gelisah bukan main. Bagaimana jika percakapan kita saat itu hanya omong kosong. Mungkin tidak ada satu pun surat yang datang. Namun, suara pengantar surat memecah kegelisahan. Tanpa menunggu waktu lama, surat segera dibaca.

 

"Untung saja aku belajar mengurus diri ketika di rumah. Jika tidak, tentu akan kewalahan. Tidak ada Ibu di sini, pun seorang kekasih ..."

·          

Tak semua perkataan mesti dihiraukan. Sebelum pergi, banyak orang berkata bahwa kesetiaan diuji ketika berjauhan. Jauh dalam pikiran untuk membunuh janjiku pada Rita, di malam itu. Tangan penuh keringat, bibir yang gemetar ketika mengucap janji. Mana mungkin kejadian itu akan mudah pupus.

Belum pernah aku luput mengirim surat. Bahkan, surat-surat yang telah dibaca tertata rapi di dalam laci.

Terakhir, surat itu ku baca di sebuah kedai. Di akhir pekan, beberapa kawan mengajak keluar rumah, untuk sekedar mampir ke kedai kopi. Usai membaca surat, pandanganku beralih ke meja kasir. Seorang teman menyadari apa yang terjadi. Ia menggamit pundakku seraya berkat "Aku mengenal wanita itu. Kau mau tahu?" Ia memberitahuku bahwa wanita itu adalah anak sang pemilik kedai.

Jika kau berpikir kecantikan perempuan itu yang membuatku tertarik, itu salah besar. Ia tampak muram, dahinya mengerenyit, mulutnya tak henti menimpali perkataan dari orang lain. Entah siapa dan apa yang membuatnya menjadi seperti itu.

Satu persatu lampu kedai padam, suara pelanggan lain kian lenyap. Hanya ada kami, pemuda yang sedari tadi berbincang. Sebelum lampu terakhir padam, kami memutuskan untuk mengakhiri perbincangan. Tampaknya bukan hanya cahaya di kedai yang mulai redup. Raut wajah perempuan itu, Rita, pun kehilangan cahayanya.

Kali ini, aku kembali ke kedai. Namun, memilih untuk pergi sendiri, tanpa satu pun seorang kawan. Lagi-lagi pandanganku mengarah pada Rita. Sekali lagi aku tekankan, ini bukan karena parasnya yang cantik. Wajahnya tampak kecut, senyuman yang ia lempar pada para pelanggan kehilangan ketulusan.

Setelah bekerja seharian, hingga lupa mengisi perut, aku memesan semangkuk soto ayam di kedai. Seingatku, hanya ada tiga orang pekerja di kedai ini yaitu, Rita, seorang anak remaja yang seperti masih sekolah, dan pria paruh baya, ayah dari Rita yang merupakan pemilik kedai. Anak remaja itu seperti tak pernah bekerja di dapur. Pemilik kedai pun hanya duduk di meja kasir. Bukan kasir, tetapi sekedar memberi perintah. Aku sangat yakin, semua masakan di kedai ini dimasak oleh Rita.

Kepulan menyeruak dari pintu dapur, hinggap di hidung para pelanggan. Orang-orang di kedai terpantau biasa aja. Mungkin hanya aku. Hanya aku yang merasa harum masakan itu amat berkecamuk di kepala. Menguak kerinduanku pada Ibu. Persis, serupa berada di rumah. Tiap mencium wewangian ini, segera aku mematung di lawang dapur.

Hidangan itu telah tiba di mejaku. Di antar anak remaja itu. Sebelum ia beranjak, aku berujar "Tolong sampaikan pada orang yang memasak soto. Terima kasih telah membawaku pulang."

Usai menyantap hidangan, aku menuju meja kasir. Kali ini, tetiba mataku menyusuri juntai rambut wanita itu. Semakin ke ujung, makin menyusut ingatanku pada Wina. Malam ini, aku harus membayarkan uang lebih. Sebagian untuk semangkuk soto, sisanya untuk menebus rasa rindu.

·          

Bukan perempuan itu, tetapi apa yang ia hidangkan membuatku tiap malam singgah di kedai. Hingga pada malam ini, aku mulai akrab dengan pemilik kedai. Semua tentang diriku telah ia ketahui, kecuali, Wina. Perempuan yang kutinggalkan, mungkin bisa benar-benar kutinggalkan. Jika kau berpikir tujuanku datang ke kedai hanya untuk menyantap semangkuk soto, tentu sangat keliru. Ada tujuan yang lain. Ingat, pemilik kedai itu sudah mengetahui segalanya. Kecuali tentang Wina.

Terkadang ketika aku kembali ke rumah, Rita memberi sekantung soto, gratis. Acapkali sebelum aku meninggalkan kedai, ia mengantarku sampai ke bahu jalan dan memintaku meninggalkan jejak bibir di keningnya.

·          

Petugas pengantar surat itu tak terlihat lagi. Bunyi bel sepeda yang membuatku beranjak dari kursi nyaman. Bahkan, terjaga dari tidur siang, kini tak pernah ada lagi. Surat terakhir yang ia antar, berisi puisi dari seorang penyair tua terkenal. Aku tahu itu. Pria itu berusaha terlihat bagai seorang pujangga. Mungkin pengantar surat itu lupa arah ke rumahku. Ah, tidak begitu. Mungkin ia gak lagi bertugas di kota ini. Pun, mungkin, pria itu telah mati. Seharusnya, orang yang penuh cinta sepertinya, tidak mudah mati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indra Rahayu - Kongkalikong

  Di bawah lampu redup, dalam sangkar yang tergantung di halaman rumah, burung berbulu indah itu tercenung. Menatap gelap langit, cahaya bulan bersembunyi di balik awan malam itu. Hanya terdengar suara kentungan, yang dibunyikan untuk menandai bahwa waktu sudah pukul dua dini hari.   “Esok, aku ingin orang yang memeliharaku hilang ingatan dan lupa bahwa ia memiliki burung yang cantik.” Bergumam, keinginannya untuk mati meluap. Ia tak pernah benar-benar ingin meninggalkan tubuh indahnya. Namun, ironi yang diderita akan lebih indah jika burung itu mati karena dilupakan.   -   Sial, aku terbangun lagi. Aku membenci ketika mataku terbuka di setiap pagi, dan apa yang kulihat dalam terjaga adalah dunia yang berisi orang-orang gila. Cahaya pagi menyuruk, mengampiri mataku. Memaksa untuk beranjak dari tempat tidur. Aku tak mau pergi dari tempat ini, biar debu-debu dari setiap sudut ruangan ini terus kuhirup, aku menunggu sampai benar-benar sesak. Kem u dian,...

Cerita Fantasi: Penyihir Licik - Siti Latifah

Pada suatu hari,  di hutan belantara hiduplah dua penyihir cantik bernama Veni dan Suri, Suri memiliki kekuatan yang begitu besar jauh di atas kemampuan Veni. Suatu hari, Veni menyadari bahwa kekuatannya sangatlah lemah, sehingga dia tidak terima dengan kenyataan itu, dia iri akan kekuatan Suri yang sangat besar dan berniat jahat kepadanya. Suatu hari, Veni mengajak Suri untuk pergi ke gunung untuk menguji kekuatan mereka karena setiap tahun naga mereka akan menguji kekuatan mereka untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penyihir terhebat di dunia, tak disangka Veni telah menyiapkan perangkap untuk Suri di atas gunung adalah sebuah kuali yang bolong dan buku yang salah, sehingga ketika Suri ingin meracik kekuatannya dia akan gagal karena terbuang keluar dari kuali dan gagal mengikuti ujian tersebut. Karena kekuatan Suri lebih hebat dari pada Veni, Suri telah menyadari hal tersebut terlebih dahulu dan diam-diam menambal kuali tersebut dengan kekuatan fantastis dan dia tidak m...

Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025 - Anindhia Ramadhani

Suryalaya, (KANSAS).-   Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan acara diseminasi yang bertempat di hotel Grand Metro, Kota Tasikmalaya pada hari Senin, (13/10/2025).  Acara tersebut dihadiri oleh anggota DPR RI Komisi X  Bapak Ferdiansyah, SE., MM., Sekretaris Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bapak  Dr. Ganjar Harimansyah, S.S. M.Hum. dan Ibu Dr. Herawati, S.S., M.A. sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat . Acara ini diselenggarakan dengan tujuan menguatkan literasi kebahasaan dan kesusastraan guru-guru, dosen, pelajar, dan para pegiat literasi di Kota Tasikmalaya. Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025” membuka pandangan baru tentang pentingnya peran bahasa dan literasi di tengah derasnya arus globalisasi. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas dan jati diri bangsa. Namun, di era digital yang serba cepat, kesadaran masyarakat—terutama generasi muda—terhadap pentingnya literasi...