Berpikir ia telah mati, mungkin dapat mengusir pria itu dari kepalaku. Rasanya, itu lebih menenangkan, daripada menanggung gelisah, karena berpikir ia meminang si jalang di tempat sana. Di ruangan yang bergeming bak biara, bersama setumpuk surat, kesepian memagut tubuh yang mulai kering kerontang.
Mustahil
kebencian itu akan tumbuh walau setitik. Sambangi rumah ku seperti biasa,
meskipun kau benar-benar mati. Datanglah, lakukan apa yang kau mau. Seperti
menyelinap ke kamar tidur, saat kau tahu hanya ada nafas kita berdua di rumah. Menanti
dahaga. di mataku, sungai ini tak pernah berhenti mengalir.
·
Janggal,
apa yang telah terjadi? Dari kejauhan, memandang ia melangkah lebih cepat dari
biasanya. Ini bukanlah bahaya. Sudah pasti, ini bukan kabar buruk. Aku tak
merasa cemas sedikitpun. Sangat jelas, ia tersenyum.
Kala
berhadapan, tanpa basa-basi, ia berkata "Minggu depan aku akan mulai
bekerja."
Anak
remaja laki-laki di daerahku, masing-masing dari mereka, mendambakan pekerjaan
di luar kota, bahkan di pulau yang berbeda. Konon, keinginan itu muncul sebab
terjadi secara turun-temurun. Tatkala menginjak usia remaja, mereka bergegas
meninggalkan keluarganya. Berharap menjuakan nasib.
·
Sebab
lusa kau akan pergi merantau, aku memintamu singgah lebih lama malam ini.
Sesekali, aku melirik hidangan yang disuguhkan. Memastikan apakah masih terisi
atau tidak. Ini gelas kopi yang kedua. Lumayan, itu bisa menahanmu, mengulur
waktu pulang.
Keheningan
melalap suara bising. Suaramu, walau pelan, merangsak ke telinga. Tidak mungkin
salah dengar. Kau berjanji, kelak, setelah kembali dari tanah jawa, akan
menikahi ku.
"Mungkin
kita akan terbiasa berbalas surat." Ia berkata, tangannya tak lepas dari
genggaman. Aku bergurau, bahwa semoga petugas pengantar surat itu tidak bosan
datang ke rumah, menyampaikan surat dari sepasang kekasih yang berjauhan.
·
Ini
kali pertama membaca surat yang kau kirimkan. Sebelum surat ini sampai di
tanganku, gelisah bukan main. Bagaimana jika percakapan kita saat itu hanya
omong kosong. Mungkin tidak ada satu pun surat yang datang. Namun, suara
pengantar surat memecah kegelisahan. Tanpa menunggu waktu lama, surat segera
dibaca.
"Untung
saja aku belajar mengurus diri ketika di rumah. Jika tidak, tentu akan
kewalahan. Tidak ada Ibu di sini, pun seorang kekasih ..."
·
Tak
semua perkataan mesti dihiraukan. Sebelum pergi, banyak orang berkata bahwa
kesetiaan diuji ketika berjauhan. Jauh dalam pikiran untuk membunuh janjiku
pada Rita, di malam itu. Tangan penuh keringat, bibir yang gemetar ketika
mengucap janji. Mana mungkin kejadian itu akan mudah pupus.
Belum
pernah aku luput mengirim surat. Bahkan, surat-surat yang telah dibaca tertata
rapi di dalam laci.
Terakhir,
surat itu ku baca di sebuah kedai. Di akhir pekan, beberapa kawan mengajak
keluar rumah, untuk sekedar mampir ke kedai kopi. Usai membaca surat,
pandanganku beralih ke meja kasir. Seorang teman menyadari apa yang terjadi. Ia
menggamit pundakku seraya berkat "Aku mengenal wanita itu. Kau mau
tahu?" Ia memberitahuku bahwa wanita itu adalah anak sang pemilik kedai.
Jika
kau berpikir kecantikan perempuan itu yang membuatku tertarik, itu salah besar.
Ia tampak muram, dahinya mengerenyit, mulutnya tak henti menimpali perkataan
dari orang lain. Entah siapa dan apa yang membuatnya menjadi seperti itu.
Satu
persatu lampu kedai padam, suara pelanggan lain kian lenyap. Hanya ada kami,
pemuda yang sedari tadi berbincang. Sebelum lampu terakhir padam, kami
memutuskan untuk mengakhiri perbincangan. Tampaknya bukan hanya cahaya di kedai
yang mulai redup. Raut wajah perempuan itu, Rita, pun kehilangan cahayanya.
Kali
ini, aku kembali ke kedai. Namun, memilih untuk pergi sendiri, tanpa satu pun
seorang kawan. Lagi-lagi pandanganku mengarah pada Rita. Sekali lagi aku
tekankan, ini bukan karena parasnya yang cantik. Wajahnya tampak kecut,
senyuman yang ia lempar pada para pelanggan kehilangan ketulusan.
Setelah
bekerja seharian, hingga lupa mengisi perut, aku memesan semangkuk soto ayam di
kedai. Seingatku, hanya ada tiga orang pekerja di kedai ini yaitu, Rita,
seorang anak remaja yang seperti masih sekolah, dan pria paruh baya, ayah dari
Rita yang merupakan pemilik kedai. Anak remaja itu seperti tak pernah bekerja
di dapur. Pemilik kedai pun hanya duduk di meja kasir. Bukan kasir, tetapi
sekedar memberi perintah. Aku sangat yakin, semua masakan di kedai ini dimasak
oleh Rita.
Kepulan
menyeruak dari pintu dapur, hinggap di hidung para pelanggan. Orang-orang di
kedai terpantau biasa aja. Mungkin hanya aku. Hanya aku yang merasa harum
masakan itu amat berkecamuk di kepala. Menguak kerinduanku pada Ibu. Persis,
serupa berada di rumah. Tiap mencium wewangian ini, segera aku mematung di
lawang dapur.
Hidangan
itu telah tiba di mejaku. Di antar anak remaja itu. Sebelum ia beranjak, aku
berujar "Tolong sampaikan pada orang yang memasak soto. Terima kasih telah
membawaku pulang."
Usai
menyantap hidangan, aku menuju meja kasir. Kali ini, tetiba mataku menyusuri
juntai rambut wanita itu. Semakin ke ujung, makin menyusut ingatanku pada Wina.
Malam ini, aku harus membayarkan uang lebih. Sebagian untuk semangkuk soto,
sisanya untuk menebus rasa rindu.
·
Bukan
perempuan itu, tetapi apa yang ia hidangkan membuatku tiap malam singgah di
kedai. Hingga pada malam ini, aku mulai akrab dengan pemilik kedai. Semua
tentang diriku telah ia ketahui, kecuali, Wina. Perempuan yang kutinggalkan,
mungkin bisa benar-benar kutinggalkan. Jika kau berpikir tujuanku datang ke
kedai hanya untuk menyantap semangkuk soto, tentu sangat keliru. Ada tujuan
yang lain. Ingat, pemilik kedai itu sudah mengetahui segalanya. Kecuali tentang
Wina.
Terkadang
ketika aku kembali ke rumah, Rita memberi sekantung soto, gratis. Acapkali
sebelum aku meninggalkan kedai, ia mengantarku sampai ke bahu jalan dan
memintaku meninggalkan jejak bibir di keningnya.
·
Petugas pengantar surat itu tak terlihat lagi. Bunyi bel sepeda yang membuatku beranjak dari kursi nyaman. Bahkan, terjaga dari tidur siang, kini tak pernah ada lagi. Surat terakhir yang ia antar, berisi puisi dari seorang penyair tua terkenal. Aku tahu itu. Pria itu berusaha terlihat bagai seorang pujangga. Mungkin pengantar surat itu lupa arah ke rumahku. Ah, tidak begitu. Mungkin ia gak lagi bertugas di kota ini. Pun, mungkin, pria itu telah mati. Seharusnya, orang yang penuh cinta sepertinya, tidak mudah mati.
Komentar
Posting Komentar