Langsung ke konten utama

Pembentukan Karakter Plus dalam Pendidikan Di Madrasah - Indra Rahayu





Hadirnya sekolah-sekolah yang berbasis keagamaan atau yang biasa dikenal masyarakat awam sebagai madrasah (RA, MI, MTs, MA) tanpa mendiskreditkan lembaga pendidikan lain, madrasah dapat menjadi alternatif upaya pembentukan karakter peserta didik yang sangat efektif, dibantu dengan inklusifitas mata pelajaran keagamaan seperti aqidah akhlak, fikih, dsb. Di era globalisasi saat ini berpengaruh pada intensitas masyarakat, terutama remaja dalam menggunakan internet di kehidupan sehari-hari. Setiap orang akan sangat mudah mendapatkan informasi dan mendapatkan akses ke semua fitur yang tersedia. Apa yang ada di dunia digital tentu tidak semua berdampak positif bagi masyarakat khususnya kalangan peserta didik. Mata pelajaran keagamaan yang diterapkan pada peserta didik mampu menjadi sarana untuk memandu dan mengorganisir suatu tindakan yang dilakukan oleh peserta didik, dan akan membentuk karakter religius para peserta didik.

Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh peserta didik dalam menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral, karena itu seorang guru berkewajiban menjadi contoh perilaku atas terlaksananya sikap dan perilaku religius bagi peserta dik. Dengan menjunjung tinggi nilai religius seorang guru akan mudah memperkenalkan, membiasakan dan menanamkan value yang unggul dan mulia kepada siswa. Karena saat ini bukan intelegensi dan prestasi akademik yang membuat SDM berdaya saing, handal dan tangguh, tetapi nilai-nilai religius. Untuk meningkatkan religiusitas, seseorang harus bisa mengendalikan hawa nafsunya. Dalam hal ini seseorang harus mempunyai kecerdasan, gunanya adalah sebagai tolak kuat ia mengambil sikap atau tindakan, contoh kecerdasan tersebut ialah ESQ (Emotional Spiritual Quotient) atau kecerdasan emosional dan spiritual.

 

ESQ Bagian dari Karakter Plus dalam Pendidikan di Madrasah

                Ary Ginanjar Agustian dalam (Tasmara, 2001, 11) melahirkan sebuah istilah yang segar berupa pemahaman dan pendalaman kedua inti, rukun Iman dan rukun Islam. Ia memberi nama ESQ (emosional and spiritual quotient), atau kecerdasan emosional dan spiritual. Kecerdasan spiritual, yakni suatu kecerdasan yang bukan hanya tertumpu pada kualitas manusiawi (kognitif, afektif, dan psikomotor) seperti halnya yang diterjemahkan oleh psikolog barat, Benyamin Bloom, tetapi juga bertumpu pada nilai-nilai ke-Tuhanan (transenden). Kecerdasan seperti ini akan menjadikan kekuatan moralitas yang berpihak dan hanya akan terus berpihak secara konsisten pada nilai-nilai keuniversalan. Kecerdasan spiritual merupakan fenomena baru yang lahir di abad XXI. Fenomena kehadiran aliran spiritual yang bermakna spirit atau semangat, lahir di era modern dan menyimbolkan dirinya sebagai new age , net thought, dan religion science.

                  Di mana peserta didik bisa mendapat peluang untuk menumbuhkan kecerdasan emosional dan spiritual atau ESQ? Pendidikan di madrasah menjadi jawabannya. Peserta didik akan mendapat kapasitas lebih dalam hal religiusitas yang menunjang dalam peningkatan kecerdasan emosi dan spiritual. Di Madrasah khususnya pada tingkat menengah atas yaitu, Madrasah Aliyah, peserta didik terbagi menjadi beberapa peminatan atau jurusan sama dengan di sekolah-sekolah menengah atas yang lain. Namun, selain mempelajari mata pelajaran inti yang terkait dengan jurusan yang dipilih, IPA, IPS dan mata pelajaran umum, terdapat upaya pemenuhan kapasitas spiritualitas. Pemenuhan tersebut disalurkan melalui mata pelajaran keagamaan yaitu, Aqidah Akhlak, Fiqih, Tlmu Tafsir, dan al Quran dan Hadist.

                Kecerdasan spiritual juga mampu menciptakan kehidupan bermakna sebagai refleksi dari kebahagiaan hidup seseorang. IQ dan EQ tidak mampu mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan hakiki, karena keduanya lebih bersifat material dan duniawi. Mengejar hal-hal yang materi dan syahwat tidaklah pernah memberikan ketenangan dan kepuasan bagi seseorang dalam hidup dan kehidupannya. Hal ini karena sifat materi itu adalah temporer (sementara). Bertumpu pada material semata tidak mampu menjadi seseorang bahagia atau mengalami hidup bermakna. Kearifan seseorang tercermin melalui sikap kejujuran, keadilan, toleransi, keterbukaan, penuh cinta, dan kekasihsayangannya terhadap sesama tanpa memandang sekat-sekat yang bersifat eksklusif (Puluhulawa, 2013, 141).

 

  Tarbiyah Ruhiyah bagi karakter peserta didik

                 Kekayaan ilmu pengetahuan mampu memberikan banyak terobosan atau alternatif untuk mempermudah dan memperbaiki kehidupan di dunia, bidang pendidikan menjadi salah satu yang terkena dampaknya. Selain definisi pendidikan yang kita kenal yaitu, berkaitan dengan tujuan mengubah tingkah laku, mengembangkan potensi dan membentuk kualitas individu dengan sadar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pada bentuk yang lain terdapat jenis pendidikan yang berorientasi pada penguatan jiwa, berakhlak mulia, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pendalaman aspek-aspek spiritual tersebut bermuara dalam pendidikan rohani atau tarbiyah ruhaniyah.

                Pendidikan Ruhani ini menuntun para peserta didik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan atau biasa disebut ma’rifatullah. Kecerdasan emosional dan spiritual atau ESQ menjadi dasar atau fondasi yang digunakan dalam proses pendidikan ruhani. Di madrasah pola pendidikan semacam itu bukanlah warna baru, melainkan sudah menyatu dan menjadi bagian di keseharian. Pendidikan ruhani bukan objek pembahasan yang asing di telinga peserta didik, apalagi untuk peserta didik yang memilih jurusan keagamaan. Pintu gerbang menuju penguatan karakter pada peserta didik dapat ditempuh dengan berbagai cara. Misalnya ketika mereka menerima materi pada mata pelajaran SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), peserta didik dapat meneladani perilaku tokoh-tokoh dalam perjalanan sejarah islam. Kisah-kisah tentang sahabat nabi atau perilaku sahabat nabi dapat menjadi pemicu pembentukan karakter baik pada peserta didik. Di sekolah umum pun tentu ada pembahasan materi seperti demikian, tetapi pembedanya yaitu, pada segi intensitas dan kapasitas yang diberikan pada peserta didik.

Di madrasah kita dapat menemukan segala bentuk pengembangan potensi peserta didik. Tidak ada proses pembinaan yang dikesampingkan, intensitas penyampaian materi keagamaan tidak menggeser pengembangan kognitif siswa. Ketika kedua konsep pendidikan umum dan pendidikan rohani jika beriringan maka akan membuat peserta didik matang secara manusiawi dan rohani.  Kondisi ideal yang akan terbentuk adalah meminimalisasi kecemasan baik itu dari diri peserta didik maupun orang-orang di sekitarnya terhadap kemajuan zaman yang begitu pesat, dengan merawat ruh dan tidak membiarkannya layu, beradaptasi dalam suatu keadaan tentu bukanlah hal yang sulit dan menakutkan.

 

Metode pembentukan karakter plus di sekolah model: Madrasah Aliyah Serba Bakti Suryalaya

                Madrasah dari mulai tingkat dasar sampai tingkat atas di Indonesia telah memulai pembentukan karakter plus pada peserta didik, salah satu sekolah yang mengalami proses tersebut yaitu, Madrasah Aliyah Serba Bakti Suryalaya. Metode pembentukan karakter plus terealisasi lewat budaya yang diterapkan di sekolah, tentunya yang berkenaan dengan pendidikan ruhaniyah yang memberikan dampak perubahan karakter yang signifikan bagi para peserta didik.

                Pertama, pengaruh materi mata pelajaran keagamaan yang mengarahkan dan memberikan pertimbangan pada peserta didik untuk mengubah perilaku, menjauhi yang buruk dan selalu berusaha memperoleh yang terbaik.  Selain mata pelajaran keagamaan yang biasa ditemui di berbagai sekolah madrasah, Madrasah Aliyah Serba Bakti mengintegrasikan pandangan yang diterapkan di pondok pesantren ke pembelajaran di kelas. Mata pelajaran ini  dipelajari oleh semua siswa, dari kelas 10 – kelas 12, berisi tentang pengenalan TQN (Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah). Setiap amalan yang disampaikan pada peserta didik, mampu mengubah paradigma tentang kehidupan duniawi yang sementara.

                Kedua, pengaruh dari budaya religius di luar pembelajaran yang dialami oleh peserta didik. Penulis akan memberi gambaran aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik dalam pembentukan karakter plus. Budaya yang pertama yaitu, tawasul. Sebelum memulai pembelajaran, peserta didik melaksanakan apel pagi. Dalam rangkaian apel tidak hanya penaikan berbaris, menaikkan bendera dan mendengarkan sedikit prakata dari guru, melainkan peserta didik melaksanakan tawasul.

Tawasul artinya berperantara, dalam hal ini maksudnya adalah seorang Ikhwan TQN dianjurkan untuk bertawassul kepada Nabi Muhammad Saw. para sahabat dan para salafush shalihin dalam berdo’a. Budaya ini memungkinkan para peserta didik untuk menyadari bahwa setiap manusia harus memiliki kerendahan hati. Manusia harus menurunkan keangkuhannya, dan mencari wasilah atau perantara untuk membantunya mendekatkan diri pada Allah SWT. juga berpengaruh pada cara merawat hubungan dengan orang lain.

Budaya yang kedua yaitu, manaqib. Amalan yang dilaksanakan setiap bulan yakni pada tanggal 11 bulan hijriah oleh Pondok Pesantren Suryalaya, tentu para peserta didik diarahkan untuk mengikuti amalan tersebut karena gambaran perilaku-perilaku dari para Mursyid yang bisa mereka teladani. Manaqib berasal dari bahasa Arab naqoba, naqobu, naqban, yang arti yang berasal menyelidiki, melubangi, memeriksa, dan menggali. Kata manaaqib adalah jama’ dari manqibun yang merupakan isim makan dari lafaz naqoba (Perjalanan Spiritual Sulthon Auliya, 2003: 59). Amalan ini bertujuan untuk menyelidiki, menggali, dan meneliti sejarah kehidupan seseorang untuk selanjutnya disiarkan kepada masyarakat agar menjadi contoh dan suri tauladan. Dengan mengetahui perjalanan para Mursyid, tentu ini akan mampu mengubah karakter peserta didik.

                Peran madrasah dalam membentuk karakter peserta didik tentu berbeda dengan sekolah umum, maka dari itu penulis menamai proses ini sebagai pembentukan karakter plus (lebih). Lebih dalam arti ada penambahan dari yang biasanya. Penambahan yang terjadi membantu percepatan peningkatan kualitas karakter yang dimiliki oleh peserta didik. Pendidikan ruhani atau tarbiah ruhiyah menjadi faktor pendorong yang sangat efektif untuk membantu madrasah untuk menciptakan generasi yang cerdas dan berkarakter.

 

Daftar Pustaka:

Puluhulawa, C. W. (2013). Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual Meningkatkan Kompetensi Sosial Guru. Makara Human Behavior Studies in Asia, 17(2), 139-147, https://doi.org/10.7454/mssh.vl7i2.2957

Tasmara, T. (2001). Kecerdasan Ruhaniah. Jakarta: Gema Insani Press.

Zohar, D. (2002). Spiritual Intelligence The Ultimate Intelligence, trek. Rahmani Astuti, et.all. Bandung: Mizan

Agung, Purnomo. (2023). Konsep Pendidikan Rohani Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitab Ihya Ulumuddin.https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/68490/1/11160110000006

Abdullah, S. R, dkk. (2016). Pendidikan Karakter:Mengembangkan Karakter Anak yang Islami. Bandung: Bumi Aksara.

Herawati, W. L., & Mulyanratna, M. (2014). Studi Korelasi Antara Kecerdasan Emosional Spiritual (ESQ) dan Hasil Belajar Fisika Siswa Madrasah Aliyah Swasta (MAS) di Wilayah Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik. Inovasi Pendidikan Fisika, 3(2), 161-166)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indra Rahayu - Kongkalikong

  Di bawah lampu redup, dalam sangkar yang tergantung di halaman rumah, burung berbulu indah itu tercenung. Menatap gelap langit, cahaya bulan bersembunyi di balik awan malam itu. Hanya terdengar suara kentungan, yang dibunyikan untuk menandai bahwa waktu sudah pukul dua dini hari.   “Esok, aku ingin orang yang memeliharaku hilang ingatan dan lupa bahwa ia memiliki burung yang cantik.” Bergumam, keinginannya untuk mati meluap. Ia tak pernah benar-benar ingin meninggalkan tubuh indahnya. Namun, ironi yang diderita akan lebih indah jika burung itu mati karena dilupakan.   -   Sial, aku terbangun lagi. Aku membenci ketika mataku terbuka di setiap pagi, dan apa yang kulihat dalam terjaga adalah dunia yang berisi orang-orang gila. Cahaya pagi menyuruk, mengampiri mataku. Memaksa untuk beranjak dari tempat tidur. Aku tak mau pergi dari tempat ini, biar debu-debu dari setiap sudut ruangan ini terus kuhirup, aku menunggu sampai benar-benar sesak. Kem u dian,...

Cerita Fantasi: Penyihir Licik - Siti Latifah

Pada suatu hari,  di hutan belantara hiduplah dua penyihir cantik bernama Veni dan Suri, Suri memiliki kekuatan yang begitu besar jauh di atas kemampuan Veni. Suatu hari, Veni menyadari bahwa kekuatannya sangatlah lemah, sehingga dia tidak terima dengan kenyataan itu, dia iri akan kekuatan Suri yang sangat besar dan berniat jahat kepadanya. Suatu hari, Veni mengajak Suri untuk pergi ke gunung untuk menguji kekuatan mereka karena setiap tahun naga mereka akan menguji kekuatan mereka untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penyihir terhebat di dunia, tak disangka Veni telah menyiapkan perangkap untuk Suri di atas gunung adalah sebuah kuali yang bolong dan buku yang salah, sehingga ketika Suri ingin meracik kekuatannya dia akan gagal karena terbuang keluar dari kuali dan gagal mengikuti ujian tersebut. Karena kekuatan Suri lebih hebat dari pada Veni, Suri telah menyadari hal tersebut terlebih dahulu dan diam-diam menambal kuali tersebut dengan kekuatan fantastis dan dia tidak m...

Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025 - Anindhia Ramadhani

Suryalaya, (KANSAS).-   Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan acara diseminasi yang bertempat di hotel Grand Metro, Kota Tasikmalaya pada hari Senin, (13/10/2025).  Acara tersebut dihadiri oleh anggota DPR RI Komisi X  Bapak Ferdiansyah, SE., MM., Sekretaris Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bapak  Dr. Ganjar Harimansyah, S.S. M.Hum. dan Ibu Dr. Herawati, S.S., M.A. sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat . Acara ini diselenggarakan dengan tujuan menguatkan literasi kebahasaan dan kesusastraan guru-guru, dosen, pelajar, dan para pegiat literasi di Kota Tasikmalaya. Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2025” membuka pandangan baru tentang pentingnya peran bahasa dan literasi di tengah derasnya arus globalisasi. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas dan jati diri bangsa. Namun, di era digital yang serba cepat, kesadaran masyarakat—terutama generasi muda—terhadap pentingnya literasi...