Hadirnya sekolah-sekolah yang berbasis keagamaan atau yang biasa dikenal masyarakat awam sebagai madrasah (RA, MI, MTs, MA) tanpa mendiskreditkan lembaga pendidikan lain, madrasah dapat menjadi alternatif upaya pembentukan karakter peserta didik yang sangat efektif, dibantu dengan inklusifitas mata pelajaran keagamaan seperti aqidah akhlak, fikih, dsb. Di era globalisasi saat ini berpengaruh pada intensitas masyarakat, terutama remaja dalam menggunakan internet di kehidupan sehari-hari. Setiap orang akan sangat mudah mendapatkan informasi dan mendapatkan akses ke semua fitur yang tersedia. Apa yang ada di dunia digital tentu tidak semua berdampak positif bagi masyarakat khususnya kalangan peserta didik. Mata pelajaran keagamaan yang diterapkan pada peserta didik mampu menjadi sarana untuk memandu dan mengorganisir suatu tindakan yang dilakukan oleh peserta didik, dan akan membentuk karakter religius para peserta didik.
Karakter
religius ini sangat dibutuhkan oleh peserta didik dalam menghadapi perubahan
zaman dan degradasi moral, karena itu seorang guru berkewajiban menjadi contoh
perilaku atas terlaksananya sikap dan perilaku religius bagi peserta dik. Dengan
menjunjung tinggi nilai religius seorang guru akan mudah memperkenalkan,
membiasakan dan menanamkan value yang
unggul dan mulia kepada siswa. Karena saat ini bukan intelegensi dan prestasi
akademik yang membuat SDM berdaya saing, handal dan tangguh, tetapi nilai-nilai
religius. Untuk meningkatkan religiusitas, seseorang harus bisa mengendalikan
hawa nafsunya. Dalam hal ini seseorang harus mempunyai kecerdasan, gunanya
adalah sebagai tolak kuat ia mengambil sikap atau tindakan, contoh kecerdasan
tersebut ialah ESQ (Emotional Spiritual
Quotient) atau kecerdasan emosional dan spiritual.
ESQ Bagian dari Karakter Plus dalam Pendidikan di Madrasah
Ary Ginanjar Agustian dalam (Tasmara, 2001, 11)
melahirkan sebuah istilah yang segar berupa pemahaman dan pendalaman kedua
inti, rukun Iman dan rukun Islam. Ia memberi nama ESQ (emosional and spiritual quotient), atau kecerdasan emosional dan
spiritual. Kecerdasan spiritual, yakni suatu kecerdasan yang bukan hanya
tertumpu pada kualitas manusiawi (kognitif,
afektif, dan psikomotor) seperti halnya yang diterjemahkan oleh psikolog
barat, Benyamin Bloom, tetapi juga bertumpu pada nilai-nilai ke-Tuhanan (transenden). Kecerdasan seperti ini akan
menjadikan kekuatan moralitas yang berpihak dan hanya akan terus berpihak
secara konsisten pada nilai-nilai keuniversalan. Kecerdasan spiritual merupakan
fenomena baru yang lahir di abad XXI. Fenomena kehadiran aliran spiritual yang
bermakna spirit atau semangat, lahir di era modern dan menyimbolkan dirinya
sebagai new age , net thought, dan
religion science.
Di mana peserta didik bisa mendapat peluang
untuk menumbuhkan kecerdasan emosional dan spiritual atau ESQ? Pendidikan di
madrasah menjadi jawabannya. Peserta didik akan mendapat kapasitas lebih dalam
hal religiusitas yang menunjang dalam peningkatan kecerdasan emosi dan
spiritual. Di Madrasah khususnya pada tingkat menengah atas yaitu, Madrasah Aliyah,
peserta didik terbagi menjadi beberapa peminatan atau jurusan sama dengan di
sekolah-sekolah menengah atas yang lain. Namun, selain mempelajari mata
pelajaran inti yang terkait dengan jurusan yang dipilih, IPA, IPS dan mata
pelajaran umum, terdapat upaya pemenuhan kapasitas spiritualitas. Pemenuhan
tersebut disalurkan melalui mata pelajaran keagamaan yaitu, Aqidah Akhlak, Fiqih, Tlmu Tafsir, dan al
Quran dan Hadist.
Kecerdasan
spiritual juga mampu menciptakan kehidupan bermakna sebagai refleksi dari
kebahagiaan hidup seseorang. IQ dan EQ tidak mampu mengantarkan seseorang
kepada kebahagiaan hakiki, karena keduanya lebih bersifat material dan duniawi.
Mengejar hal-hal yang materi dan syahwat tidaklah pernah memberikan ketenangan
dan kepuasan bagi seseorang dalam hidup dan kehidupannya. Hal ini karena sifat
materi itu adalah temporer (sementara). Bertumpu pada material semata tidak
mampu menjadi seseorang bahagia atau mengalami hidup bermakna. Kearifan
seseorang tercermin melalui sikap kejujuran, keadilan, toleransi, keterbukaan,
penuh cinta, dan kekasihsayangannya terhadap sesama tanpa memandang sekat-sekat
yang bersifat eksklusif (Puluhulawa, 2013, 141).
Tarbiyah Ruhiyah bagi karakter peserta
didik
Kekayaan ilmu pengetahuan mampu memberikan
banyak terobosan atau alternatif untuk mempermudah dan memperbaiki kehidupan di
dunia, bidang pendidikan menjadi salah satu yang terkena dampaknya. Selain
definisi pendidikan yang kita kenal yaitu, berkaitan dengan tujuan mengubah
tingkah laku, mengembangkan potensi dan membentuk kualitas individu dengan
sadar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan diartikan sebagai proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pada bentuk yang
lain terdapat jenis pendidikan yang berorientasi pada penguatan jiwa, berakhlak
mulia, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pendalaman aspek-aspek
spiritual tersebut bermuara dalam pendidikan rohani atau tarbiyah ruhaniyah.
Pendidikan
Ruhani ini menuntun para peserta didik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan atau
biasa disebut ma’rifatullah.
Kecerdasan emosional dan spiritual atau ESQ menjadi dasar atau fondasi yang
digunakan dalam proses pendidikan ruhani. Di madrasah pola pendidikan semacam
itu bukanlah warna baru, melainkan sudah menyatu dan menjadi bagian di
keseharian. Pendidikan ruhani bukan objek pembahasan yang asing di telinga
peserta didik, apalagi untuk peserta didik yang memilih jurusan keagamaan.
Pintu gerbang menuju penguatan karakter pada peserta didik dapat ditempuh
dengan berbagai cara. Misalnya ketika mereka menerima materi pada mata
pelajaran SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), peserta didik dapat meneladani
perilaku tokoh-tokoh dalam perjalanan sejarah islam. Kisah-kisah tentang
sahabat nabi atau perilaku sahabat nabi dapat menjadi pemicu pembentukan
karakter baik pada peserta didik. Di sekolah umum pun tentu ada pembahasan
materi seperti demikian, tetapi pembedanya yaitu, pada segi intensitas dan
kapasitas yang diberikan pada peserta didik.
Di madrasah kita dapat menemukan segala bentuk
pengembangan potensi peserta didik. Tidak ada proses pembinaan yang
dikesampingkan, intensitas penyampaian materi keagamaan tidak menggeser
pengembangan kognitif siswa. Ketika kedua konsep pendidikan umum dan pendidikan
rohani jika beriringan maka akan membuat peserta didik matang secara manusiawi
dan rohani. Kondisi ideal yang akan
terbentuk adalah meminimalisasi kecemasan baik itu dari diri peserta didik
maupun orang-orang di sekitarnya terhadap kemajuan zaman yang begitu pesat,
dengan merawat ruh dan tidak membiarkannya layu, beradaptasi dalam suatu
keadaan tentu bukanlah hal yang sulit dan menakutkan.
Metode pembentukan karakter plus di sekolah model: Madrasah Aliyah
Serba Bakti Suryalaya
Madrasah dari mulai tingkat dasar sampai
tingkat atas di Indonesia telah memulai pembentukan karakter plus pada peserta
didik, salah satu sekolah yang mengalami proses tersebut yaitu, Madrasah Aliyah
Serba Bakti Suryalaya. Metode pembentukan karakter plus terealisasi lewat
budaya yang diterapkan di sekolah, tentunya yang berkenaan dengan pendidikan ruhaniyah yang memberikan dampak
perubahan karakter yang signifikan bagi para peserta didik.
Pertama, pengaruh materi mata pelajaran
keagamaan yang mengarahkan dan memberikan pertimbangan pada peserta didik untuk
mengubah perilaku, menjauhi yang buruk dan selalu berusaha memperoleh yang
terbaik. Selain mata pelajaran keagamaan
yang biasa ditemui di berbagai sekolah madrasah, Madrasah Aliyah Serba Bakti
mengintegrasikan pandangan yang diterapkan di pondok pesantren ke pembelajaran
di kelas. Mata pelajaran ini dipelajari
oleh semua siswa, dari kelas 10 – kelas 12, berisi tentang pengenalan TQN (Thariqah
Qadiriyah Naqsabandiyah). Setiap amalan yang disampaikan pada peserta didik,
mampu mengubah paradigma tentang kehidupan duniawi yang sementara.
Kedua, pengaruh dari budaya religius di
luar pembelajaran yang dialami oleh peserta didik. Penulis akan memberi
gambaran aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik dalam pembentukan karakter
plus. Budaya yang pertama yaitu, tawasul.
Sebelum memulai pembelajaran, peserta didik melaksanakan apel pagi. Dalam
rangkaian apel tidak hanya penaikan berbaris, menaikkan bendera dan
mendengarkan sedikit prakata dari guru, melainkan peserta didik melaksanakan
tawasul.
Tawasul
artinya berperantara, dalam hal ini maksudnya adalah seorang Ikhwan TQN
dianjurkan untuk bertawassul kepada Nabi Muhammad Saw. para sahabat dan para
salafush shalihin dalam berdo’a. Budaya ini memungkinkan para peserta didik
untuk menyadari bahwa setiap manusia harus memiliki kerendahan hati. Manusia
harus menurunkan keangkuhannya, dan mencari wasilah
atau perantara untuk membantunya mendekatkan diri pada Allah SWT. juga
berpengaruh pada cara merawat hubungan dengan orang lain.
Budaya yang
kedua yaitu, manaqib. Amalan yang
dilaksanakan setiap bulan yakni pada tanggal 11 bulan hijriah oleh Pondok
Pesantren Suryalaya, tentu para peserta didik diarahkan untuk mengikuti amalan
tersebut karena gambaran perilaku-perilaku dari para Mursyid yang bisa mereka
teladani. Manaqib berasal dari bahasa Arab naqoba,
naqobu, naqban, yang arti yang berasal menyelidiki, melubangi, memeriksa,
dan menggali. Kata manaaqib adalah jama’ dari manqibun
yang merupakan isim makan dari
lafaz naqoba (Perjalanan Spiritual
Sulthon Auliya, 2003: 59). Amalan ini bertujuan untuk menyelidiki, menggali,
dan meneliti sejarah kehidupan seseorang untuk selanjutnya disiarkan kepada
masyarakat agar menjadi contoh dan suri tauladan. Dengan mengetahui perjalanan
para Mursyid, tentu ini akan mampu mengubah karakter peserta didik.
Peran
madrasah dalam membentuk karakter peserta didik tentu berbeda dengan sekolah
umum, maka dari itu penulis menamai proses ini sebagai pembentukan karakter
plus (lebih). Lebih dalam arti ada penambahan dari yang biasanya. Penambahan
yang terjadi membantu percepatan peningkatan kualitas karakter yang dimiliki
oleh peserta didik. Pendidikan ruhani atau tarbiah
ruhiyah menjadi faktor pendorong yang sangat efektif untuk membantu
madrasah untuk menciptakan generasi yang cerdas dan berkarakter.
Daftar Pustaka:
Puluhulawa, C. W. (2013). Kecerdasan Emosional
dan Kecerdasan Spiritual Meningkatkan Kompetensi Sosial Guru. Makara Human Behavior Studies in Asia,
17(2), 139-147, https://doi.org/10.7454/mssh.vl7i2.2957
Tasmara, T. (2001). Kecerdasan Ruhaniah. Jakarta: Gema Insani Press.
Zohar, D. (2002). Spiritual Intelligence The Ultimate Intelligence, trek. Rahmani Astuti,
et.all. Bandung: Mizan
Agung,
Purnomo. (2023). Konsep Pendidikan Rohani Menurut Imam Al-Ghazali Dalam Kitab Ihya Ulumuddin.https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/68490/1/11160110000006
Abdullah, S.
R, dkk. (2016). Pendidikan
Karakter:Mengembangkan Karakter Anak yang Islami. Bandung: Bumi Aksara.

Komentar
Posting Komentar