Gema literasi baca-tulis sudah lama terdengar, tetapi efek dari
eksistensinya belum memberikan hasil yang memuaskan. Dilansir
kspstkendik.kemendikbud.go.id (2024) menyatakan bahwa skor membaca Indonesia
ada pada peringkat 71 dari 77 negara berdasarkan dari Programme for International Student Assessment (PISA). Tentu,
dengan angka yang didapat ini, kita tidak dianjurkan untuk berpuas diri. Geliat
untuk terus menggaungkan literasi-baca tulis harus terus diupayakan.
Penelusuran sebuah fenomena terkait kegemaran membaca, menyinggung sumber bacaannya. Niat meningkatkan daya literasi khususnya pada remaja yang ingin memulai membaca, perlu sikap adaptif dari para pegiat. Budaya dan perjalanan setiap orang berbeda-beda. Diah Pertiwi & Wati (2022) mengatakan bahwa seseorang dapat meningkatkan daya literasi dengan berlatih.
Jika seseorang
belum mampu membaca buku-buku “berat”, maka ia bisa membaca karya sastra ringan
atau bacaan yang digemari. Di zaman serba canggih, bacaan sangat muda kita
temui. Tidak seperti sebelum ingar bingar digital, sumber bacaan yang ditemui
hanya buku-buku cetak. Situs penyedia bacaan kian merebak, bahkan pemerintah
merilis dalam bentuk aplikasi yang bernama Ipusnas. Berbagai genre bacaan dapat
kita temukan. Lebih mudah bagi pembaca untuk menemukan bacaan yang digemari.
Salah satu bacaan ringan yang dikatakan pada kutipan sebelumnya adalah fiksi remaja. Konten yang dimuat dalam jenis fiksi remaja akan memantik gairah membaca untuk remaja terutama pembaca pemula. Cerita yang disajikan biasanya relevan dengan kehidupan pembaca. Misalnya, bagi pembaca yang berstatus siswa, menyukai cerita yang berlatar kehidupan di sekolah. Perasaan suka itu timbul karena dirasa apa yang dibaca pernah dialami. Meskipun fiksi remaja atau sastra remaja dianggap sebatas hiburan dan dipandang renda.
Namun, sebenarnya jenis
karya ini berada dalam berkedudukan sangat baik. Hal tersebut dibuktikan dalam
sebuah ungkapan, bahwa sastra hiburan tidak bisa dianggap rendah atau bahkan
salah. Novel hiburan yang muncul sejak zaman kekuasaan Belanda hingga
sesudahnya menjadi bagian terbesar dalam khazanah sastra Indonesia. Bahkan
sastra hiburan menjadi perantara periode sastra tahun 1965 dengan karya sastra
pada tahun 1970-an (Umami T dalam Teeuw, 1989).
Tidak sebatas menyentuh upaya seseorang untuk membaca, fiksi remaja mampu
membuat seseorang mengeksplorasi kreativitas dalam dirinya.
Penggugah minat baca
Semua orang pasti setuju membaca adalah aktivitas yang kita butuhkan, untuk membaca bacaan “serius” seperti buku-buku filsafat atau buku non fiksi, tidak semua orang langsung merasa nyaman dan menikmati bacaan tersebut. Selain melelahkan bagi pembaca pemula, unsur hiburan jarang ditemukan atau bahkan tidak memuat hal yang membuat pembaca terhibur.
Lalu, bagaimana cara membuat
pembaca pemula terutama di usia remaja agar tergugah untuk membaca? Novel teenlit atau fiksi remaja lebih disukai
karena cerita yang dituliskan relevan dengan remaja. Kisah dalam bacaan tidak
jauh berbeda dengan kehidupan nyata atau yang dialami (Umami T, 2013).
Kita pasti pernah menemukan bacaan dengan isi cerita yang dirasa relevan
dengan kehidupan yang dialami. Pembaca akan hanyut dalam bacaannya, dan
menyelesaikan cerita yang dibaca. Motivasi dari banyaknya pembaca sastra
hiburan atau fiksi remaja pun memicu hadirnya perbincangan anta penggemar. Dari
obrolan hangat yang terjadi, maka setiap pembaca akan berbagi referensi buku,
dan keinginan membaca buku yang lain akan terbentuk.
Kerap kali dalam beberapa buku sastra hiburan, walaupun kebanyakan
menuliskan kisah romansa, tetapi ada buku-buku yang menyisipkan poin-poin
penting, seperti sejarah bahkan ilmu pengetahuan. Poin-poin penting itu menjadi
mata rantai pada buku-buku yang dikatakan sebagai bacaan “berat”. Salah satu
pengarang fiksi remaja atau sastra pop ialah penulis asal Amerika, John ‘Michael’
Green. Salah satu karyanya yang berjudul Turtle
All the Way Down mengisahkan seorang remaja yang terlibat penyelidikan
dalam peristiwa kematian ayah temannya.
Akses kepenulisan remaja
Kesulitan menulis berkutat pada objek apa yang akan disampaikan. Penulis
pemula berangan-angan ingin membuat yang serupa dengan penulis-penulis hebat
yang bukunya mereka baca. Ketika penulis pemula mencoba untuk menuangkan
imajinasinya, tetapi kesulitan untuk menyamai penulis yang diidolakannya, maka akan
timbul perasaan tidak percaya diri.
Fiksi remaja atau sastra hiburan sebenarnya menstimulasi pada pemikiran
pembaca, bahwa untuk menulis bisa dimulai dari hal-hal di sekeliling kita. Tulis
fenomena di sekitar kita, interaksi sosial yang sering kita lihat sehari-hari
dengan penggunaan bahasa yang mudah dipahami. Banyak objek yang dapat dieksplorasi,
seperti kehidupan di sekolah, pergaulan di lingkungan sekitar, dan hubungan
keluarga. Kemudian, setelah melalui proses tersebut besar kemungkinan penulis
akan mencoba untuk mengolah informasi atau fenomena yang lain.
Situasi saat ini tidak membuat penulis kesulitan untuk mempublikasikan
karyanya. Apresiasi dari
pembaca tentu membuat penulis lebih termotivasi untuk menulis. Platform menulis
seperti fizzo dan wattpad memberi kesempatan pada semua
orang untuk menulis dan mencurahkan gagasannya (Diah Pertiwi & Wati, 2022).
Pada platform tersebut penulis akan mudah menemukan pembacanya. Tepat jika
dikatakan sebagai tempat berlatih untuk menulis. Penulis pemula dapat
menyebarkan karyanya ke khalayak luas pada platform tersebut.
Motivasi remaja lebih
ekspresif
Perasaan dan gagasan yang dipendam oleh seseorang, menimbulkan dampak buru secara psikologis. Orang-orang yang mengalami kendala dalam mengungkap perasaan atau segala hal yang berkelebat dalam pikiran, cenderung memiliki kendali emosional yang kurang baik. Sikap ekspresif dalam berperilaku dan berbahasa dibutuhkan oleh setiap orang, terutama para remaja.
Salah satu perilaku ekspresif yang dapat diterapkan oleh manusia adalah penguasaan kompetensi menulis ekspresif. Seperti yang dikatakan Afriani Ulfa (2018) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa emosi seseorang memiliki korelasi yang kuat dengan apa yang akan ditulis.
Ragam
emosi yang seorang penulis temukan dalam buku bacaannya atau yang sedang dirasakan
dapat menjadi acuan dalam penggambaran suasana. Apa yang sedang dirasakan oleh
seseorang kemudian diolah menjadi tulisan, seperti emosi kegembiraan, amarah,
rasa sedih dan emosi lainnya.
Selain menuangkan emosi, seseorang dapat menaruh aspirasi dalam tulisannya. Ragam pemikiran yang didapatkan dari berbagai sumber informasi akan menjadi manfaat, jika disampaikan kembali kepada orang banyak sebagai ilmu pengetahuan. Mengendapkan ide dan gagasan dalam kepala kita tentu bukanlah pilihan yang baik.
Selaras dengan apa yang disampaikan oleh Ngurah Surangga dalam Hernowo
(2005) bahwa aktivitas menulis dapat membantu seseorang untuk lebih mudah dalam
mengungkapkan gagasan. Selain itu, penulis dapat merekam setiap momen berharga,
menyebarkan informasi dan pengetahuan.
Menulis dan membaca bukanlah aktivitas yang eksklusif. Semua orang memiliki
kesempatan untuk menguasai kedua keterampilan berbahasa tersebut. Jika Anda
menemukan seseorang yang giat menggeluti bacaan, itu tidak serta merta dianggap
sebagai bakat atau bawaan dari lahir. Kelihaiannya dalam membaca, ia perolehi
dari proses yang cukup panjang. Fiksi remaja adalah anak tangga yang menjadi
pijakan pertama untuk menuju tingkat bacaan yang lebih tinggi.
Referensi
Umami, Tafrichatul. 2013. Resepsi
Pembaca di Kalangan Remaja SMP terhadap Novel Teenlit
Ngurah, Surangga, I. M. 2017. Mendidik
Lewat Literasi untuk Pendidikan Berkualitas
Diah, Pertiwi S.A & Wati, Rianna. 2022. Maraknya Platform Sastra Cyber Berdampak terhadap Dunia Literasi di Indonesia
Afriana, Ilfa S. 2018. Peranan
Aplikasi Wattpad dalam Mengasah Kemampuan Menulis
Nasional Kompas. 2011. Tradisi Menulis Lebih Rendah daripada Mina Baca. Diakses pada 27 Juli 2024. https://nasional.kompas.com/read/2011/11/23/10491011
.png)
Komentar
Posting Komentar